ILC Antara Debat Sehat dan Debat Kusir

350
Ilustrasi: Medium

Saat mengajar mata kuliah ‘Komunikasi’ dan “Personality Developtment”, saya kadang meminta mahasiswa untuk berdebat di depan kelas dengan tema yang sudah saya tentukan. Dari cara bicara mereka, saya tahu mahasiswa atau kelompok mahasiswa mana yang melakukan debat secara ilmiah dan profesional dan mana yang bertujuan asal menang.

Contoh kasus pertama: pokoknya ngeyel

T: Berapa jumlah kaki kuda?

J: Delapan!

T: Kok bisa?

J: Coba hitung dari depan ada berapa? Dua kan? Dari belakang? Dua. Dari samping kiri? Dua. Samping kanan? Dua. Kalau dijumlah? Delapan!

T: Terserah situ deh!

Contoh kasus kedua: debat pepesan kosong

Dua pengangguran (disingkat P) A dan B sedang duduk di pinggir kebun yang luas sambil mengobrol ‘ngalor ngidul, ngetan bali ngulon’?

PA: Seandainya, kebun ini milikmu, apa yang kamu lakukan?

PB: Akan saya tanami sayur mayur dan hasilnya saya jual ke supermarket. Kalau tanahmu?

PA: Saya akan ternak kambing. Kalau besar akan saya jual.

PB: Bagus juga, tapi kalau sampai kambingmu masuk kebunku dan makan sayurku, akan saya jadikan satu!

PA: Enak saja. Kalau kamu melakukan itu, kamu yang aku sate!

Pengangguran A dan B berkelahi hebat. Apa yang mereka perebutkan? Pepesan kosong, karena toh tanah itu bukan milik mereka. Hanya seandainya saja!

Tontonan yang seperti itu kadang bisa kita lihat di dalam acara debat di televisi, khususnya ILC terakhir yang menampilkan BEM dari kampus ternama dan Menkumham. Dengan nada galak tapi emosi yang terkenali, Yasona Laoly seperti memberi kuliah hukum kepada mahasiswa baru. Bagi yang ketinggalan bisa menyaksikannya via Youtube.

Kembali ke masalah debat, bagaimana sih cara debat yang sehat dan bermanfaat? The International Institute of Debate (iidebate.org) memberikan 9 prinsip debat yang baik.

Baca Juga:  PKI dan Reinkarnasi HTI

1. Questions or challenges should be professional. Insulting, condescending, or comments involving personal language or attacks are unacceptable.

Pertanyaan dan tantangan harus profesional dan bukan menghina atau menyerang secara pribadi. Kalau presiden dipertanyakan kerjanya karena kasus asap yang terus berulang setiap tahun, itu pertanyaan yang cerdas. Namun, kalau menuduh presiden PKI, itu penghinaan.

2. Critical analysis, synthesis, rhetorical skill, and wit are keys to debate success.

Analisa, sintesis, keterampilan berbicara di depan umum dan kecerdasan merupakan kunci debat yang sukses. Pengalaman dan jam terbang sangat menetukan di sini. Adian Yusak Yunus Napitupulu merupakan contoh yang baik.

3. Focus on the opposing side’s position or argument. Knowing the “other side” is critical for preparing strategies to refute your opponent’s arguments.

Selama debab berlangsung, kita perlu fokus kepada posisi dan argumentasi lawan debat. Tahu ‘sisi lain’ sangat penting untuk mempersiapikan strategi untuk mematahkan argumentasi lawan. Yasona jelas bukan lawan debat yang seimbang bagi mahasiswa. Dia lebih mengerti hukum. Proses penggodokan hukum inilah yang membuatnya mampu membungkam mahasiswa yang tentu saja belum sempat membaca draft hukum yang berlembar-lembar itu.

4. Limit your arguments to three or less.

Argumentasi yang kita lontarkan cukup tiga saja atau bahkan kurang dari itu. Kalau kebanyakan, kita jadi terlalu melebar dan gagal fokus.

5. Use logic to make your arguments. Present these arguments clearly and concisely.

Argumentasi kita harus masuk akal dan kita sampaikan dengan jelas dan akurat. Di samping menghindari bias, argumentasi yang tepat dan akurat membuat lawan debat susah mencari celah.

6. Know the common errors in thinking like logical fallacies and use them effectively in your refutation.

Hindari kesalahan berpikir dan gunakan itu untuk melakukan sanggahan. “Orang yang berkacamata itu orang yang cerdas karena juara satu di kelas saya berkacamata,” merupakan contoh logika berpikir yang salah.

Baca Juga:  Politik Dialektika Pilpres 2019

7. Present the content accurately. Only use content that is pertinent to your point of view and draw on support from authoritative sources.

Sajikan konten secara akurat dan mendukung sudut pandang Anda serta berasal dari data yang valid dari sumber resmi. Bukan hoaks.

8. Be certain of the validity of all external evidence presented for your arguments. Also, challenges to the validity of evidence should be made only on substantive grounds.

Sajikan data yang valid saja. Yang meragukan dan tidak substantif, gugurkan karena justru bisa dipakai lawan untuk menjatuhkan Anda.

9. Your rebuttal (or conclusion) in a debate is your final summary position. Use it as an opportunity to highlight important issues that indicate proof of your points or refute your opponent’s argument.

Simpan argumentasi terbaik Anda untuk menyanggah atau memberi kesimpulan sehingga apa yang Anda uraikan benar-benar merupakan pokok penting yang menopang seluruh argumentasi Anda sebelumnya.

Sebagai orang yang tidak suka berdebat, saya setuju dengan pemikiran Socrates: “When the debate is lost, slander becomes the tool of the losers.”

Dani Reynolds, lebih sadis lagi. “Intellectual can debate. Idiots just argue.” Setuju! Bagaimana pendapat Anda?