Rumah Bersama
Setiap tanggap 22 April, milyaran penduduk bumi ini memperingati sebuah perayaan kesadaran atas pentingnya kelestarian alam. Kesadaran untuk menjaga lingkungan demi keberlangsungan hidup setiap makhluk hidup. Kesadaran secara kolektif ini tentu bertujuan terciptanya sebuah kehidupan yang harmonis, damai, dan lebih baik dari masa-masa sebelumnya.
Kesadaran kolektif yang berbalut antara relasi dan interaksi sosial antar setiap makhluk merupakan dasar dari keberlanjutan hidup. Manusia, tumbuhan dan binatang akan saling memiliki ketergantungan untuk melangsungkan hidupnya. Tradisi dan inovasi sebagai bentuk transisi pergerakan makhluk untuk beradaptasi dalam mempertahankan eksistensi diri.
Maka, tak ayal dibutuhkan sebuah tempat tumbuh yang aman dan nyaman. Sebagai tempat tumbuh setiap makhluk, bumi bukan semata planet yang termasuk dalam bagian tatanan galaksi. Bumi juga bukan semata sebuah nama hunian yang memiliki siklus kehidupan. Bumi yang kita kenal adalah rumah bersama.
Selayaknya sebuah “Rumah Bersama”, bumi tentu mengalami masa bangun dan renovasi yang disesuaikan dengan tuntutan zaman serta kebutuhan para penghuninya. Lalu, seperti apakah idealnya bumi disebut rumah kita bersama?
Di masa primitif, banyak peninggalan prasejarah menunjukkan pola hidup manusia yang masih dekat dengan alam. Banyak manusia menempati goa yang berbentuk dari tumpukan batu dan endapan tanah yang keras sebagai tempat berlindung diri. Kemudian, zaman mulai beralih manusia cocok tanam dan tinggal di rumah pohon yang mulanya sebagai rumah transit atas perjalanan jauh. Beralih kemudian menjadi bangunan-bangunan rumah dan Gedung seperti yang kita kenal saat ini.
Begitulah keberlangsungan hidup manusia berproses sesuai zaman. Seperti yang belakangan terjadi bagaimana sektor industri sudah melekat dalam kelangsungan hidup manusia, pun menggeser pola kerja dan gaya hidup sebagai masyarakat industri. Kendati demikian, inovasi dan tradisi akan selalu melekat dalam kehidupan masyarakatnya tantangan yang harus dihadapi kita saat ini adalah bagaimana kelestarian alam itu tetap terjaga dan terawat secara alamiah. Bisakah hal ini terjadi? Tentu tidaklah mudah bagi masyarakat industri.
Eksploitasi alam dengan dalih menumbuhkan perekonomian masyarakat telah mengancam kelestarian alam tersebut. Sungai tercemar limbah pabrik dan sampah buangan manusia. Hutan terbakar dan penebangan pohon mengurangi ruang hidup makhluk lainnya. Perkotaan menjadi padat, kumuh dan jalanan macet. Polusi udara semakin tak terkendali. Bumi menjadi rusak.
Refleksi di Tengah Pandemi
Dalam perayaan yang ke-50 tahun kali ini, pentingnya setiap generasi mewariskan peradaban dengan sebuah refleksi. Sebagaimana disebutkan tadi bahwa Bumi merupakan “Rumah Bersama” bagi semua makhluk sudah sepatutnya kita jaga dan rawat bersama demi keberlangsungan hidup yang lebih baik. Tantangan masyarakat industri seolah mendapatkan ujiannya di tengah ancaman pandemi.
Pandemi Covid-19 secara tak langsung telah mengubah pola hidup manusia. Virus korona yang mewabah seluruh penjuru negeri menyadarkan kita semua betapa rumah yang kita huni juga membutuhkan masa pemulihan. Perlahan udara segar dan cuaca yang sangat bersahabat seolah menyapa setiap makhluk di tengah pandemi ini.
Pandemik telah mengajarkan kita semua, banyak hal yang berubah dari sebuah aktivitas yang tidak biasa. Banyak aktivitas manusia yang semakin terbatas, jumlah kendaraan yang terus berkurang, dan kesadaran tentang arti pentingnya menjaga kebersihan membentuk sebuah siklus kehidupan yang terkesan mirip kembali ke masa awal primitif. Bagaimana setiap manusia hanya pergi untuk berburu dan kemudian segera kembali.
Anjuran pemerintah untuk menerapkan bekerja dari rumah (work from home) serta menjaga jarak (social and physical distancing) telah membentuk sebuah peradaban baru. Sementara itu, inovasi juga turut membentuk pola hidup baru bagi masyarakat industri. Kini banyak pengguna media daring (dalam jaringan) dalam melakukan aktivitasnya. Hampir semua pekerjaan masyarakat industri membutuhkan akses internet.
Penerapan inilah yang kemudian membentuk siklus baru dalam kesadaran kolektif terhadap lingkungan hidup dan perubahan iklim. Semakin banyak manusia untuk memperbaiki gaya hidup yang lebih sehat, berolahraga, berkebun, dan mengurangi bepergian dengan kendaraan yang belum ramah lingkungan.
Masa Depan Kita
Sebagai salah satu dari 186 negara yang turut mendeklarasikan Perjanjian Iklim Paris, maka kita patut untuk turut aktif dalam melakukan aktivitas-aktivitas yang berkomitmen menurunkan emisi gas ke atmosfer sebagaimana target PBB pada tahun 2030.
Di tengah masa pandemi ini, kita berharap akan ada dampak baik untuk kelestarian lingkungan kita. Kualitas air dan udara bersih bisa kita rasakan kembali. Begitu juga keanekaragaman hayati dan segala pelestarian alam semoga tidak lagi terancam punah. Mengingat pentingnya manusia untuk tidak serakah atas nama industri dan gaya hidup modern.
Kepedulian masyarakat atas kebersihan diri akan menuntun masa depan kualitas hidup kita untuk selalu memikirkan keselamatan dan kesehatan antar sesama. Meskipun pandemi ini tidak banyak memberikan kesenangan bagi banyak manusia, namun tersirat bagaimana alam telah memaksa kita untuk turut andil memulihkan kondisi bumi sebagai “Rumah Bersama”.
Meskipun masih belum banyak pemerhati dan penggiat lingkungan hidup di Indonesia, masih belum ada kata terlambat untuk menjadikan Indonesia sebagai jantung dunia dapat kita wujudkan bersama dengan menyelamatkan Bumi kita dari segala bentuk pemanasan global dan pencemaran lingkungan.
Salam Lestari!
Indonesia Controlling Community
Menyukai ini:
Suka Memuat...