Kelestarian Tradisi Lebaran Ketupat di Gresik

21

SERIKATNEWS.COM – Tradisi Lebaran Ketupat atau Kupatan tujuh hari setelah perayaan Hari Raya Idul Fitri juga diperingati masyarakat Muslim yang ada di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Perayaan ini sama seperti edisi sebelumnya, perayaan Kupatan di Gresik kali ini juga banyak menampilkan potret warga masyarakat untuk lebih menjalin keakraban dan silaturahim dengan menikmati ketupat bersama-sama.

Salah satunya di Desa Ambeng-ambeng Watangrejo, Kecamatan Duduk Sampean, Gresik. Warga setempat datang berbondong-bondong ke masjid yang ada di desa tersebut dengan membawa ketupat, lepet, maupun aneka jajanan lain, untuk memperingati dan merayakan agenda kupatan.

“Ini sudah rutin setiap tahun, kami bawa kupat dan lepet yang dibuat sebelumnya ke masjid untuk kemudian berdoa bersama, baca tahlilan, baru kemudian dinikmati dengan makan bersama-sama,” ujar salah seorang warga, Sholeh (38), Rabu (12/6/2019), seperti dikutip dari kompas.com.

Dengan dipimpin oleh tokoh agama setempat, warga terlebih dulu membacakan doa dan tahlil untuk para arwah orang tua, pendahulu, maupun sesepuh desa, meminta kepada Yang Maha Esa supaya mendapatkan ampunan dari dosa.

Baru setelah tahlil dan doa-doa dipanjatkan, warga tak lantas pergi dan pulang meninggalkan masjid. Namun mereka sejenak menyempatkan diri untuk menikmati sajian ketupat, lepet, dan sajian aneka jajanan yang mereka bawa dari rumah sambil saling bercengkerama.

“Ini juga sebagai bentuk simbol rasa syukur kami kepada Allah atas karunia yang diberikan, juga menjadi fasilitas membangun kerukunan antar-sesama warga,” ucapnya.

Tumpeng Raksasa

Selain diperingati pada Rabu (12/6/2019) pagi, sebagian masyarakat di Gresik juga ada yang memperingati Kupatan pada Selasa (11/6/2019) malam, seperti yang dilakukan oleh warga Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik.

Di desa tersebut sedikit berbeda, lantaran tumpeng yang disajikan memiliki ukuran raksasa. Tumpeng tersebut berisi ribuan ketupat dan lepet, buah-buahan, sayuran, serta lauk-pauk, yang dibuat dengan bentuk berupa kerucut setinggi sekitar 2 meter.

Baca Juga:  Moeldoko Kenang Peristiwa Situjuah: Besar, Penting, dan Sakral

Hanya saja tumpeng ini tidak diperebutkan seperti biasa, namun khusus diperuntukkan bagi warga yang kurang mampu.

“Ada satu tumpeng besar, khusus untuk warga kurang mampu. Tapi juga ada ribuan ketupat lain, yang bisa dinikmati oleh warga secara bersama-sama. Ini sebagai bentuk keguyuban yang terjalin, antara pemerintah desa setempat dengan warganya,” tutur Kepala Desa Sekapuk, Abdul Halim, Selasa (11/6/2019) malam.

Dalam acara yang digelar di pendopo desa setempat tersebut, juga dijadikan sebagai media dalam bersilaturahim dan halalbihalal pasca-Lebaran.

Dengan seusai prosesi halalbihalal dan doa bersama, mulai dari kepala desa hingga perangkat desa dan para ketua RT (Rukun Tetangga) menghidangkan sajian dalam tumpeng raksasa tersebut kepada warga kurang mampu, serta tumpeng lain untuk warga setempat.

“Ini filosofinya adalah, kami sebagai pemerintah desa sebagai pelayan warga. Kami melayani seluruh warga yang hadir dalam kegiatan kali ini,” jelasnya.