Connect with us

Lifestyle

Kenali Cara Meminimalisir Potensi Bahaya Preeklampsia pada Ibu Hamil

Published

on

Ibu hamil (Ilustrasi: Liputan6)

SERIKATNEWS.COM – Kehamilan merupakan kebahagiaan bagi pasangan yang menginginkan keturunan. Secara ilmiah proses kehamilan merupakan suatu proses luar biasa yang sangat rumit mulai dari fertilisasi (bergabungnya sperma dan telur), menempelnya buah kehamilan di dalam rahim, tumbuh dan berkembangnya janin serta plasenta yang terkadang tidak semuanya dapat berjalan dengan lancar.

Didapatkan satu kondisi berbahaya. Meskipun cukup sering terjadi, tetapi masih belum terlalu dikenal. Kondisi ini spesifik hanya terjadi pada kehamilan yaitu preeklampsia.

Preeklampsia atau kondisi hipertensi (meningkatnya tekanan darah) yang terjadi pada saat kehamilan kadang dikenal juga dengan nama toxemia gravidarum/keracunan kehamilan. Meskipun penyebab pasti belum dapat dijelaskan, tetapi preeklampsia sering dihubungkan dengan adanya permasalahan plasenta. Oleh karena itu, preeklampsia terjadi pada paruh akhir kehamilan (di atas 20 minggu) atau setelah plasenta terbentuk di dalam rahim hingga 6 minggu setelah melahirkan.

“Kami menganggap serius masalah ini dari tahun ke tahun, demikian juga para dokter kandungan di seluruh dunia. Kami berharap para ibu hamil beserta pasangan dan keluarganya juga lebih menyadari bahayanya dengan mengenali gejalanya dan terbuka pada dokter kandungannya mengenai masalah kesehatan yang dialami. Dengan demikian, diharapkan kita bersama-sama bisa lebih meningkatkan awareness dan segera bergerak (act now, screen now) untuk mencegah terjadinya preeklampsia ini,” kata Ketua Himpunan Kedokteran Fetomaternal Surabaya yang juga Ketua Penurunan Angka Kematian Ibu Surabaya, Dr dr Agus Sulistyono SpOG(K) KFM, Jumat 21 Mei 2021.

Meskipun tidak semua mengenalinya, sebenarnya pre-eklampsia ini terjadi pada lebih dari 10 juta wanita di seluruh dunia dan berdampak pada lebih dari 2,5 juta persalinan pre-term (persalinan sebelum masanya). Data dari International Society for the Study of Hypertension in Pregnancy dan Preeclampsia Foundation mencatat bahwa pre-eklamsia mengakibatkan kematian ibu hingga sekitar 76 ribu disertai kematian 500 ribu bayi setiap tahunnya. Artinya, sekitar 10 persen atau 1 dari 10 ibu hamil ini akan mengalami preeklampsia dan 20 persen dari yang terdampak preeklampsia ini akan berhubungan dengan terjadinya persalinan preterm.

Baca Juga:  Kunir Putih Banyak Khasiat dan Harganya Murah

Keseriusan menghadapi preeklampsia ini sangat diperlukan, karena fakta menunjukkan kematian Ibu sebanyak itu secara disproporsional 99 persen terjadi di negara dengan pendapatan perkapital yang rendah (low-middle income countries). Angka Kematian Ibu (AKI) bukan hanya sebagai indikator kesehatan melainkan indikator kesejahteraan suatu negara, namun sayangnya AKI di Indonesia ini masih cukup tinggi atau sekitar 305 per 100 ribu kelahiran hidup dimana jumlah ini menjadi terbanyak kedua di wilayah ASEAN (tertinggi Laos, AKI: 357; terendah Singapore, AKI: 7).

“Diproyeksikan sekitar 14.640 Ibu hamil meninggal setiap tahunnya dan ini terjadi secara konstan (jumlah yang sama dengan sepertiga total kematian terkait Covid-19 di tahun 2020). Jika kita telaah lebih dalam lagi ternyata mayoritas penyebab kematian Ibu ini adalah preeklampsia (sekitar 33,07 persen),” ujar dr Manggala Pasca Wardhana, SpOG(K) dari Himpunan Kedokteran Fetomaternal Surabaya.

Hingga saat ini, belum ditemukan terapi ataupun obat untuk preeklampsia. Satu – satunya cara untuk menghentikan proses hipertensi dan kerusakan organ adalah dengan menyegerakan persalinan. “Sehingga sumber toksin/racun yang berasal dari plasenta tadi dapat dilahirkan, diselesaikan dan dampak kerusakan organ ibu hamil dapat dihentikan,” kata dr Nareswari Imanadha Cininta Marcianora, SpOG dari Himpunan Kedokteran Fetomaternal Surabaya.

Meski belum dapat diterapi, namun dr Cininta mengatakan bahwa preeklampsia dapat diprediksi melalui gejala berikut:

  • Memiliki riwayat tekanan darah tinggi sebelum hamil
  • Memiliki riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya
  • Memiliki penyakit tertentu: diabetes, gangguan ginjal dan penyakit autoimun seperti lupus, antifosfolipid
  • Obesitas (indeks masa tubuh kurang lebih 30 kg/m2)
  • Riwayat keluarga menderita preeklampsia
  • Hamil kembar dua atau lebih
  • Hamil pertama kali
  • Jarak kehamilan terakhir kurang lebih 5 tahun
  • Berusia diatas 40 tahun
Baca Juga:  Nikita Mirzani Beberkan Alasan Menolak Pernyataan dr Tirta Soal Masker

Apabila ibu hamil mengalami hal tersebut sebaiknya segera melakukan skrining risiko melalui tenaga kesehatan tempat pasien melakukan kontrol kehamilan (Act now, screen now).

Kebanyakan dari pasien yang mengalami preeklampsia tidak akan memberikan keluhan apa pun. Oleh karena itu, ibu hamil wajib memeriksakan tekanan darah secara rutin, agar mengetahui secara dini jika didapatkan hipertensi.

Jika ibu hamil sudah merasakan keluhan seperti pusing, pandangan kabur atau nyeri ulu hati dan sesak, umumnya kondisi ini identik dengan preeklampsia yang berat. Kemungkinan besar berdampak pada komplikasi, kecacatan atau bahkan kematian bagi ibu dan janin.

Secara umum penatalaksanaan preeklampsia pada kondisi berat adalah persalinan. Sering persalinan pada kondisi usia kehamilan yang masih dini diperlukan, sehingga timbul masalah lainnya yaitu meningkatnya pramaturitas yang menjadi faktor utama tingginya angka kematian bayi.

Beberapa penelitian juga menunjukkan dampak jangka panjang dari preeklampsia ini pada ibu tersebut. Antara lain meningkatnya risiko stroke, hipertensi, diabetes melitus, kelainan ginjal hingga kelainan jantung.

Kondisi di negara berkembang seperti Indonesia juga tidak terkecuali mendapatkan dampak yang cukup berat akibat preeklampsia. Salah satu penelitian di RS rujukan tersier Surabaya menunjukkan tingginya prevalensi preeklampsia hingga 21 persen, dan yang lebih berat lagi ditemukan kondisi komplikasi organ yang cukup berat yaitu penumpukan cairan di paru-paru hingga 5,6 persen kasusnya atau 2 kali lipat dari laporan negara lain. Ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan penanganan preeklampsia di negara kita masih belum baik sehingga masih sering ditemui kasus preeklampsia dalam kondisi yang sudah buruk.

Tindakan kesehatan yang paling penting dan memiliki dampak signifikan adalah prevensi atau pencegahan. Peningkatan edukasi kesehatan di bidang kehamilan ini dapat menjadi upaya pencegahan terjadinya preeklampsia sebagai salah satu komplikasi kehamilan yang berat.

Baca Juga:  5 Selebritas Indonesia yang Berhasil Menurunkan Berat Badan di Atas 20 Kg

Beberapa contoh upaya pencegahan ini telah dibuktikan di Surabaya melalui program PENAKIB (Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi). Dengan menerapkan skrining preeklampsia secara masif di layanan kesehatan dapat menurunkan angka kematian Ibu dari 60 kasus di tahun 2012 hingga hanya 25 kasus di tahun 2019. Total kematian karena preeklampsia juga dapat ditekan dari 18 kasus menjadi hanya 10 kasus.

Tentunya upaya pencegahan ini akan semakin berhasil jika pengetahuan dan awareness ini juga diketahui oleh bumil ataupun pasangan usia subur dan keluarganya sehingga bagaimana melakukan persiapan kehamilan, mengetahui apa potensi bahaya kehamilan seperti preeklampsia ini dapat dicegah dan diminimalisir dampaknya.

“Dengan memahami potensi bahaya yang dapat terjadi pada setiap kehamilan, kita bersama dapat meningkatkan kewaspadaan dan berjuang bersama untuk menurunkan angka kematian Ibu di Indonesia,” tutup Dr dr Agus Sulistyono SpOG(K) KFM.

Advertisement
Advertisement

Terkini

News27 menit ago

Program Kartu Prakerja Sudah Jalani Audit Inspektorat Kementerian, BPK, BPKP, hingga Taati Saran KPK

SERIKATNEWS.COM – Pelaksanaan Program Kartu Prakerja telah menjalani audit, reviu dan evaluasi oleh Inspektorat Jenderal Kemenko Perekonomian, Inspektorat Jenderal Kementerian...

Ekonomi37 menit ago

Program Kartu Prakerja Atasi Tiga Masalah Utama Ketenagakerjaan Indonesia

SERIKATNEWS.COM – Kondisi ketenagakerjaan Indonesia sebelum masa pandemi Covid-19 ditandai dengan tiga hal yang sangat menonjol. Yakni, rendahnya produktivitas kerja,...

News56 menit ago

Kesiapan UGM Sambut Peserta CBT UM

SERIKATNEWS.COM – Sebanyak 36.470 peserta mengikuti Computer Based Test Ujian Masuk Univeritas Gadjah Mada (CBT-UM UGM) 2021 hari pertama yang...

News21 jam ago

Brigjen Pol Sukawinaya Jabat Sestama BNN, JARRAK: Sosok Penuh Prestasi

SERIKATNEWS- Sebanyak 12 pejabat Badan NarkotikaNasional (BNN) RI yang terdiri dari pimpinan tinggipratama, administrator, dan penyidik madya dilantiksekaligus melakukan sumpah...

News22 jam ago

PLN Apresiasi Ditjen Minerba dan 48 Pemasok Batu Bara Jaga Keandalan Listrik 

SERIKATNEWS.COM- PLN mengapresiasi dukungan pemerintah dan 48 mitra pemasok batu bara dalam penyediaan bahan bakar pembangkit demi menjaga keandalan pasokan...

News1 hari ago

Sanggar Belajar: Tingkatkan Semangat Literasi Desa melalui Edukasi Alternatif

SERIKATNEWS.COM- Pemuda Jatiurip menyelenggarakan edukasi Alternatif dunia literasi. Program Dunia literasi yang dijalankan ini sesuai dengan program Karang Taruna Desa...

Olahraga1 hari ago

Dukung Ajang PON XX di Papua, PLN Siapkan Perkuatan Keandalan Listrik 

SERIKATNEWS.COM- PLN siap menyukseskan gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua yang akan digelar Oktober mendatang. Progres pekerjaan kelistrikan untuk...

Populer

%d blogger menyukai ini: