Connect with us

Sosial-Budaya

Ketum PBNU Ajak Para Santri Refleksikan Kembali Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

Published

on

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj saat memberikan Amanah Hari Santri 2021 di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat (22/10). (Foto: Istimewa)

SERIKATNEWS.COM – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj mengingatkan bahwa Islam di Indonesia pada dasarnya bersifat dinamis karena tidak berwajah tunggal dan selalu terbuka.

Hal tersebut disampaikan Said Aqil Siradj saat menyampaikan Amanah Hari Santri 2021: 1.000 Khatmil Qur’an pada malam Malam Puncak Amanat Hari Santri Nasional (HSN) 2021, yang ditayangkan secara langsung dan serentak melalui 500 lebih akun Youtube dan Facebook pada Jumat (22/10) malam.

Said Aqil Siradj dalam kesempatan tersebut juga mengajak para santri untuk merefleksikan kembali sejarah masuknya peradaban Islam di Indonesia yang saat itu kebudayaan Hindu dan Buddha telah mewarnai hampir seluruh aspek kehidupan.

Kiai Said mengingatkan, islamisasi yang terjadi kala itu tumbuh melalui proses sosial budaya yang terjadi secara bertahap. “Namun uniknya, penyebaran Islam yang demikian cepat tidak mengindikasikan adanya cara-cara paksaan atau penaklukkan agama. Proses islamisasi nusantara tidak memunculkan pemisahan tegas antara Islam dan non-Islam, sebaliknya tradisi lokal Hindu, Budha dan Islam saling mengisi,” lanjutnya.

Dengan mengutip firman Allah, Said Aqil Siradj mengatakan bahwa setiap umat memiliki kebanggaannya masing-masing, baik itu bahasa, agama, maupun seni budayanya. Untuk itu, setiap orang harus saling menghormati dan tidak saling mencaci.

Islamisasi Awal Para Wali di Indonesia

Tak boleh dilupakan, bahwa sejarah menggambarkan karakter Islam yang dibawa oleh pendakwah tidak menekankan aspek hukum fikih semata, melainkan juga karakter sufi yang kuat sehingga masalah moral akhlak dan hakikat agama menjadi perhatian ulama Islam tasawuf.

“Islam sufi atau sufistik menekankan prinsip pokok agama seperti hubungan dengan Tuhan, menyempurnakan akhlak, dan keseimbangan hidup tanpa meninggalkan aspek syariat Islam,” kata Aqil Siradj.

Baca Juga:  Indonesia Optimis Wujudkan Akselerasi Transformasi Digital

Karakter inilah yang menurutnya menjadikan proses islamisasi menjadi lentur, namun berdampak bagi masa depan. Keluwesan itu dapat dilihat dari sikap para wali yang tidak melarang pertunjukan wayang sekalipun itu merupakan hasil karya pujangga Hindu, melainkan memodifikasi alur cerita dan memaknai kembali simbol dan karakter dalam narasi yang disampaikan.

Kelenturan lainnya, semisal dalam aspek politik di mana wali dan ulama terdahulu tidak membangun subordinat kekhalifahan Islam sebagaimana di Timur Tengah, melainkan meneguhkan kekuasaan penguasa lokal dengan mengangkat mereka sebagai pemimpin agama di wilayah masing-masing.

Keterbukaan para wali dalam menerima keragaman budaya pada akhirnya melahirkan pola pemahaman Islam yang kaya dan beragam. Namun bagaimana keterbukaan dan keberagaman itu dimaknai hari ini?

Islam di Indonesia Hari Ini, Refleksi di Hari Santri

Said Aqil Siradj menegaskan bahwa Islam di Indonesia tidak pernah berkembang secara seragam. “Munculnya keragaman dalam penghayatan Islam merupakan keniscayaan sosiologis dari proses interaksi kultural. Setiap kelompok dari berbagai strata sosial dan subkultur memiliki kekuasaan mengekspresikan pemahamannya sendiri. Hasilnya, masing-masing kelompok dengan sendirinya terdorong untuk bersikap moderat dalam beragama,” ujarnya.

Ia menggarisbawahi, sumbangan penting dari metode dakwah para wali dan ulama terdahulu adalah model keberagamaan yang plural, terbuka dan toleran terhadap peradaban Islam Nusantara yang sangat besar. “Bahkan bisa dikatakan, ketika sikap beragama ini merupakan pilar kebudayaan santri Indonesia, berlandaskan prinsip pluralitas, keterbukaan dan toleransi, maka Indonesia akan mampu membentuk paham keislaman yang sangat kaya, tidak hanya terbatas pada model keberagamaan di Timur Tengah,” tandasnya.

Saat ini, umat Islam di Indonesia masih menemui tantangan dengan munculnya kalangan yang mempertentangkan kesesuaian tradisi tertentu dengan Islam. Inilah yang melahirkan lahirnya sikap menghakimi suatu tradisi dengan vonis sesat, syirik, bidah, bahkan kafir. Sikap ini merupakan hambatan serius bagi kemajuan kebudayaan di Indonesia.

Baca Juga:  Guru dan Santri Sebagai Pelopor Moderasi Beragama di Lingkungan Pesantren dan Masyarakat

“Sebuah bangsa akan lestari, langgeng, dan abadi karena ketinggian peradaban dan kebudayaannya. Ketika peradaban dan budaya mereka dekaden, maka bangsa itu akan lenyap dan sirna,” ujar Said Aqil Siradj.

Nasionalisme Religius ala Indonesia

Dalam kesempatan tersebut, Said juga menanggapi isu pendirian khilafah dan pemecah-belah kelompok beragama yang masih terus diwacanakan. “Di sinilah upaya menjaga momentum Hari Santri dalam rangka menghidupkan komitmen hubungan antar agama dan negara harus dimaknai, diharapkan menjadi jembatan bagi arah baru transformasi politik dimana aspek-aspek terkait dengan negara Islam diakhiri,” katanya.

Yang wajib dilakukan oleh umat Islam khususnya ulama dan santri adalah meneguhkan nasionalisme yang substansial. “Yaitu menegakkan politic civic seperti kesejahteraan, keadilan, kecerdasan kehidupan berbangsa. Isu-isu ini sudah seharusnya menjadi concern bagi elit pemerintahan dan tokoh agama,” terang Said Aqil Siradj.

Terakhir, beliau menekankan kembali bahwa komitmen luhur pendiri bangsa Indonesia yang terus dipertahankan adalah kepercayaan bahwa Indonesia bukan negara agama dan bukan negara sekuler, melainkan negara yang berdiri tegak berlandaskan prinsip religiusitas tanpa pelembagaan agama atau menjadikan agama sebagai konstitusi formal.

“Kebangsaan dan sistem kenegaraan NKRI dewasa ini bisa digambarkan dengan kata sederhana yakni nasionalisme religius yang bercita-cita mewujudkan kesejahteraan, kemajuan, dan keadilan,” tandasnya.

Mengutip Imam Ghozali, Said Aqil Siradj mengingatkan, kerusakan atau kehancuran agama dari orang yang membelanya tapi tidak dengan cara yang benar lebih besar dari kerusakan agama dari orang jelas-jelas memusuhi Islam. (*)

Advertisement
Advertisement

Terkini

News1 jam ago

Dikukuhkan, PB PMII Tuntut PMII Probolinggo Miliki Multi Skill

PROBOLINGGO,- Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Probolinggo Raya dilantik, Jum’at (3/12/2021) siang. Prosesi pelantikan digelar di...

News1 jam ago

Kemendag Pastikan Pasokan Kedelai Cukup untuk Natal 2021 dan Tahun Baru 2022  

JAKARTA – Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan memastikan ketersediaan kedelai untuk bahan baku tempe dan tahu dalam negeri...

Hari Disabilitas Internasional Hari Disabilitas Internasional
Sosial-Budaya4 jam ago

UIN SUKA Jogja Jadi Tuan Rumah Puncak Peringatan Hari Disabilitas Internasional

SERIKATNEWS.COM – Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta jadi tuan rumah acara puncak peringatan Hari Disabilitas Internasional, dengan...

News6 jam ago

Sejumlah Wilayah di Jrengik Sampang Terendam Banjir

SERIKATNEWS.COM – Banjir menggenangi sejumlah wilayah di Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, Jumat, 03 Desember 2021. Banjir terjadi...

Sosial-Budaya6 jam ago

Kemendikbudristek Komitmen Sukseskan Program Digitalisasi Pendidikan

SERIKATNEWS.COM – Kemendikbudristek menyampaikan komitmen untuk selalu menyukseskan program digitalisasi sekolah. Cakupannya tidak hanya memperluas akses terhadap teknologi, tetapi juga...

Ekonomi6 jam ago

Raup Untung dari Limbah Patin

SERIKATNEWS.COM – Industri pengolahan perikanan menyisakan limbah berupa tulang, kulit, sirip, kepala, sisik, jeroan, maupun cairan. Limbah tersebut diperkirakan memiliki...

Olahraga21 jam ago

Live Streaming MU Vs Arsenal

SERIKATNEWS.COM – Manchester United (MU) vs Arsenal tersaji dalam lanjutan Liga Inggris. Laga ini berlangsung di Old Trafford, Jumat (3/12/2021),...

Populer

%d blogger menyukai ini: