Si bocah itu berlari ke arah bapakya. Si bapak pun dengan sigap menyambut tubrukan yang dilakukan anaknya. Dan si kecil pun langsung dipeluk begitu menubruk bapaknya. Si kecil meronta-ronta ketika ayahnya ingin mencium pipinya. Pagi itu, sepulang salat Idulfitri, bapak dan anaknya terlihat berlarian saling berkejaran. Keduanya tampak bahagia sekali.
“Ayo le ndang tangi (Ayo nak buruan bangun)”, bentak sang bapak. “Kamu kan mau salat Idulfitri.” Tanpa banyak bicara, sang bapak membawa segayung air dingin langsung diguyurkan ke wajah anaknya. Byur…!!! Wajah anak itu pun basah diikuti baju dan tempat tidurnya. Dengan langkah lemas dan masih terkantuk-kantuk, si anak langsung mandi. Bentakan yang setiap hari hampir menjadi menu sarapan setiap hari.
Kini, si anak sudah besar. Si anak sudah berkeluarga, mapan, dan memiliki dua anak perempuan dan satu anak laki-laki. Si anak kangen dan merindukan bentakan dan guyuran air dingin ketika membangunkannya. Namun, itu tidak mungkin terjadi lagi. Bapaknya sudah tiada empat bulan yang lalu. Sungguh si anak ini merasa kehilangan sang idolanya, sosok yang mengajarkan kalimat basmalah. Seorang bapak yang teramat disiplin, tegas, keras, tapi juga penyayang.
Kerap si anak ini merenung tentang sosok bapaknya. Begitu baik dan begitu cerdas bapak mendidiknya. Pada awalnya, semua terasa pahit, getir, dan seakan membuat muntah. Namun, si anak berusaha bertahan dari gempuran ketegasan bapaknya. Si anak berusaha menaati perintah bapaknya meskipun sering dirinya dibuat bingung. Seakan bertanya-tanya mengapa bapak begitu tega kepada anaknya?
Dentuman lebih keras lagi kami rasakan pasca ibu meninggalkan kami, engkau berusaha menjadi bapak sekaligus ibu buat kami, kerja kerasmu kini telah kami rasakan.
Lebaran tidak dibelikan baju baru. Si anak cuma disediakan nasi putih dan sambel korek serta air putih. Si anak tidak diberi uang saku. Si anak hanya bisa menerima keadaan itu dengan menangis. Kesedihan yang menyayat hati karena kekerasan yang dilakukan bapaknya. Namun, sang bapak ternyata bertujuan baik. Sang bapak ingin memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada sang anak akan arti sebuah perjuangan hidup.
Bapak, empat bulan engkau telah meninggalkanku, meninggalkan kami sekeluarga. Bapak, Aku merindukanmu. Aku merindukan pertanyaan-pertanyaan dan perintah-perintah yang sering membuatku bingung. Pertanyaan yang teramat sulit dijawab karena aku masih belum bisa membahagiakanmu. Aku belum mampu memaknai pertanyaan itu. Sungguh pertanyaan itu memiliki jawaban yang luar biasa hebat karena anakmu baru mampu menjawab pertanyaan itu saat ini, saat engkau telah meninggalkanku untuk selamanya.
Bapak, aku merindukan perintah-perintahmu. Perintah agar aku selalu ingat akan perintah-Nya. Jika aku membandel, engkau langsung memarahiku dan rotan tak segan langsung melayang di badanku. Aku merindukan hukumanmu jika aku lalai menunaikan salat lima waktu. Engkau langsung memukul atau menjewer telingaku hingga memerah. Aku rindu wejanganmu memaknai akan hidup, menaknai akan pentingnya menjalin silaturrahmi.
Bapak, aku rela diperlakukan seperti itu. Aku ikhlas. Justru aku kangen agar engkau berkenan melakukannya lebih keras lagi. Kini, anakmu sudah besar. Anakmu sudah beranak.
Ketika mudik telah tiba, cucumu selalu bilang “Hore, pulang ke rumah Kakung”. Mendengar kalimat itu, deraian air mata yang terus meleleh jika aku mengingat pertanyaan-pertanyaan cucumu. Namun, di depan cucumu aku berusaha tegar.
Bapak, aku kangen. Kangen sekali! Lebaran tahun ini kami merayakan tanpamu lagi. Tidak ada lagi omelan-omelan dan celotehan mendidik darimu. Meskipun beragam kue dan makanan lezat berjejer di meja, aku tidak berhasrat karena hasratku hanya satu: Aku kangen bapak. Aku tidak berselera karena pikiranku selalu tertuju kepadamu.
Bapak, apakah engkau merasakan kerinduan seperti kami rasakan, yang dirasakan anakmu? Apakah engkau merayakan lebaran di “sana”? Dengan siapa ayah merayakan lebaran? Apakah di “sana” disediakan makanan lezat-lezat seperti di sini? Apakah bapak merasakan kebahagiaan di “sana”? Semoga bapak merayakan, menikmati makanan yang lezat, merasakan kebahagiaan bersama Ibu, Mas Munib dan mbak Anis di alam sana.
Aku yakin, bapak pasti rindu juga kepada anakmu. Aku yakin bahwa bapakku juga merayakan lebaran di “sana”. Aku yakin bahwa bapak merayakan lebaran bersama dengan keluarga kita bersama Ibu, Mas Munib, Mbak Anis serta orang-orang baik. Aku yakin bahwa bapak menikmati hidangan nan lezat pemberian-Nya. Dan aku yakin bahwa bapak merasa bahagia di sisi-Nya. Karena aku yakin bahwa bapak adalah bapak yang baik, bertanggung jawab, saleh, dan layak menjadi teladan bagi anakmu.
Hanya doa sebagai anak yang mampu saya ucapkan. Selamat hari lebaran bapak. Di mana pun saat ini bapak berada, semoga Allah menempatkan bapak dalam keadaan terbaik. Bahagia dan tenang.
Ampuni segala dosa dan khilaf alm. Bapak, Ibu, Mas Munib dan Mbak Anis selama hidup, ya Allah. Jauhkan mereka dari siksa kubur dan api neraka. Lapangkanlah kuburnya, terangilah kuburnya. Tenteramkan dan tenangkanlah mereka dan tempatkanlah mereka di surga-Mu.
Bapak, Ibu, Mas Munib dan Mbak Anis, selamat menantikan surga-Nya yang kelak akan kau nikmati selamanya. Doa kami akan selalu berkumandang untuk kalian.
Aamiin… Aamiin yaa Robbal Alamin.
Pegiat Literasi dan Asisten Ahli Bidang Kelembagaan KPI Pusat
Menyukai ini:
Suka Memuat...