Memilih Memilah

39

Pemimpinku mungkin banyak menanam luka
Pemimpinku mungkin diam-diam seolah merampas
Lalu, ada yang menyeru tak perlu pilih pemimpin jika begitu
Hidup tak berubah sesiapa pemimpinnya
Lahan hilang jadi bangunan
Yang kaya makin jaya, yang miskin makin mengais
Ku dengar lagi, “tak perlu memilih!”
Nasib jelata tetap milik rakyat
Bangsawan kaya milik wakil rakyat
Aku tersenyum
Mari mengkaji, mencari kepala, mata dan telinga
Tak berubah nasib?
Sekian juta, banyak yang sudah duduk di bangku sekolah
Sekian juta, banyak yang menikmati pengobatan tanpa bayar
Sekian gedung menerima tenaga kerja rakyat tak punya lahan
Bekas gusuran tanah menampung jutaan tak memiliki legalitas sekolah formal
Mari mengingat, tak semua pilihan sempurna
Tak semua tindakan tak beresiko
Jika kemudian seruan tidak memilih adalah tepat
Maka bayangkan, manusia yang punya lahan, yang mampu bertani, beternak, dan mempekerjakan manusia lainnya apakah mampu mengendalikan dirinya sebagaimana hak dan kewajiban manusia?
Yang tidak mampu bersekolah, gigit jari menungu relawan yang mampu menerapkan kemanusiaannya
Yang sakit harus siap mati tanpa harap, hanya mengandalkan manusia lainnya yang punya harta bergerak membantu atas dasar nurani manusia
Mari mengkaji, jangan lantas kecewa tanpa solusi
Mari membuka logika, yang salah siapa, yang ditangani sebanyak apa, dan butuh berapa lama memperbaiki kerusakan yang beranak pinak
Memilih bukan perkara nasibmu atau nasibku
Memilih adalah mempertegas kepala yang menampung otak, mata dan telinga
Setidaknya bukan karena mereka yang puas akan tangan panjangnya di kursi yang kita sediakan
Tapi mereka yang masih membutuhkan sekelompok tangan-tangan membangun

Baca Juga:  Puisi-Puisi Moh. Rofqil Bazikh