Akhirnya, karya yang dianggap novel modern pertama di dunia, “Don Quixote” karya Miguel Cervantes diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Volume I karya itu diterbitkan tahun 1605, dan menurut Cervantes Institute, ini adalah karya kedua yang diterjemahkan ke paling banyak bahasa setelah buku Alkitab. Terus terang, saya tidak bisa menjawab pertanyaan “Kenapa baru sekarang diterjemahkan ke bahasa Indonesia”; buat saya ini misteri besar. Memang Don Quixote bukan buku yang ringan, tapi ini salah satu karya sastra terpenting di dunia, dan pengaruhnya melebar ke bidang seni lain: musik (Richard Strauss menulis karya orkes dengan judul ini), lukisan (Salvador Dali & Pablo Picasso) dan ballet (pertama kali dikoreografi oleh Marius Petipa, bekerja sama dengan komponis Ludwig Minkus). Istilah “quixotic” dalam bahasa Inggris pun berasal dari sini, yang artinya “mengejar impian/khayalan yang tidak realistis”.
Pasti banyak orang Indonesia yang sudah membacanya dalam bahasa lain. Saya sendiri membacanya pertama dalam bahasa Inggris karena saat itu saya belum tinggal dan bisa bahasa Spanyol, dan saya juga nge-fans berat dengan karya puitik Cervantes sehingga saya membuat beberapa musik berdasarkan Sonet-nya yang di Indonesia pernah dipagelarkan di Ubud Writers Festival oleh soprano Mariska Setiawan. Karya Cervantes yang lain itulah sayangnya “tenggelam” karena kebesaran Don Quixote; mungkin seperti Beethoven yang hanya kita kenal dengan Simfoni nomor 5 dan 9-nya saja!
Walaupun banyak yang menganggap Don Quixote ini “berat”, karya ini sebetulnya penuh dengan komedi bahkan sampai ke taraf “slapstick”. Justru berbagai satirnya itu yang sulit diterjemahkan ke bahasa lain. Tapi, ini bukan hanya buku lucu. Cervantes mengeksplorasi banyak tema yang sangat dalam sambil menggambarkan kesengsaraan dua tokohnya, Don Quixote dan Sancho Panza “pembantunya”, termasuk sifat persahabatan dan cinta, kebajikan dan kezholiman, kepercayaan terhadap agama dan tentu saja pertanyaan abadi tentang kondisi mental ksatria (atau peran antagonis?) yang tak terjawab: apakah dia benar gila, atau sebenarnya dia yang waras, dan kita semua yang gila? Banyak karakter yang ia temui dalam perjalanannya membuktikan bahwa ia bisa keduanya, mengundang kita untuk mempertanyakan sifat kegilaan itu sendiri.
Pada tahun 2002, Nobel Institute di Oslo membuat polling “karya sastra terbaik sepanjang sejarah” yang dipilih oleh 100 penulis terkemuka dari 54 negara. Don Quixote masuk ke dalam 10 besar, terpilih oleh para penulis a.l. Doris Lessing, Salman Rushdie, Nadine Gordimer, Wole Soyinka, Seamus Heaney, Carlos Fuentes dan Norman Mailer. Sedangkan 5 penulis terbaik sepanjang sejarah menurut polling ini selain Cervantes adalah Shakespeare, Homer, Kafka dan Dostoevsky.
Seperti Shakespeare, Cervantes (bukan hanya melalui Don Quixote) telah menyumbangkan beberapa kata dan frase bahasa Spanyol yang digunakan bahkan sampai saat ini. Kalau anda suka memakai pepatah “Satu burung dalam genggaman lebih berharga daripada dua burung yang bebas”, itu dicetuskan pertama kali di Don Quixote. Selain itu, buku ini membuka jalan ke bentuk novel modern dan pengaruhnya sangat kuat ke dunia sastra (bukan hanya ke para penulis berbahasa Spanyol sampai kini seperti Gabriel Garcia Marquez dan Mario Vargas Llosa).
Terjemahan bahasa Inggris Don Quixote yang menurut saya paling autentik adalah oleh Edith Grossman. Selain menerjemahkan langsung dari bahasa aslinya (Spanyol), ia juga membandingkan dengan terjemahan lama lainnya dan menambahkan catatan kaki yang informatif. Akhirnya, 400 tahun kemudian terjemahan lengkapnya ke bahasa Indonesia oleh Apsanti Djokosujatno akan diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Terjemahan yang menjadi buku dengan tebal 546 halaman ini akan diluncurkan pada tanggal 14 Juli 2019 (Minggu) di Teater Salihara, pukul 4 sore. Acara ini diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Spanyol di Jakarta, dan disponsori oleh Repsol (perusahaan minyak Spanyol). Saya akan memainkan beberapa karya saya yang berdasarkan sejumlah puisi dari Miguel Cervantes dan Federico Garcia Lorca, mengiringi penyanyi tenor muda yang sangat berbakat, Nikodemus Lukas dari Surabaya yang telah memenangkan kompetisi vokal “Tembang Puitik Ananda Sukarlan” tahun 2013 sewaktu ia masih belasan tahun usianya. Selain itu, saya juga akan memainkan beberapa karya saya untuk piano solo. Semoga acara ini akan mempererat hubungan budaya Indonesia dan Spanyol, sehingga kita bisa lebih mengerti, dan menyayangi budaya dua negara ini.
Pianis, komponis yang menurut The Sydney Morning Herald “one of the world’s leading pianists … at the forefront of championing new piano music”. Penerima Dharma Cipta Karsa RI 2014 Dan Anugerah Kebudayaan RI 2015. Aktivis kebudayaan dan sebagai pengidap Asperger’s Syndrome juga berkampanye dalam membantu sesama penyandang sindrom ini.
Menyukai ini:
Suka Memuat...