Mengapa Fotografer Ini Tak Tahan untuk Tidak Mengucurkan Air Mata Saat Hendak Menekan Tombol Shutter? Bagaimana dengan Program Jangkau Ahok?

635
Fotografer

Di saat media massa baik mainstream, blog maupun media sosial ramai membicarakan pertemuan Prabowo-Mega dan Surya Paloh-Anies Baswedan serta membahas ‘pembagian kursi menteri’ dan ‘perebutan ketua MPR’, kita bisa saja melupakan hal penting yang sama-sama digaungkan saat kampanye: memerangi kemiskinan.

Di saat seperti itulah seorang sahabat mengirim secara beruntun foto seorang fotografer cantik yang tampak bercucuran air mata saat membidik dan menekan tombol shutter di kameranya.

Ternyata pemandangan inilah yang membuat air matanya terus mengalir di pipinya saat mengabadikan potret kemiskinan berikut:

Menurut kompas.com jumlah penduduk miskin ekstrem di seluruh dunia ada 736 juta (kompas.com/read/2018/09/21/102951826).

Kita bisa saja tidak tahan melihat foto-foto di atas, apalagi yang menyaksikan langsung. Lalu, apa yang bisa kita perbuat?

Pertama, jika tidak bisa menolong tidak usah nyinyir. Ada saja orang yang nyinyir kebijakan pemerintah melawan kemiskinan. Ada juga yang mengkritik LSM karena ‘menjual’ kemiskinan. Memang ada LSM nakal, tetapi banyak yang tulus dan sungguh-sungguh bekerja bagi kemaslahatan umat manusia.

Kedua, mendukung usaha pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Salah satunya adalah meningkatkan kualitas SDM. Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar harus kita apresiasi. Bukan sekadar kita kritisi tanpa memberi solusi.

Ketiga, revolusi mental kita mulai dari diri kita sendiri. Salah satunya adalah kepedulian. Istri saya setiap kali ada bakti sosial tidur sampai larut malam karena mempersiapkan obat-obatan bagi mereka. Bukan hanya menghitung jumlah obat, tetapi juga mengecek obat itu satu per satu sesuai dengan prediksi calon pasien dari keluarga prasejahtera yang datang.

Keempat, memikirkan cara dan tindakan tepat untuk membantu pemerintah. Saya setuju untuk tidak hanya memberi ikan tetapi juga kail. Yang jadi masalah bukan hanya kail, kolamnya pun tidak ada. Bahkan kalau ada lembaga donor yang mau memberikan kail sekaligus ikannya ternyata ‘di jalan’ lebih dulu oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Baca Juga:  Menanti 'Jodoh' Jokowi

Kelima, mengasah diri kita sendiri untuk peka. Jika tergerak saja tidak, bagaimana kita bisa bergerak? Mari secara bersama-sama kita pikul bersama beban ini. Waktu berada di Jakarta, seorang ibu berkata ada gerakan suku tertentu yang menyumbangkan uang seribu rupiah setiap bulan. Tampak kecil dan sepele? Sama sekali tidak! Jika dikalikan dengan jumlah suku itu yang ada di Jakarta saja, nilainya sudah mencapai puluhan milyar. Yang paling penting bukan sekadar pengumpulan, tetapi pembagiannya agar tepat sasaran. Ahok sampai mempunyai proyek ‘Jangkau’ agar bisa membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan. Dia memastikan bahwa yang para donatur yang masuk tidak dikorupsi satu rupiah pun sehingga bisa tepat sasaran. Bagaimana menurut Anda?