Connect with us

Politik

Pemerhati Sosial Kritisi Pemkot dan Balon Wali Kota Tangsel

Published

on

© Serikat News

SERIKATNEWS.COM – Pemilihan kepala daerah Kota Tangerang Selatan, Banten hanya tinggal hitungan bulan akan dilaksanakan seperti halnya kabupaten/kota lainnya di Indonesia. Manuver politik dan lobi-lobi tingkatan elite gencar dilakukan para bakal calon (balon), pun demikian balon berusaha mencari simpatik warga Tangsel.

Pemerhati Sosial Tangerang Selatan, Akhrom Saleh menilai tak satu pun bakal calon terlihat memiliki program yang pro rakyat kecil, pro warga miskin di Tangerang Selatan.

“Nama-nama yang terdengar dan santer di bawah, enggak satu pun yang memiliki latar belakang yang pro rakyat miskin,” kata Akhrom dalam siaran pers yang diterima Serikat News, Selasa (9/6/2020).

Mantan aktivis mahasiswa ini menuturkan bahwa beberapa balon yang memiliki latar belakang birokrat umumnya minim kepekaannya dalam melihat situasi dan kondisi, padahal kemiskinan dan kebutuhan dasar manusia atau warga Tangsel belum semuanya terpenuhi.

“Contohnya, penyedian rumah murah. Ya jujur aja semua balon sampai detik ini nggak kedengaran ngomongin kebutuhan dasar manusia, seperti kebutuhan rumah murah,” terang pria yang aktif di pergerakan sosial ini.

Akhrom mengatakan bahwa sepuluh tahun Airin-Benyamin memimpin Tangsel sama sekali ia tidak pernah mendengar Wali Kota dan Wakilnya menyediakan ‘perumahan untuk rakyat miskin’.

“Ada sih bu Airin meresmikan Rusunawa, rumah vertikal (bukan horisontal), tapi enggak banyak, bisa dihitung dengan jari. Jadi, hemat saya masih belum masuk kategori memenuhi kebutuhan warga yang ekonominya lemah, apalagi rusunawa yang harus menyewa ya,” tambahnya.

Menurut Akhrom, rusunawa bukanlah solusi, harusnya hal itu menjadi kepemilikan pribadi bagi warga yang berpenghasilan rendah.

“Maka penting bagi para bakal calon bicara gagasan untuk kepemilikan perumahaan bagi warga miskin atau minim penghasilan. Misalnya untuk pekerja formal dan informal berpenghasilan di bawah Rp8 juta rupiah,” jelasnya.

Baca Juga:  Majelis Milleneal: Menebar Damai di Papua Merajut Persatuan Indonesia

Lebih lanjut, Akhrom berharap pemerintah Kota Tangsel dan para bakal calon serta siapa pun yang menang dalam Pilwakot nanti, untuk tidak lagi memberikan karpet merah kepada pengembang. Kalaupun memberikan karpet merah kepada pengembang harus ada win-win solution antara pengembang, penduduk lokal dan penduduk urban.

“Saya kira sudah cukup memberikan karpet merah kepada pengembang, keistimewaan kepada pengembang di Tangsel sudah sangat maksimal. Sekarang saatnya memberikan win-win solution kepada penduduk lokal dan penduduk urban yang nggak punya rumah di sini,” katanya.

“Pergunakan lahan yang sudah menyempit ini untuk warga tangsel semaksimal mungkin, agar tidak menciptakan ketimpangan dan kecemburuan sosial antara kaya dan simiskin, maaf seperti di Jakarta misalnya,” imbuh Akhrom.

Ia juga mengatakan bahwa selama 28 tahun tinggal di Kota Tangerang Selatan sejak masih Kabupaten Tangerang, miris melihat penduduk lokal yang terus tergerus oleh kebijakan pemerintah daerah dengan memberikan kemudahan kepada pengembang. Sehingga penduduk lokal harus menyingkir ke kabupaten tetangga, bahkan banyak yang berujung dengan mengontrak rumah petakan.

“Coba aja perhatikan, penduduk lokal yang menjual tanahnya kepada pengembang tak jarang juga terpaksa harus menjualnya. Malah yang membuat miris penduduk lokal pergi dari tanah kelahirannya ke kabupaten tetangga. Apalagi penduduk urban yang kelas menengah ke bawah, nggak mampu beli rumah di tangsel yang harganya selangit,” kata Akhrom.

Akhrom pun berharap bila nanti para balon sudah ditetapkan oleh KPU sebagai calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota untuk periode selanjutnya, maka calon harus mampu mengutarakan konsep dan gagasannya, tentunya yang pro rakyat kecil.

Advertisement

Popular