Connect with us

Sosok

Risma Terlahir untuk Surabaya

Published

on

Tri Rismaharini
Tri Rismaharini © Tempo

SERIKATNEWS.COM – Siapa yang tidak kenal sosok karismatik seperti Tri Rismaharini atau yang biasa disapa Bu Risma. Perempuan kelahiran Kediri 26 November 1961 itu mengawali karier sebagai PNS-an kota Surabaya sejak 1990-an hingga emudian diangkat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya pada 2005 silam dan Kepala Badan Perencanaan Kota Surabaya (Bappeko) hingga tahun 2010.

Namanya naik daun dan menjadi perbincangan masyarakat Surabaya saat dirinya menjadi wali kota Surabaya. Terlebih saat ia memberanikan diri untuk mengambil keputusan terkait penutupan Dolly. Keputusan tersebut dinilai oleh banyak pihak sebagai sebuah pilihan bijaksana, namun bagi beberapa lain sisanya malah dikecam karena merusak roda perekonomian dan sebagainya.

Tidak hanya itu, pada akhir tahun 2018 lalu, ia terpilih secara aklamasi sebagai Presiden United Cities Local Governments Asia-Pacific (UCLG-ASPAC). Perempuan pertama yang menjabat sebagai wali kota Surabaya tersebut memiliki popularitas tidak hanya di tingkat nasional melainkan juga internasional.

Namun tampaknya, akhir dari kekuasaan dirinya menjadi wali kota berprestasi di Surabaya adalah tahun ini. Hal itu ia sampaikan saat perayaan Hari Jadi Kota Surabaya yang ke 727 pada tanggal 31 Mei 2020 kemarin di Kantor Pemerintah Kota Surabaya dan disiarkan secara daring oleh semua media sosial (medsos) resmi Pemkot Surabaya.

Sebelumnya, Bu Risma sempat viral karena aksi marah-marah kepada salah seorang yang diduga pegawai mobil PCR milik Pemprov Jawa Timur yang membatalkan membawa mobil ke Surabaya, padahal beberapa orang terlihat sudah melakukan antre untuk melakukan PCR test.  Begitulah Bu Risma, berada di garda terdepan dalam segala urusan terkait kota Pahlawan.

Hal demikian tentu saja telah membuat dirinya diterima oleh mayoritas masyarakat Surabaya, bahkan mengutip dari beberapa komentar di surya.co.id, Bu Risma lebih dari sekedar wali kota, melainkan ia adalah pahlawan dan tentunya akan sangat berat bagi warga Surabaya kehilangan sosok pemimpin sepertinya, lembut tetapi tegas dan tentu saja berprestasi.

Advertisement

Popular