SERIKATNEWS.COM – Uni Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sanggar Bahana Antasari (SBA) dari UIN Antasari berhasil mengukir prestasi membanggakan pada Festival Teater Si Palui yang diselenggarakan oleh Sanggar Titian Barantai (STB) Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari (Uniska) Banjarmasin, di Bailairung Sari Taman Budaya, Sabtu (2/7/2022) lalu.
Membawakan teater Palui yang berjudul “Nyaman Dipandang Kalat di Muntung” yang ditulis oleh Muhammad Ramadhani Al-banjari, sekaligus bertindak sebagai sutradara, SBA berhasil menyabet sembilan penghargaan dari sebelas kategori penghargaan terbaik. Yaitu: penyaji terbaik; sutradara; naskah; pemeran utama; penata setting; penata musik; penata cahaya; penata rias dan kostum; serta penyaji istimewa.
Namun, di balik hasil manis yang ditorehkan SBA yang telah mengharumkan nama kampus UIN Antasari, ada hal yang terbilang cukup memilukan. Di mana SBA seakan tidak mendapat dukungan dari kampusnya sendiri, mulai tahapan persiapan menuju pegaleran tersebut.
Hal itu diungkapkan Muhammad Ramadhani Al-banjari atau yang lebih dikenal dengan Abe, selaku Sutradara SBA pada festival tersebut. Setidaknya, ada dua hal membuat dirinya merasa tidak mendapat dukungan dari kampus, yaitu mengenai fasilitas dan izin jam latihan.
Abe, nama akrab sapaaanya menjelaskan, banyak hal yang mesti disiapkan. Tidak hanya latihan rutin, tetapi juga menyiapkan set panggung dan properti pendukung. Hal ini lumayan memakan waktu dan memerlukan sumber daya manusia (SDM).
Melihat SDM SBA yang tidak begitu banyak, memaksa dirinya, sedikit banyaknya melibatkan pemain dalam mengerjakan pembuatan set tersebut. “Artinya pada pagi sampai sore mereka tidak bisa melakukan latihan karena begawian, hanya malam harilah mereka bisa melanjutkan untuk proses latihan,” ujar Abe, dihubungi melalui WhatsApp, Senin (4/7/2022).
Namun, kebijakan kampus yang tidak mengizinkan ada kegiatan apa pun pada jam malam di kampus, diakui menjadi salah satu penyebab SBA tidak bisa menggelar latihan di kampus pada malam hari. Kebijakan tersebut menurut Abe, menghambat proses penggarapan karya SBA. Hingga mengharuskan mereka mencari tempat latihan di luar kampus. Tentunya dengan risiko keluar ongkos tambahan.
“Terkadang di GOR Hasanuddin, yang di sana dipungut biaya parkir, fasilitas listrik harus bayar setiap latihan. Sedangkan kita tahu mahasiswa bukan kategori yang selalu ada uang. Kadang mereka harus pinjam sana sini hanya untuk mengikuti latihan,” jelas Abe.
Dirinya sempat meminta pengurus SBA untuk berkomunikasi dengan pihak kampus (rektorat) untuk meminta ijin menggelar latihan pada malam hari di kampus selama kurang lebih setengah bulan. Namun, pihak kampus tetap kekeh tidak mengijinkan kegiatan di malam hari.
“Karena diarahkan [kampus, red] siang aja bisa dipakai. Akhirnya saya terus latihan dengan seadanya dan mencoba sebisa mungkin tetap di tempat GOR Hasanuddin,” ungkapnya.
Keinginan SBA untuk dapat menggelar latihan di kampus, rupanya tidak habis sampai di situ saja. Keinginan itu terbesit kembali dibenak Abe. Saat set panggung sudah 80 persen selesai yang dibuat di dalam kampus dan waktu tampil tinggal 2 hari lagi.
Untuk memaksimalkan persiapan, pihaknya ingin mengadakan gladi kotor dan gladi bersih dengan set panggung secara keseluruhan di dalam kampus.
“Karena selama latihan tidak pernah makai set panggung aslinya. Akhirnya saya meminta lagi dengan pengurus untuk satu malam aja mohon bisa diizinkn di kmpus untuk gladi menggunakan set. Namun izin itu lagi-lagi ditolak langsung, kata mereka yang menghadap langsung ke rektor,” ungkap Abe.
Dia pun merasa miris dan kecewa. Apalagi, mendengar jawaban rektor seakan tidak berempati dengan anak didiknya sendiri. “Dengan jawaban, tidak ada jam malam apa pun saat kepemimpinan beliau. Ini yang membuat ulun miris dan kecewa. Sebegitu saklekkah hingga tidak ada sedikit pemahaman. Padahal hanya cukup kami pakai 2 jam saja untuk gladi,” ujarnya.
Kenyataan itu, memaksa pihaknya menggelar gladi di luar kampus. Dengan meminjam tempat latihan di Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
“Merasa malu saat harus minjam tempat ke ULM hanya untuk melakukan gladi bersih. Tapi apalah daya, hanya itu yg bisa kami lakukan,” pungkas Abe
Karena itu, dirinya sangat menyayangkan, dengan adanya pembatasan kegiatan di malam hari tersebut. “Harusnya biarkan mereka berkarya sebagai wadah mereka berkreasi, meluapkan hobi ataupun sebagai penghilang lelah pikiran saat setelah masuk kuliah di siang hari,” ujarnya.
Dia pun berharap, dalam waktu dekat pihak rektorat bisa mengajak duduk bersama dengan mahasiswa membicarakan formula kebijakan untuk kegiatan mahasiswa agar disusun secara musyawarah. “Agar semua kegiatan kembali menjadi harmonis berjalan dengan penuh kontrol yang baik dan nyaman,” harapnya.
Terakhir, dirinya mengingatkan, apa yang disampaikannya semata-mata karena dia sangat mendukung perhatian terhadap potensi karya mahasiswa UIN Antasari yang positif.
“Sayang jika mereka harus kehilangan induk hanya karena kurangnya perhatian. Hingga akhirnya mereka salah jalan dan tidak lagi melakukan kegiatan positif,” khwatirnya.
Di samping itu, Abe tidak bisa menutup rasa bangganya atas keberhasilan SBA. Apalagi, para pemain dan tim pementasan yang terus bersemangat dalam proses persiapan meski di tengah kenyataan yang cukup sulit.
“Sesuai yang menjadi slogan mereka ‘the show must go on!’ Biar bagaimanapun penghargaan ini tetap saja kami suguhkan atas nama kampus UIN Antasari. Sebagai wadah mereka berpijak,” pungkasnya.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Antasari Banjarmasin Irfan Noor, membantah bahwa pihak kampus tidak memberikan dukungan kepada SBA.
“Sepengetahuan kami, tidak benar kalau UIN Antasari tidak memberikan dukungan fasilitas kepada UKM Sanggar Bahana,” ujarnya via WhatsApp, Senin (4/7/2022) malam.
Dalam pertemuan antara rektor dengan perwakilan SBA, lanjut Irfan Noor, diberikan alternatif tempat latihan siang hari di Auditorium atau GOR.
Mengenai tidak diinginkannya pada malam hari, Irfan Noor menjelaskan, kebijakan UIN Antasari memang sampai saat ini tidak membuka kampus di malam hari. “Kegiatan mahasiswa bisa dilakukan setiap hari dari senin hingga minggu mulai jam 07.30 pagi hingga 17.00 sore,” jelasnya.
Di sisi lain, Irfan Noor menambahkan, bentuk dukungan UIN Antasari atas minat bakat mahasiswa di bidang seni dan olah raga bisa dilihat dari keikutsertaan mahasiswa pada kegiatan Pekan Seni dan Olahraga Nasional (PESONA) I Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri 2022 yang akan digelar pada tanggal 8-13 Agustus tahun ini di UIN Bandung.
“Tentang kegiatan mahasiswa, nanti juga akan diadakan dialog antara UKK-UKM dengan pimpinan UIN Antasari, termasuk dengannya Sanggar Bahana,” pungkasnya.
Wartawan Serikat News Kalsel
Menyukai ini:
Suka Memuat...