SERIKATNEWS.COM – Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi membuat masyarakat tidak sedikit yang mencari penghasilan tambahan melalui teknologi digital. Dikutip dari CNBC pada Rabu (4/9/2019), hal tersebut yang menjadi salah satu pendorong banyak perusahaan menerapkan Gig Economy.
Gig Economy merupakan sebuah tren, di mana sebuah perusahaan memilih untuk lebih banyak mengambil pekerja lepas (freelance) dan pekerja kontrak dibandingkan dengan pekerja penuh waktu. Seiring dengan banyaknya perusahaan yang menerapkan Gig Economy, penghasilan freelancer dari AS tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 78 persen.
Hal tersebut berdasarkan data yang diperoleh dari lebih 300.000 pekerja lepas dari jaringan Payoneer. Setelah AS, pekerja freelancer di Inggris dan Brasil juga mencatatkan kenaikan pendapatan, yakni masing-masing 59 persen dan 48 persen.
Hal yang sama juga terjadi di Asia, yaitu para pekerja freelancer di negara ini mengalami kenaikan. Lonjakan di Asia ini dipimpin oleh Pakistan, yang melihat peningkatan 47 persen dalam pendapatan pekerja lepas pada tahun lalu. Pakistan tidak sendiri dalam peringkat 10 besar ada juga negara Filipina, India dan Bangladesh.
Dikutip dari Kompas.com, berikut 10 pasar freelance teratas pada tahun 2019 berdasarkan pertumbuhan pendapatan pekerja year-on-year:
- Amerika Serikat (78 persen)
- Inggris (59 persen)
- Brasil (48 persen)
- Pakistan (47 persen)
- Ukraina (36 persen)
- Filipina (35 persen)
- India (29 persen)
- Bangladesh (27 persen)
- Rusia (20 persen)
- Serbia (19 persen)
Pergeseran Tenaga Kerja
Wakil Presiden dan Kepala Regional untuk Amerika di Payoneer, Iain McNicoll mengatakan bahwa meningkatnya pendapatan selama tahun lalu sebagian karena peningkatan persepsi atas kelayakan pekerjaan freelance.
“Kami melihat semakin banyak pekerja profesional meninggalkan pekerjaan mereka untuk bergabung dengan Gig Economy, apakah itu jam kerja yang fleksibel, tidak adanya manajer yang melihat dari balik bahu Anda atau keinginan untuk membangun bisnis Anda sendiri, para pekerja tidak perlu merasa terikat dengan kantor mereka lagi,” kata McNicoll.
Namun menariknya, ketika Gig Economy menarik para profesional dari segala usia di Amerika Serikat, di pasar lain Gig Economy cenderung condong ke generasi yang lebih muda, yang mungkin lebih berpikiran teknis atau terbiasa dengan struktur kerja yang kurang formal.
Misalkan di Pakistan, pekerja lepas yang berusia di bawah 35 menghasilkan 77 persen dari pendapatan keseluruhan, ini dikarenakan adanya peningkatan pendidikan teknologi selama beberapa tahun terakhir.
Menurut Payoneer, secara keseluruhan pekerja berusia 35 hingga 44 bisa mendapatkan hasil maksimal dari pekerjaan lepas. Grup itu menyumbang 32 persen dari penghasilan lepas global dalam satu tahun terakhir, meskipun hanya mewakili 23 persen dari pekerja lepas di seluruh dunia. Sedangkan pekerja berusia 18 hingga 35 tahun, merupakan kelompok terbesar dengan angka 64 persen, namun pendapatan mereka relatif lebih rendah.
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...