Connect with us

Sosok

Tirtayasa Abad 17 M

Published

on

Tirtayasa Abad 17 M

Tirtayasa

Tirtayasa yang kini masuk wilayah Serang Utara telah menjadi pusat proyek politik agraria yang dikembangkan oleh Sultan Ageng Tirtayasa atau Sultan Abul Fath Abdul Fattah, Sultan terbesar yang pernah memerintah kesultanan Banten abad 17. Nama kecilnya adalah Pangeran Surya, ia lahir pada tahun 1637 M. Istilah pangeran digunakan untuk gelar putra raja seperti Pangeran Surya putra Sultan Abdul Ma’ali Ahmad Rahmatullah atau gelar yang digunakan untuk orang yang berjasa yang mempunyai arti yang mulia seperti Pangeran Kasunyatan seorang alim yang bernama Kiai Dukuh  guru Sultan Maulana Muhammad Nasarudin putra Sultan Maulana Yusuf. Nama beliau Surya diambil dari sangsekerta yang artinya  matahari terbit, sedangkan kalimat sultan  diambil dari bahasa Arab sulthan yang berarti raja atau Raja Islam, sedangkan Ageng (Ageung) diambil dari bahasa sunda yang berarti besar, kuat atau luas.

Tirtayasa, berasal dari Bahasa Sangsekerta (Bahasa Sangsekerta adalah bahasa India bagian timur) merupakan kalimat majemuk yang terdiri dari Tirta dan Yasa, Tirta artinya air, dan Yasa artinya mengalir, jadi air yang mengalir, di mana istana kesultanan Abdul Fathi Abdul Fattah di bawahnya ada sungai yang airnya mengalir deras atau air yang mengalir dari terusan dan saluran air yang digali oleh Sultan  Abdul Fathi Abdul Fattah yang dapat mengaliri puluhan ribu lahan pesawahan di sekitar Tirtayasa. Kondisi tersebutlah yang menjadikan subur lahan pertanian bahkan dapat memudahkan mobilisasi pasukan dan pasokan logistik Surowosan-Tirtayasa dan dapat menghubungkan Surowosan, Kedemangan, Tirtayasa, Tanara, Pasilian, Karang Serang, Rawa Saban sampai Angke. Sebagian orang mengartikan dengan air mata, dan yasa dengan mengalir, jadi air mata yang mengalir, di mana sultan Abdul Fathi Abdul Fattah penuh ratap dan tangis yang menyebabkan mengalirnya air mata, karna dikhianati oleh putranya Sultan Haji, beliau mendekam di penjara dalam Stadhuis (Kantor Pusat VOC) selama 2 tahun, sehingga menemui ajalnya. Tapi ada juga yang mengartikan Tirtayasa dengan air yang hebat dan luar biasa, karena Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah seorang yang mempunyai semangat dan jiwa besar, cinta terhadap masyarakat, beliau sangat gigih dan memperhatikan kedaulatan Banten. Selain itu, ada pula yang mengartikan Tirta (bebas) Yasa (upaya) dengan arti bebas mengupayakan adanya pengairan di wilayah tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya hubungan antara Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah dengan negara asing yang  pernah datang ke Banten, dalam hubungan perdagangan, keagamaan, karena orang Sangsekerta (Gujarat India) lebih dahulu memeluk Agama Islam dan Abdul Fathi Abdul Fattah adalah gelar yang diberikan oleh Sultan Turki Usmani melalui Syarif Mekkah kepada Sultan Ageng Tirtayasa, Abdul Fathi Abdul Fattah mempunyai arti bapaknya kesuksesan hamba Allah yang banyak kesuksesannya, karna setelah diangkat sebagai kesultanan Banten beliau selalu mengalami kesuksesan yang luar biasa. Kesuksesan ini bukan hanya terkenal di kalangan Banten saja, akan tetapi terkenal sampai ke Eropa dan Kesultanan Turki Usmani (Turkey Otoman).

Sang Sultan

Baca Juga:  Cara Ibu Negara Memaknai Hari Kartini

Buku-buku sejarah menyebutkan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa, sebutan ageng itu mungkin disengaja untuk membedakan dengan sebutan Sultan Agung Mataram. Padahal gelar Sultan Agung Tirtayasa diberikan setelah Sultan Agung Mataram wafat, maka tidaklah aneh di Banten ada Sultan Agung sebagai mana di Makasar ada juga Sultan Agung. Mungkin pula ada kekeliruan penulis sejarah yang mengira bahwa bahasa di kesultanan Banten adalah sunda, padahal walau Banten berada di tataran sunda tetapi bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Banten, yaitu bahasa Jawa Cirebon yang telah berasimilasi dengan bahasa Sunda, namun bahasa Jawa lebih dominan sehingga sebutan agung terasa lebih enak dilidah dan lebih enak di telinga orang Banten daripada agung itu sendiri.

Silsilah keturunan Sultan Ageng Tirtayasa adalah  Abdul Fathi Abdul Fattah bin Sultan Abdul Ma’ali Ahmad Rahmatullah bin Sultan Abdul Mafakhir Muhammad Abdu Qodir bin Maulana Muhammad Nashruddin (Ratu Ing Banten) bin Sultan Maulana Yusuf  (Panembahan Pakalangan) bin Sultan Maulana Hasanudin bin Maulana Syarif Hidayatullah bin Syarif Abdullah bin Syaikh Ali Nurul Alim bin Syaikh Jamaluddin Akbar Husein bin Syaikh Ahmad bin Syaikh Ahmad Syah Jalal bin Syaikh Abdullah Azmat Khan bin Syaikh Amir Abdul Malik bin Syaikh Alwi bin Syaikh Muhammad Shahibi Mirbhat bin Syaikh Ali Khala’Qasam bin Syaikh Alwi bin Syaikh Muhmmad bin Syaikh Alwi bin Syaikh Ubaidillah bin Syaikh Ahmad Muhajir Ila Allah bin Syaikh Isa an-Naqib bin Syaikh Ali al-Uraidhi bin Imam Ja’far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zaenal Abidin bin Sayyidina Husein, bin Sayyidatina Fatimah Az-Zahra binti Sayyidina Muhammad Rasullallah SAW.

Kesultanan Banten

Kesultanan Banten sejak abad ke-16 mempunyai arti dan peranan penting dalam menyebarkan dan mengembangkan Islam di Nusantara khususnya, di daerah yang sekarang dikenal dengan daerah Jawa Barat, Jakarta, Lampung, Sumatra dan Jawa. Posisi Banten yang sangat strategis menarik perhatian penguasa Demak untuk menguasainya. Pada 1525-1526 M Maulana Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati berhasil menguasai Banten. Selanjutnya Banten menjadi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam yang sempat mengalami keemasannya, selama kurang lebih tiga abad terutama abad ke-17.

Di antara sultan-sultan Banten yang memerintah abad ke-17 adalah Sultan Ageng Tirtayasa, (1652-1672)  yang bergelar Abdul Fathi Abdul Fattah. Pada masa Sultan Ageng  Tirtayasa berkuasa, Banten mengalami kemajuan dalam bidang  ekonomi, perdagangan, kebudayaan, pendidikan dan kesehatan. Banten mengalami masa keemasannya terkenal bukan saja di dalam negeri bahkan di luar negeri. Banten sangat subur, masyarakatnya bahagia dan sejahtera, di daerah ini mempunyai lumbung padi sangat besar. Pelabuhan Karangantu merupakan pelabuhan yang sangat besar dan sangat penting di wilayah Nusantara, dalam bidang kesehatan masyarakat Banten mendapatkan obat-obatan dari Persia dan Arab, karena selain permata, obat-obatan merupakan bahan perdagangan mereka. Sedangkan tingkat konsumsi masyarakat Banten cukup tinggi, selain orang Persia yang umumnya mengetahui tentang hal ihwal keagamaan banyak mendapat simpati dari pihak penguasa, sehingga dapat berhubungan rapat dengan pejabat-pejabat kesultanan.

Baca Juga:  Peluncuran Buku Di Indonesia Yang Sudah Terlambat 400 Tahun

Pada masa itu pula perkembangan pendidikan agama Islam maju pesat, untuk membina rakyat dan prajurit Banten didatangkan guru-guru dari Aceh, Arab, dan daerah lainnya, salah satu di antaranya  adalah seorang ulama dari Makasar yakni Syaikh Yusuf al-Makassari yang kemudian dijadikan Mufti Agung, Guru dan menantu Sultan. Dalam masalah politik kenegaraan Sultan Ageng Tirtayasa menentang segala bentuk penjajahan bangsa asing (Belanda). Kesultanaan Banten pada saat itu adalah satu-satunya kerajaan Islam Nusantara yang mempunyai hubungan diplomatik dengan kerajaan luar negeri antara lain dengan Kingdom of England, Kingdom of Denmark, Kingdom of France.

Mengingat kemajuan yang dicapai oleh Sultan Ageng Tirtayasa dalam membangun Kesultanan Banten serta ketegasannya dalam menentang segala bentuk penjajahan asing atas negaranya, maka kemudian Sultan Ageng Tirtayasa diberi kehormatan Pahlawan Nasional yang telah dikukuhkan oleh Presiden Suharto pada tahun 1970 M.

Peran Sultan Ageng di Tirtayasa

Pada 18 September 1659 Sultan Ageng Tirtayasa membuat perkampungan prajurit pilihan di Tirtayasa semacam Tangsi, bahkan sultan membuat istana yang digunakan sebagai pusat pengontrol kegiatan di Tanggerang dan Batavia di samping untuk tempat peristirahatan. Tirtayasa juga dijadikan penghubung antara Surowosan dan benteng pertahanan di Tanggerang yang juga mempersingkat jalur komunikasi dari medan perang untuk menghubungkan Surosowan, Tirtayasa dan Tanggerang, digunakan dua jalur. Di samping jalan darat yang sudah ada dari Surowosan ke Tirtayasa juga dibuat saluran tembus yang digali sepanjang jalan kuno, yakni dari sungai untung Jawa (Cisadane), Tanara hingga ke Pontang, dari Tanara dengan menyusuri sungai Cisadane sampai ke Pasilian sampai ke pantai dibuat sangat lebar sehingga dapat dilayari kapal perang ukuran sedang, proses pembuatan proyek ini selesai pada tahun 1678 M.

Tirtayasa sendiri terletak kurang lebih 4 km dari Pontang ke arah timur, Tirtayasa dijadikan penghubung antara Surosowan dan benteng pertahanan di tenggara untuk menghubungkan Surosowan-Tirtayasa dan Tanggerang digunakan dua jalur, di samping jalan darat dibuat saluran tembus yang digali sepanjang jalan kuno yakni dari sungai Untung Jawa (Cisadane) Tanara hingga ke Pontang. Sungai ini cukup lebar sehingga dapat dilayari kapal perang ukuran sedang. Setelah gencatan senjata antara sultan dan kompeni ditandatangani tanggal 10 Juli 1659 dimulailah proyek raksasa dalam bidang ekonomi dan budaya yaitu proyek Tirtayasa.

Dari muara Pontang digali terusan yang cukup besar sehingga dapat dilayari kapal, memotong kelokan sungai Ciujung melintasi lembah subur di antara Cidurian dan sungai Ciujung, di lembah subur itu dibangun gedong gede (gedung besar) gedong cilik (gedung kecil) masjid, gunungan pengintai dan sejumlah barak berpagar tembok batu karang.

Wilayah Serang Utara umumnya dan khususnya kecamatan Tirtayasa Kabupaten Serang Provinsi Banten banyak menyimpan peninggalan arkeologis antara lain bekas kraton Sultan Ageng Tirtayasa, dan terdapat bekas perairan yang di luarnya terdapat benda-benda purbakala.

Baca Juga:  Kartini Inspirasiku

Peninggalan Sejarah

Bekas keraton Tirtayasa berjarak kurang lebih 25 Km ke arah timur dari situs Banten lama Ibukota kesultanan Banten, fasilitas Tirtayasa ialah Keraton, Alun-alun, Masjid, Pasar, Jalan, dan rumah hunian yang sudah disiapkan pada waktu pemindahan Sultan Ageng. Dalam kenyataannya, fasilitas Tirtayasa memiliki persamaan dengan Banten lama dan dapat dikatakan miniatur Banten lama.

Bekas keraton Tirtayasa sekarang digunakan untuk makam umum, dari tanah ini banyak ditemukan keramik dan merupakan lahan persawahan dan banyak bekas fasilitas perairan. Fasilitas perairan yang tampak antara lain: kali sultan yang menghubungkan bendung di Cidurian bagian timur sampai Pontang, di Ciujung di bagian barat, sebagian besar kanal ini berubah menjadi sawah, kanal lain yang masih tampak yaitu kali karang (asin) dan kali Jongjing serta cabang-cabangnya. Diperkirakan pada tahun 1663 sudah mulai pembangunan irigasi di Tirtayasa dan sudah ada bangunan keraton pada waktu pemindahan Sultan Ageng dari Surosowan.

Secara geografis daerah Tirtayasa adalah dataran pasir yang terletak di antara Ciujung dan Cidurian yang berasal dari pegunungan Baduy di daerah selatan sampai laut Jawa di daerah utara, pantai terdekat berjarak 4 km timur laut dari bekas keraton. Areal pertanahan berupa persawahan kecuali tanah alluvial pantai yang menjadi tambak ikan.

Di luar bekas keraton telah ditemukan beberapa pintu air yang struktur bangunannya sezaman dengan keraton, pintu air tersebut antara lain:

  1. Pintu Air Sujung

Pintu air ini terletak di tengah areal persawahan di tepi saluran irigasi sekarang sekitar 500 m di sebelah timur kantor kelurahan Sujung, struktur bangunan pintu air ini terbuat dari susunan batu bata yang sudah menggunakan lepa, akan tetapi di bagian bawah pada umumnya hanya menggunakan spesi tanah pasir halus ukuran batu bata.

  1. Pintu Air Cerukcuk

Pintu air ini terletak di areal persawahan di Desa Cerukcuk Kecamatan Tanara, sebelum pemekaran pintu air ini terletak pada Kecamatan Tirtayasa, struktur bangunan pintu air membujur barat-timur dengan satu pintu pembuangan mengarah ke utara.

  1. Pintu Air Bendung

Pintu air ini terletak di kampung Bendung Pasar Kelurahan Carenang Kec. Carenang sebelum pemekaran pintu air ini terletak pada Kec. Tirtayasa, keadaan pintu air ini sudah tertimbun dengan tanah untuk jalan raya dan hanya dapat dilihat dari samping, pintu air ini berkaitan dengan sungai Cidurian.

Selain pintu-pintu air telah ditemukan juga benda-benda purbakala di antaranya di lokasi pemakaman ditemukan artefak pragmen keramik dari dinasti Ming dan Ching, artefak, uang logam bertahun 1690, umpak tiang dan batuan andesit dan struktur fondasi bata dan karang. Selain itu juga ditemukan tembikar antara lain: periuk, kekep, jambangan, wajan, bulu-buli, mangkuk, piring, pasu, terpayan, gacuk, bandul, genteng dan bata.

Advertisement

Popular