Jalan Gerilya Tan Malaka

444

Oleh: Ruli Harmadi

Dalam Rumah Penjara Madiun 17 Mei 1948 di kata pengantar buku Gerpolek, Tan Malaka menulis:
Sudah ke pinggir kita terdesak!
Sempitlah konon sisa-ruangan yang tinggal bagi kita dalam hal politik ekonomi, keuangan dan kemiliteran.
Inilah hasilnya lebih dari pada dua tahun berunding!

Lenyaplah sudah persatuan Rakyat untuk menentang kapitalisme-imperialisme! Lepaslah sebagian besar daerah Indonesia ke bawah kekusaan musuh. Kembalilah sebagian besar bangsa Indonesia ke bawah pemerasan tindasan Belanda. Berdirilah berbagai Negara Boneka dalam daerah Indonesia, yang boleh diadu-dombakan satu dengan lainnya! Kacau-balaulah perekonomian dan keuangan dalam daerah Republik sisa. Akhirnya tetapi tak kurang pula pentingnya, terancam pula Tentara Republik oleh tindakan Reorganisai dan Rationalisasi, yang dalam hakekatnya menukar Tentara Republik menjadi tentara Kolonial Satu Tentara Terpisah dari Rakyat untuk Menindas Rakyat itu sendiri.
Pada tanggal 17 September 1948 Tan Malaka dan Soekarni keluar dari penjara di Magelang. Adam Malik dan Yamin sudah menunggu di pintu depan penjara. Mereka lalu menuju Yogyakarta yang menjadi ibukota ketika itu. Perdana Menterinya adalah Hatta setelah empat kali sebelumnya dipegang sayap kiri dari Partai Sosialis, yaitu Sjahrir tiga kali berturut-turut dan Amir Sjarifuddin yang bergabung dengan Muso dalam Pemberontakan Madiun. Hatta berharap pembebasan Tan Malaka dapat digunakan untuk menghadapi Muso. Tetapi Tan Malaka menganggap soal Muso adalah urusan pemerintah, Tan Malaka menegaskan bahwa garis politiknya sudah jelas bagi kawan dan lawan. “Kami tidak perlu berjual beli dalam hal moral dan politik”.

Pada tanggal 30 September Yamin mengadakan konferensi pers untuk menyongsong pemerintah yang akan datang, yang di dalamnya Islam, nasionalisme, dan komunisme harus bekerja sama. Ia berbicara dua jam lamanya – sesudah bertemu dengan Soekarno – walaupun dengan nada berhati-hati. Perlu segera diadakan pemilah umum. Pembebasan Tan Malaka bisa membawa pada kembalinya ke jalan revolusi, yang juga merupakan tantangan bagi Belanda.

Baca Juga:  Filosofi Dakwah Cinta, Sosial, dan Romantika

Tan Malaka masih penuh harapan bahwa Revolusi akan berjalan dengan baik. Karenanya ia menyetujui Hatta yang menolak memilih satu blok, walaupun seluruh simpatinya untuk blok sosialis. Maka dari itu pola berpikir sosialis itulah yang cocok untuk menganalisis Revolusi Indonesia.

Setelah sebulan berkonsolidasi, pada awal November kongres pendirian Partai Murba bersidang untuk pertama kali. Dalam kongresnya tanggal 3 dan 4 November Partai Rakyat menyetujui fusi dengan jelas. Tan Malaka merumuskan pendapatnya dengan sejelas-jelasnya. Baginya tidak ada ruang sedikit pun untuk perundingan. Setelah tiga hari berkongres, Tan Malaka berpidato “Uraian Mendadak” berjam-jam lamanya yang membahas masalah internasional, nasional dan partai. Tan Malaka mengatakan “Di Tiongkok ada satu pepatah yang mengatakan: Agitasi lebih kuat dari pada pelor”.

Sementara itu pada tanggal 4 sampai 6 November, Hatta berunding dengan perwakilan Belanda, Menteri Stikker di Kaliurang. Hatta dan stafnya bersedia memenuhi sebagian besar keinginan Belanda. Hatta menegaskan ini pada pada tanggal 10 November dalam sebuah aide-memoire (nota diplomatik penjelasan). Perbedaan pendapat tetap ada mengenai kedudukan TNI. Dalam sebuah surat pribadi kepada Stikker, Hatta membahas butir masalah perselisihan tersebut akhir yang krusial itu. “Orang-orang dari pihak Belanda sangat cenderung pendapat bahwa TNI harus dibubarkan untuk bisa membentuk tentara federal yang baik”. Hatta menganjurkan TNI untuk memandang sebagai bagian dari tentara federal, yang sesudah pembentukan federasi ‘diam-diam menghilang’ masuk ke dalam tentara nasional dari negara baru.

Pada pertemuan tanggal 6 November Hatta menceritakan pada Stikker, bahwa ia menganggap Tan Malaka ‘sebagai elemen yang berbahaya’, seperti demikian juga halnya dengan Partai Murba. Terhadap Cochran wakil Amerika untuk Komisi Tiga Negara, Hatta menyatakan pendapatnya lebih jelas, ketika ia diperingatkan koalisinya antara Hatta dengan pengikut Tan Malaka. Hatta sebaiknya menyingkirkan ‘komunis-komunis Tan Malaka itu, jika mereka mau mengikuti contoh Muso dengan cara yang sama.

Baca Juga:  Mendepankan Generasi Milenial terhadap Ketuhanan Beragama

Sesudah kongres berdirinya Partai Murba, Tan Malaka harus menentukan pilihan tentang hari depan pribadinya sendiri. Jika ia menetap di Yogya, tentu ia akan menerima kedudukan tinggi di dalam Partai Murba. Jika ia mempunyai ambisi untuk tingkat nasional letaknya lebih tinggi lagi: di atas semua partai. Yogya tidak dianggapnya aman. Dikhawatirkan akan terjadi pendudukan Belanda, dan bahaya penangkapan oleh pemerintah Hatta. Pembersihan atas FDR/PKI dengan mudah akan berimbas ke Partai Murba, partai yang sekarang terang-terangan berdiri berlawanan dengan pemerintah dalam masalah perundingan dengan Belanda. Tan Malaka ingin menjajaki alam pikiran rakyat, siap untuk memukul musuh dengan perlawanan gerilya, yang sudah digambarkan dalam Gerpolek. Tan Malaka memilih Jawa Timur yang ditulisnya dalam ‘Naar de Republiek Indonesia’, bahwa di sanalah pukulan yang menentukan akan diselesaikan. Di sana tampaknya merupakan medan subur yang terbuka bagi banyak pengikut kiri, yang sesudah pemberontakan Madiun berkeliaran, untuk memberikan tempat penampungan baru di dalam Partai Murba. Selain itu harus dipastikan bahwa Tan Malaka tidak akan terancam oleh tindakan tentara. Rupa-rupanya faktor-faktor positif saling bertemu di Kediri. Batalyon Sabarudin menawarkan untuk memberikan perlindungan pada Tan Malaka. Nilai jaminan langsung itu diperkuat oleh perasaan simpati Komandan Divisi Soengkono, dan sebagian besar stafnya, kepada Tan Malaka.

Tan Malaka berpamitan pada kawan-kawannya sepaham di rumah Soekarni di Yogya. Dikatakannya bahwa mereka harus berpisah, mengingat serangan Belanda yang sudah diperkirakan itu pasti akan segera terjadi. Sebagai perpisahan Tan Malaka meninggalkan naskah Madilog. “Yesus Kristus meninggalkan Injil, Muhammad meninggalkan Quran, dan saya hanya meninggalkan Madilog. Ini bukan sebuah buku propaganda, tapi buku yang menetapkan cara berpikir, cara pendekatan, dan cara menganalisa semua masalah. Madilog sebuah buku pedoman; ajal saya bukanlah kenyataan yang gawat, karena Madilog sudah ada.”

Baca Juga:  Peristiwa Tan Malaka

Pada tanggal 12 November Tan Malaka berangkat ke Kediri dengan naik kereta api. Kereta api tentara khusus dan prajurit seperlunya., dikirim oleh Sabarudin untuk menjemput Tan Malaka. Lokomotif dan tiga gerbong disediakan khusus untuk rombongan Tan Malaka. Tamin dan Abdul Djalil Muluk memimpin perjalanan. Ikut dalam rombongan ini serombongan 35 orang pengawal, 20 orang dari Laskar Rakyat Djawa Barat dan 15 orang dari Barisan Banteng dibawah pimpinan Kapten Dimin.

Hatta pada pidato radionya 17 November untuk menandai keberhasilannya dalam menumpas pemberontakan Madiun, berusaha mematangkan suasana untuk berunding dengan konsesi pada Belanda.

Pada 30 November koran ‘Murba’ dilarang terbit sesudah mendapat peringatan tiga kali sebelumnya. Tentu saja timbul konflik antara pemerintah dengan Partai Murba. Pemerintah tidak lagi memerlukan Partai Murba setelah pemberontakan Madiun telah sukses ditumpas dan lebih suka terbebas dari partai ini untuk tampil di depan Amerika Serikat sebagai mitra yang dapat dipercaya.

Melalui dr. Tjoa Sik Ien, anggota delegasi perundingan, aide-memoire Hatta dibocorkan kepada Tan Malaka yang digunakannya dalam mencari pengikut untuk politiknya yang tak kenal damai, terutama dalam aksinya di kalangan kesatuan-kesatuan tentara.

(Catatan: Ringkasan buku Harry A. Poeze Jilid 4 Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia)