SERIKATNEWS.COM – Perang Rusia dengan Ukraina berdampak bagi perekonomian global. Begitu pun perekonomian Indonesia terdampak ke depannya.
Terkait hal tersebut, pakar menyebutkan ada 6 dampak bagi Indonesia. Di antaranya:
1. Mengganggu stabilitas perdagangan internasional
Dilaporkan Detik Jateng, Kamis (24/2), salah satu Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Riza Noer Arafani mengungkapkan bahwa dampak perang Rusia-Ukraina tidak dirasakan secara langsung di Indonesia. Namun, dirasakan dampaknya secara tidak langsung.
Misalnya, stabilitas perdagangan internasional tentu akan terganggu. “Tetapi secara tidak langsung ini bisa menjadi semacam proksi untuk isu-isu nonmiliter yang saya kira dalam 2-3 tahun terakhir ini sudah menjadi masalah yang serius bagi masyarakat internasional,” jelasnya.
2. Harga minyak dunia akan melonjak
Menurut Riza, dampak paling langsung yang terasa adalah harga minyak. Tentu hal ini perlu diantisipasi oleh pemerintah Indonesia.
Harga minyak menurutnya nanti akan terpengaruh dari peristiwa ini. “Oleh karena itu, seperti biasanya harus siap-siap dengan implikasinya kepada domestik di Indonesia, menyangkut harga BBM, karena kita sudah net importer dari BBM itu,” jelasnya.
3. Pengaruhi tatanan ekonomi global
Perang ini tak hanya melibatkan antara Rusia dan Ukraina. Namun, Amerika Serikat, Uni Eropa, hingga Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) juga terlibat dalam konflik ini.
Pihak yang berkonflik sebagian besar merupakan anggota G20. G20 memang tak fokus terkait keamanan dan politik, akan tetapi membicarakan tatanan ekonomi global, yang itu pasti akan terpengaruh konflik ini.
Menurut Riza, negara-negara G20 termasuk Indonesia bisa berkontribusi membantu menyelesaikan konflik ini.
“Tidak ada salahnya ada semacam urgensi dari kelompok negara-negara ini untuk masuk ke konflik ini dan menjadi future broker, peace broker atau penengah begitu,” ujarnya.
4. Krisis perdamaian dan keamanan global serius dan multidimensional
Masih dalam laporan Detik Jateng, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Ade Maman Suherman menyebut serangan Rusia ke Ukraina dinilai sebagai akumulasi permasalahan multidimensi sejak bubarnya Uni Soviet.
Pihaknya menyimpulkan krisis perdamaian dan keamanan global yang serius dan multidimensional.
Ade memulai penjelasannya soal 10 negara eks Uni Soviet yang bergabung dengan NATO. “Rusia sudah semakin tidak percaya terhadap komitmen Eropa yang terus memperluas zona pakta Militer Atlantik Utara,” katanya.
Menurutnya, 10 negara eks Uni Soviet selain sebagai anggota NATO juga menjadi komunitas Uni Eropa yang secara ekonomi lebih menjanjikan dan memberikan harapan akan kesejahteraan dan demokrasi.
“Ketika menyentuh teritorial Ukraina yang sebagian penduduknya etnis Rusia, maka kesabaran Rusia sudah ada pada titik nadir dengan satu opsi yakni melawan,” ujar Ade.
Saat ini, lanjut Ade, posisi Ukraina seperti buah simalakama. Contohnya, Presiden Ukraina yang pro Rusia digulingkan karena menolak untuk bergabung dengan Uni Eropa sekaligus anggota NATO pada tahun 2014.
“Di sisi lain Rusia tidak ingin Ukraina jadi anggota NATO dan berpotensi membangun pangkalan militer sebagai garis terdepan untuk berkonfrontasi dengan Rusia,” jelasnya.
5. Diprediksi berjalan lama hingga potensi Perang Dunia ke-3
Ade juga memprediksi invasi Rusia ke Ukraina akan berjalan lama. Sebab, pihak Barat tidak berani berkonflik militer.
Menurutnya, Amerika Serikat dan Inggris hanya akan menerapkan sanksi ekonomi dan finansial.
“Ini kasus konflik pertama yang perpetrator-nya negara pemilik hak veto dengan kemampuan senjata nuklir yang mumpuni. Tidak tertutup kemungkinan potensi Perang Dunia ke-3 kalau kalap dan frustasi, everything might happen,” tuturnya
Soal posisi Indonesia dalam operasi militer yang sedang dilancarkan Rusia pada Negara Ukraina saat ini, Ade mengatakan normatif saja, agression, war crime, crime against humanity terhadap suatu negara berdaulat sebagai kejahatan internasional.
“Namun persoalannya siapa yang berani menghukum Rusia?” ucap Ade.
6. Dampak hubungan Indonesia-Rusia
Sementara menurut pakar hukum internasional Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Emmy Latifah, perang Rusia-Ukraina dikhawatirkan berpengaruh terhadap Indonesia jika terus berlarut-larut. Untuk itu, Indonesia diharapkan bisa turut mendorong perdamaian kedua negara.
“Bagaimanapun, secara khusus, jika konflik ini berkepanjangan, maka akan berdampak pada hubungan Indonesia-Rusia, baik di bidang ekonomi, pertahanan keamanan, sosial budaya dan politik,” ujar Emmy.
Emmy tak menutup kemungkinan terkait kemampuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi juru damai. Sebab menurutnya, hubungan Jokowi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin juga cukup baik.
“Jika pertanyaannya ‘bisa kah’, maka jawabannya adalah sangat bisa. Akan tetapi karena salah satu negara adalah negara maju, maka akan lebih baik jika dicari negara yang sekiranya lebih berpengaruh terhadap dua negara yang sedang berkonflik,” katanya.
Pihaknya juga menilai bahwa Indonesia bisa berperan dalam menyudahi invansi Rusia ke Ukraina. Indonesia dapat aktif bersuara di forum-forum internasional.
“Indonesia sebagai salah satu negara anggota PBB yang juga cukup aktif berperan, dapat menyuarakan di forum-forum internasional untuk mencari dukungan internasional guna meminta Rusia mengakhiri serangan militernya ke Ukraina,” tukas Emmy. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...