SERIKATNEWS.COM – Kotagede selain menyimpan bangunan bersejarah masa Kerajaan Mataram Islam, salah satu kecamatan di DIY ini juga menyimpan kuliner tradisional, yaitu roti kembang waru. Konon, roti kembang waru merupakan hasil inovasi juru masak kerajaan yang sedang mencari menu hidangan baru.
Tak diketahui dengan jelas siapa penemu pertama kue ini. Seperti namanya, bentuknya menyerupai bunga waru dengan delapan sisi di pinggir.
Dikutip dari Jogjaprov.go.id, Senin (10/07/2023), angka delapan tersebut merupakan lambang delapan unsur, yaitu tanah, air, angin, api, matahari, bulan, bintang, dan langit.
Dalam Bahasa Jawa, delapan unsur itu disebut Hasta Brata (delapan laku). Setiap unsur mempunyai arti sendiri berupa laku yang diharapkan dimiliki oleh pemimpin. Tanah atau bumi menandakan kemurahan hati, air menandakan ketentraman hati, dan angin menandakan maslahat bagi banyak orang.
Unsur keempat, yakni api menandakan kesanggupan menerima masalah. Matahari menandakan asa untuk sesama, bulan menandakan ketabahan, bintang menandakan keteguhan hati, dan langit menandakan pusat dan tempat kembali seluruh hal di bumi ialah Sang Pencipta.
Bahan untuk membuat kue kembang waru sekarang berbeda dengan masa lalu. Sebelumnya, kue kembang waru dibuat dari tepung ketan dan telur ayam kampung dengan aroma daun pandan. Saat ini, bahan untuk membuatnya yaitu tepung terigu, telur ayam, gula pasir, dan susu, lalu diberi aroma kayu manis, pala bubuk, dan vanili.
Kontributor Serikat News Daerah Istimewa Yogyakarta
Menyukai ini:
Suka Memuat...