CIREBON – Empat alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) melakukan riset kolaboratif yang memotret realitas sekaligus menawarkan formula baru bagi pengajaran bahasa asing di lingkungan pesantren. Riset ilmiah ini resmi dipublikasikan dalam International Journal of Language Teaching and Education (IJOLTE) Volume 10 Nomor 1 Tahun 2026.
Penelitian bertajuk “Contextualizing English Speaking Instruction in Indonesian Pesantren: A Needs Analysis” tersebut disusun oleh empat alumni Jurusan Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon. Mereka adalah Muhammad Haikal Attabik, Mailiza Zainiza, Anggraeni Khusuma Dewi, dan Agung Ahdiansyah, dengan bimbingan dari dosen Universitas Negeri Yogyakarta, Nunik Sugesti.
Salah satu peneliti, Muhammad Haikal Attabik, mengungkapkan bahwa hasil riset akademis ini diharapkan dapat menyumbang pemikiran berharga bagi dinamika pendidikan kepesantrenan. Terlebih, tata kelola pondok pesantren saat ini berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Pesantren yang baru dibentuk.
“Jadi, esensi temuan riset yang kami lakukan mengungkapkan bahwa interaksi bahasa asing di pesantren saat ini masih dominan pada situasi komunikatif yang bersifat rutin dan prosedural, seperti percakapan harian (35%) dan aktivitas pidato atau muhadharah (35%),” jelas Haikal di Cirebon, Senin (22/6/2026).
Dengan mengambil lokus penelitian di Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, riset ini membedah kebutuhan target dan faktor lingkungan dalam pembelajaran berbicara bahasa Inggris menggunakan metode campuran (mixed-methods).
Haikal menjelaskan, walaupun paparan bahasa asing di lingkungan pondok berjalan intensif, kecakapan tersebut belum otomatis bermuara pada kompetensi komunikatif yang autentik.
“Santri memang terbukti cakap dalam komunikasi dasar, tapi mereka menghadapi tantangan besar pada aktivitas berbicara tingkat tinggi seperti debat, argumentasi spontan, dan penalaran kritis,” lanjut Haikal yang kini menempuh studi S2 di Universitas Negeri Yogyakarta.
Peneliti lainnya, Agung Ahdiansyah, menambahkan bahwa hambatan kecakapan tersebut bersumber dari budaya pengajaran di lapangan yang masih sangat menitikberatkan pada ketepatan tata bahasa (accuracy-focused).
“Secara psikologis, fokus berlebih pada kebenaran struktur kalimat dapat memicu kecemasan di kalangan santri, sehingga dapat membatasi keberanian mereka dalam mengeksplorasi gagasan secara terbuka,” ungkap Agung yang juga menjabat sebagai Humas dan PPID UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Atas dasar temuan tersebut, riset kolaboratif alumni PTKIN ini merekomendasikan adanya transformasi pedagogi bahasa di lingkungan pesantren. Model pengajaran disarankan mulai bergeser ke arah yang lebih interaktif dan kontekstual (interaction-focused), seperti forum pemecahan masalah (problem-solving) dan berbagi opini.
“Tentunya, dengan tetap mempertahankan karakteristik lokal dan nilai-nilai luhur kepesantrenan, materi pembelajaran bahasa ke depan diharapkan dapat dikembangkan secara bertahap untuk melatih cara berpikir kritis santri,” harap Agung. (*)