SERIKATNEWS.COM – Benny Wenda kembali berulah memanfaatkan momentum 1 Desember. Melalui Gerakan Persatuan Pembebasan Papua Barat atau The United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Benny Wenda yang mengaku sebagai tokoh pembebasan Papua Barat, melakukan deklarasi kemerdekaan.
Analis Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta memberikan tanggapan bahwa Benny Wenda saat ini melakukan propaganda untuk mendeskreditkan pemerintah Indonesia. Hal tersebut dinilai hanya untuk kepentingan pribadi dan pihak-pihak yang menjadi sponsornya.
“Bagaimana mungkin berjuang untuk masyarakat Papua, sementara Benny Wenda hidup di negeri lain. Selain itu dia memprovokasi masyarakat untuk menentang pemerintah dan memerdekakan diri, padahal status Papua sebagai bagian dari Indonesia sudah final,” ujar Stanislaus, Kamis (3/12/2020).
Stanislaus menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Benny Wenda sangat tidak terpuji. Benny disebut memang sengaja ingin menciptakan suasana ricuh di Papua.
“Yang dilakukan oleh Benny Wenda sudah termasuk tindakan makar. Benny mengorbankan masyarakat Papua untuk berhadapan dengan masyarakat Papua. Tindakan makar dan provokasi Benny harus disikapi dengan tindakan hukum,” ujar kandidat doktor dari Universitas Indonesia ini.
Stanislaus berharap, pemerintah fokus mengutamakan dialog dengan masyarakat Papua asli termasuk dengan tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh budaya. Dengan dialog yang intensif diharapkan terjalin arah yang sama sehingga berbagai permasalahan di Papua dapat ditangani dan pembagunan dapat dilakukan dengan dukungan kuat seluruh komponen masyarakat.
“Dialog dengan masyarakat asli, tokoh adat, tokoh budaya, dan tokoh agama sangat penting karena mereka menggambarkan suara masyarakat Papua. Jangan dibatasi dialog dengan elite politik, yang kemungkinan dengan berbagai kepentingannya kurang mencerminkan aspirasi nyata masyarakat,” tambah Stanislaus.
Selain itu, Stanislaus menegaskan bahwa pemerintah tetap harus menyelesaikan berbagai masalah yang ada di Papua, seperti soal HAM, korupsi, dan ketimpangan pembagunan. Namun, segala cara dalam penyelesaian berbagai masalah tersebut harus dalam satu kerangka; Papua final menjadi bagian dari Indonesia.
“Semua aktivitas yang dilakukan termasuk dialog harus dalam konsep bahwa Papua adalah bagian NKRI. Tidak ada opsi disintegrasi. Papua bagian dari Indonesia sudah final dan tidak perlu didebatkan,” pungkasnya.
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...