Connect with us

Literasi

Fenomenologi, Martin Heidegger dan Kita

Published

on

Ilustrasi Heidegger © Remotivi

Masih ingat dalam pikiran, soal antara fenomena dan noumena. Bahasan tersebut begitu jelas diuraikan, meski terkadang otak saya tidak cepat mengerti. Titik fokus itu ada pada Dasein dan Das ding an sich, begitu juga dilatari kegelisahan modern (angst).

Pengalaman Dasein “keterlemparan” dilemparkan ke belakang untuk menemukan eksistensinya, dan dikacaukan oleh yang lain. Hal itu berakhir pada kejatuhan ke dalam ketidakaslian atau absurditas. Maka melihat sebagai – Dasein in der welt – (mengada dalam hidup) dimulai dari bertanya apa arti ada? Darimana ada? Apa tujuan ada? Hingga kembali menanyakan pada bendanya sendiri (das ding an sich).

Sang Pelihat

Martin Heidegger yang lahir di Meßkirch, Jerman, 26 September 1889 adalah seorang filsuf asal Jerman. Ia belajar di Universitas Freiburg di bawah Edmund Husserl, penggagas fenomenologi, kemudian menjadi profesor di sana 1928. Ia mempengaruhi banyak filsuf lainnya, dan murid-muridnya termasuk Hans-Georg Gadamer, Hans Jonas, Emmanuel Levinas, Hannah Arendt, Leo Strauss, Xavier Zubiri dan Karl Löwith. Maurice Merleau-Ponty, Jean-Paul Sartre, Jacques Derrida, Michel Foucault, Jean-Luc Nancy, dan Philippe Lacoue-Labarthe juga mempelajari tulisan-tulisannya dengan mendalam.

Selain hubungannya dengan fenomenologi, Heidegger dianggap mempunyai pengaruh yang besar atau tidak dapat diabaikan terhadap eksistensialisme, dekonstruksi, hermeneutika dan pasca-modernisme. Ia berusaha mengalihkan filsafat Barat dari pertanyaan-pertanyaan metafisis dan epistemologis ke arah pertanyaan-pertanyaan ontologis. Artinya, pertanyaan-pertanyaan menyangkut makna keberadaan, atau apa artinya bagi manusia untuk berada.

Heidegger juga merupakan anggota akademik yang penting dari Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei (NAZI). Meskipun Heidegger adalah seorang pemikir yang luar biasa kreatif dan asli, dia juga meminjam banyak dari pemikiran Friedrich Nietzsche dan Soren Kierkegaard. Heidegger dapat dibandingkan dengan Aristoteles yang menggunakan dialog Plato dan secara sistematis menghadirkannya sebagai satu bentuk gagasan.

Baca Juga:  Gramedia Berikan Diskon 30 Persen di Hari Buku Nasional

Begitu juga Heidegger mengambil intisari pemikiran Nietzsche dari sebuah fragmen yang tak terbit dan menafsirkannya sebagai bentuk puncak metafisika barat. Karya Heidegger berupa transkrip perkuliahan selama 1936 tentang Nietzsche’s Will to Power as Art yang dirasa kurang bernilai akademis dibandingkan karyanya sendiri yang lebih asli. Konsep Heidegger tentang kecemasan angst dan das sein berasal dari konsep Kierkegaard tentang kecemasan, pentingnya relasi subjektivitas dengan kebenaran, eksistensi di hadapan kematian, kesementaraan eksistensi, dan pentingnya afirmasi diri dari ‘ada’ seseorang di dalam dunia.

Martin Heidegger dianggap sebagai salah satu filsuf terbesar dari abad 20. Arti pentingnya hanya dapat disaingi oleh Ludwig Wittgenstein. Gagasannya merasuki berbagai bidang penelitian yang luas. Karena diskusi Heidegger tentang ontologi, maka dia kerap dianggap salah satu pendiri eksistensialisme dan gagasannya kerap mewarnai banyak karya besar filsafat seperti karya Sartre yang mengadopsi banyak gagasannya, meskipun Heidegger bersikeras bahwa Sartre salah memahami gagasannya. Gagasannya diterima di seluruh Jerman, Prancis, dan Jepang hingga banyak pengikut di Amerika Utara sejak 1970-an. Meskipun demikian, gagasannya dianggap sebagai tak bernilai oleh beberapa pemikir kontemporer seperti mereka yang di dalam Lingkaran Wina,Theodor Adorno, dan filsuf Inggris, Bertrand Russell dan Alfred Ayer.

Melihat Fenomena

Heidegger bilang “we cannot present a detailed temporal interpretation of the foundation of ancient ontology, particularly not of its loftiest and purest scientific stage, which is reached in Aristotle”. Dalam buku Being and Time, Heidegger hendak memperjelas soal tradisi ontologi dari sebuah pertanyaan tentang ada atau mengada.

Jawaban dari suatu kegelisahan tentang mengada, dari suatu kecemasan atau dari suatu kebosanan (zuhandenes) tentang Sein atau Being. Ia menjawab dengan lugas “we can discuss such possibilities seriously and with positive results only if the question of being has been reawakened and we have arrived at a field where we can come to terms with it in a way that can be controlled”.

Heidegger menolak tesis ini dengan mengawali pendekatannya dari fenomena keterlibatan yang disebutnya sebagai sorge. Perilaku manusia adalah sebuah keterlibatan secara aktif dengan objek keseharian di sekelilingnya. Dia bukan seorang pengamat pasif yang mengambil jarak dari dunianya.

Baca Juga:  Pemeran yang Duduk di Bangku Cadangan

Pendapatnya ini sekaligus sebuah kritik bagi pemikiran Cartesian yang mengagungkan “aku” sebagai objek berpikir murni yang terpisah dari dunianya. Heidegger mengritik pernyataan terkenal Rene Descartes “aku berpikir maka aku ada” yang terlalu menekankan pada aku berpikir dan lupa bahwa seharusnya aku ada terlebih dahulu barulah kemudian aku bisa berpikir.

Fakta mendasar dari eksistensi manusia bahwa kita telah ‘ada di dalam dunia’. Dunia adalah karakter dari ada di dalam dunia, yang selanjutnya disebut dengan das sein. Selanjutnya Heidegger menolak kategori subjek-ojek yang kerap dikenakan oleh filsuf pasca Descartes. Sesuatu bermakna bagi kita hanya dalam penggunaannya pada konteks tertentu yang telah ditetapkan oleh norma sosial.

Kita dan Kegelisahan

Memahami dasar tentang mengada tentu dalam pandangan fenomenologis adalah menanyakan apa itu “ada” bukan sebagai bayi yang baru lahir ketika melihat hidup atau dunia, tetapi melihat dari sikap mengenali sebagai pelihat awal, darimana “ada” dengan apa “ada” dan kemana “ada” ketika manusia secara kudrati sebagai makhluk yang mengada di dunia (dasein in der welt).

Kegelisahan mengada kita adalah dasarnya memahami peristiwa atau fenomena, sebab yang terdalam belum kita kenali adalah noumena, untuk bisa mengantarkan tampakan dari noumenal tersebut.

Proses menjawab kegelisahan dari yang ada, kemudian menurut F. Budi Hardiman sebagai proses fenomenologis. Keterkejutan, keanehan dan keterasingan menjadi tampakan fenomena an sich. Dari pemahaman sederhana tersebut, melihat yang noumenal dan yang fenomenal perlu pendekatan ontologis, sebab adanya kita adalah juga jawaban atas mengada kita.

Advertisement

Popular