Babak politik ketakutan yang ditandai dengan banjirnya pemberitaan hoaks oleh para tim sukses capres-cawapres sukses mewarnai sepanjang tahun politik dan tampaknya akan terus berlanjut sampai akhir pemilu April 2019 nanti.
Belum selesai disitu, kini fenomena yang tak kalah menarik ialah banjirnya kampanye yang dilakukan oleh para generasi “mendadak” milenial untuk mendulang suara konstituen yang dominan akan diisi kalangan milenial.
Dari kampung ke kampung, baliho gambar para calon wakil rakyat tersebut mulai tersebar. Dengan sentuhan teknologi masa kini, design gambar tersebut kebanyakan lebih menonjolkan gaya modern anak muda zaman now. Lebih warna-warni, elegan dan berkonsep minimalis.
Memang, tak bisa dipungkiri bahwa pemilih mileniallah yang nantinya diprediksi akan mendominasi dalam menyumbangkan hak suaranya di ajang pesta demokrasi, Pemilu 2019.
Hampir kebanyakan alat peraga kampanye memposisikan bahwa telah terjadi perebutan design yang lebih milenial. Tidak hanya politisi muda saja, bahkan politisi yang sudah zaman old pun tak luput dari design minimalis khas anak muda, khususnya dari segi fashion.
Namun sayangnya, para kontestan seakan tampak memaksakan diri, demi menggaet suara milenial dan hanya sekedar merubah image seperti sosok khas anak muda kekinian tanpa memiliki ruh atau narasi besar yang sebenarnya jadi kebutuhan dasar para milenial.
Seolah dipukul rata, model dan konsep kampanye masih mengandalkan metode cara lama. Padahal, harus diakui bahwa kondisi psikologis para calon pemilih yang masih tergolong baru ini masih bersifat labil dan mengambang.
Maka, wajar saja jika suara ambang kaum milenial menjadi rebutan para kontestan pemilu. Sehingga, dalam pemilu 2019 kali ini, ide gagasan visioner akan tenggelam dengan berbagai tingkah konyol untuk meramaikan pesta demokrasi terbesar di Indonesia.
Sementara itu, kecenderungan bagi tipikal kaum milenial yang sulit ditebak membingungkan langkah para kontestan pemilu untuk membuat suatu program nyata agar bisa menyentuh kebutuhan masyarakat secara luas.
Minimnya edukasi politik dan juga penyebaran informasi yang simpang siur juga menjadi tantangan terberat untuk dapat menentukan seperti apa passion bagi calon pemilih.
Hal itulah yang menyebabkan semakin bias pula jargon kampanye dan bahkan tak jarang terkesan hanya sekedar membuat sensasi agar mudah dilirik untuk kemudian diharapkan akan menjadi lumbung suara.
Oleh sebab itu, penyebaran kabar yang tanpa mengkroscek keakuratan data menjadi sumber utama munculnya pemberitaan hoaks selama pemilu kali ini.
Gayung bersambut, inilah masa politik ketakutan yang nantinya akan terus dilakukan oleh para generasi mendadak milenial untuk menarik simpati kalangan muda agar dapat meningkatkan partisipasi pemilih demi tetap berjalannya iklim demokrasi di Indonesia.
Banyaknya varian dalam bentuk komunitas yang diidentikkan dengan gaya hidup milenial saat ini juga akan berpengaruh untuk meraup suara pemilih.
Mari kita saksikan bersama, bagaimana riuhnya generasi mendadak milenial berjibaku meraih suara kaum milenial yang sesungguhnya.
Indonesia Controlling Community
Menyukai ini:
Suka Memuat...