Siapakah Enny Arrow?

587
Enny
Ilustrasi (Net)

Pertanyaan yang jawabannya selalu simpang-siur dan mengandung ketidakpastian adalah pertanyaan tentang siapakah Enny Arrow. Informasi dasar tentang Enny Arrow yang berseliweran di internet datang dari hasil riset Hari Gib, seorang peneliti dan pengoleksi karya-karya Enny Arrow. Hari Gib menyebutkan Enny Arrow adalah nama pena dari seorang perempuan, Eni Sukaesih. Eni Sukaesih lahir di Hambalang, Bogor, pada 1942 dan wafat pada 1995. Eni mulanya adalah seorang jurnalis ketika Republik Indonesia ini masih begitu muda. Lalu pada pemerintahan Sukarno, Eni diketahui pindah ke Amerika Serikat dan bekerja sebagai copywriter (Terungkap, Sosok di Balik Penulis Novel Erotis Enny Arrow, Azwar Anas, liputan6.com, 6 Oktober 2016).

Kembali ke Indonesia dengan alasan yang tidak diketahui dan kapan waktu tepatnya, Eni Sukaesih menjelma menjadi Enny Arrow dan merambah Pasar Senen ketika itu. Label yang mengusungnya, Penerbit Mawar, sama misteriusnya dengan penulisnya. Beberapa pedagang buku di kawasan Pasar Senen, Jakarta, bahkan tidak mengetahui buku stensilan ini datang dari mana karena distributornya selalu berganti-ganti. Berbeda dengan keterbukaan adegan seks di dalam  bukunya, penulis dan penerbit karya-karya Enny Arrow sangat tertutup. Perjalanan stensilan Enny Arrow jauh sampai ke Hongkong, tapi kisah penulisnya sangat pendek sehingga anti klimaks.

Ada beberapa hal janggal dari data Enny Arrow, seperti halnya kita semua dapat melihat batu Malin Kundang di Pantai Air Manis Padang, tapi kita tidak pernah tahu nama bapak si Malin dan bahkan nama ibu yang menyumpahinya, apalagi asal-muasal sebenarnya keluarga itu. Untuk seorang saudagar tersohor, tidak ada catatan sejarah atas namanya. Demikian pula dengan Enny Arrow. Karya-karyanya mungkin paling banyak dibaca semua kalangan dan laku keras hingga menghidupkan pasar gelap sastra erotis Pasar Senen, tapi tak satu pun ada catatan resmi tentang dirinya. Pengakuan dunia sastra? Apalagi. Pedagang Senen merasa yakin penulis ini tidak menginginkan uang sebagai tujuan utama, mereka lebih merasa stensilan Enny Arrow disuplai kelompok tertentu dengan tujuan tertentu (Kisah Tentang Enny Arrow yang ‘Menggelinjang’ di Pasar Buku Senen, Ahmad Masaul Khoiri, detiknews.com, 13 November 2015).

Baca Juga:  Ketimpanpangan Ekonomi Dan Rekomendasi Munas-Konbes NU

Benarkah Enny Arrow disuplai kelompok tertentu dengan tujuan tertentu? Untuk apa? Pertanyaan ini tiba-tiba sulit dijawab, sesulit anak muda zaman itu mencari  karya-karya Enny Arrow. Enny Arrow sebenarnya ada di rak belakang tempat penyewaan buku, sebuah tempat nongkrong yang masa itu memberi andil besar mendorong generasi muda Indonesia mempunyai minat baca tinggi dan mengenal nama-nama penulis besar. Tapi tidak selalu Enny Arrow seketika dapat ditemui, bukan karena Enny Arrow tidak disediakan, tapi karena kencangnya perputaran stensilan Enny Arrow di antara pembaca. Enny Arrow harus dijilid ulang dengan menjahit halamannya seperti menjahit sepatu dan kebanyakan sudah sangat lusuh—terutama di halaman-halaman yang penuh adegan panas—walau bukunya terbitan terbaru. Kualitas buku stensilan memang tidak mewah, itu sepertinya disengaja penerbit Enny Arrow untuk memberi image karya sastra ini memang untuk seluruh rakyat Indonesia. Dalam hampir dua dekade masa jayanya, Enny Arrow lebih menampilkan dirinya sebagai sastra jalanan dan jalangan dengan kualitas buku seadanya dan lukisan sampul yang khas, sama sekali tidak menarik dan menjual, tapi ternyata distributornya (beberapa pria yang berganti-ganti orang) ditunggu tiap bulan oleh pedagang buku Pasar Senen.

Sejak stensilan ini pertama kali terbit di akhir era 70-an, Enny Arrow adalah buku yang paling dicari pembaca dan paling menguntungkan pedagang Pasar Senen. Pedagang bisa mengambil untung hingga 200%, melayani pembelian ke seluruh Indonesia dan bahkan ke luar negeri. Ini juga mungkin yang menyebabkan dahulu pedagang tidak mau tahu siapa penulis dan penerbitnya, baru setelah sekarang Enny Arrow telah tiada dan pasar buku stensilan berganti vcd porno, mereka duduk merenung, menyadari ada banyak misteri di belakang Enny Arrow. Dan kita akhirnya juga tidak memperoleh banyak informasi untuk dicolok dan dikorek dari mereka, padahal mereka adalah satu-satunya penghubung kita dengan penerbit dan Enny Arrow sendiri.

Baca Juga:  Membayangkan Indonesia Tanpa Jokowi

Akhirnya kita semua harus kembali kepada hasil riset Hari Gib. Saya tidak tahu dari mana Hari Gib memulai pencariannya yang luar biasa ini hingga mendapatkan data kelahiran Enny Arrow dan memastikan pada publik bahwa dia adalah seorang perempuan. Dia juga memastikan pada kita bahwa Enny Arrow atau Eni Sukaesih, telah meninggal pada tahun 1995 di usia 71 tahun, usia fantastik menurut saya yang dapat dicapai seorang penulis aktif. Tapi di mana kuburannya?

Data yang diberikan Goodreads mungkin yang paling lengkap, tercatat Enny Arrow bahkan memiliki sebuah novel selama di Amerika Serikat berjudul Mirrow Mirrow dan disebutkan: …Enny Arrow mencoba menuliskan beberapa karyanya di koran-koran terkenal Amerika Serikat. Saya tidak tahu kata ‘mencoba’ di sana bermakna telah dimuat karyanya atau sesuai KBBI mencoba artinya ‘berusaha melakukan (berbuat) sesuatu’. Ok, tapi di mana keberadaan novel Mirrow Mirrow dan apa nama koran-koran ternama itu, setidaknya satu saja?

Tidak akan ada jawaban pasti untuk ini. Seperti halnya stensilan Enny Arrow saat ini diburu pembaca dan terutama kolektor, novel Mirrow Mirrow mestinya sangat menjual sekali, mau seperti apa pun isinya. Kita tidak akan menjumpai sesuatu yang pasti sepasti orgasme tokoh-tokoh yang Enny Arrow ceritakan, setelanjang deskripsinya yang detail dan gamblang yang menjadi gaya menulisnya. Enny Arrow ternyata sangat misterius dan tertutup. Ada apa dengannya?

Abdullah Harahap, penulis se-era dengan Enny Arrow tapi dengan genre erotis-horror, bersaksi bahwa Enny Arrow adalah temannya sesama suku Batak. Mengapa Enny Arrow menyembunyikan identitasnya, menurut Abdullah karena Enny Arrow tidak terlalu ingin cucu-cucunya mengetahui dia telah membuat karya seperti itu. Sayangnya Abdullah Harahap tidak ingin menunjukkan alamat pasti sang penulis. Berbeda dengan Hikmat Kurnia, Ketua Ikapi Jakarta, dia mengaku pernah bertemu 2-3 orang penulis Enny Arrow dan merasa Enny Arrow hanyalah merek dagang. Bagaimana dengan pembaca Serikat News? Merasa Enny Arrow adalah seorang perempuan mantan jurnalis yang lama di Amerika Serikat yang kesal dengan dunia sastra lokal masa itu lalu membuat tandingan sastra jalanan dan jalangan, atau dia hanyalah sebuah merek dagang atas permintaan pasar bacaan erotis yang hangat menggelora pada masa itu?

Baca Juga:  NU, PMII Dan Islam Radikal

Saya sendiri yang mengusung hashtag Enny Arrow Reborn di semua Tulisan EA, merasa informasi tentang diri Enny Arrow semuanya janggal dan layak dipertanyakan. Tapi saya setuju Abdullah Harahap, penulis Enny Arrow lebih terasa sebagai seorang Sumatera karena beberapa kata pilihannya seperti ‘menggelinjang’ atau ‘jalang’, adalah kata-kata yang kental dalam ucapan sehari-hari orang Sumatera ketika mereka membincangkan sesuatu yang cabul. Sedikit tambahan untuk kita pikirkan sebelum berkeringat nanti malam, ‘Arrow’, nama belakang yang dipilih Enny adalah untuk mengenang tempat kerjanya, sebuah Taylor atau tempat menjahit pakaian. Entah bila masa sempat-sempatnya Enny menjadi penjahit sebelum berangkat ke Amerika Serikat sebagai Copywriter