Puisi-Puisi BJ. Akid

56
malam
Ilustrasi: Pixabay

Bermalamlah Di Sini

Bermalamlah di sini, menikmati pesona-pesona rembulan yang senantiasa kita diskusikan, barangkali kita akan selalu tahu, bahwa yang bersatu hanyalah waktu, di mana merindu adalah  jalan satu-satunya menjelang langit basah dari sinar purnama, sementara kepekatan hanya milik kita, belajar memandang dengan mata terpejam, untuk menerima segala yang hilang, maka aku harus bertandang dalam menghirup aura nafasmu dan kesedihan seakan-akan menyuruhku agar cepat berlalu; berlalu dari suasana tunggu, selepas dingin matamu menunjukkan warna sayu.

Pada tatapan ke sekian, yang melupakan makna keterasingan, aku raba lembut suaramu, seperti angin pagi yang ikhlas menerpa daun padahal aku sudah terluka menenun renung, sehingga rasa yang aku kendarai tak lagi menghafal perihal arah cinta, separuh jiwaku hilang, diasinkan aroma mawar, mungkin pada ingatan kesembilan, engkau pasrah untuk berenang, bergelak tawa pada bening sandiwara, membawaku lekas bercerita tentang segala pesona di sepanjang luka.

Kota-kota yang sekian lama tertulis, rupanya cukup menyimpan amis, menghangatkan warna darah pada jalan menuju sejarah, sementara kita telah tersesat di tengah-tengah bola mata,  menahan air mata, pada suatu pandang yang begitu menyiksa, tersenyumlah meski kesedihan telah menjadi risalah dalam perjalanan kita yang serba pasrah, agar kita saling mengejar kemungkinan, ditubuh awan yang berparas hujan.

Lubtara, 2019

Kepada Zilan

I
Selalu tentangmu, Zilan. Pagi dan siang meremas perasaan, terikat di penghujung kemarau, burung-burung mulai bersandiwara, melafalkan dosa-dosa kita yang telah gugur menjadi cahaya, di sana selalu aku tenun beragam makna, mencari sumber kepercayaan dari riak ombak dan hujan, meski kepergianmu mulai bertandang pada daun-daun yang berjatuhan, aku rayu angin dan mata hari, supaya kelukaan ini cepat kita sadari, sadar untuk menempuh jalan menuju tuhan, sebelum nama-nama musim kandas di kegelapan, andaikan kau baru saja datang dari doa yang telah aku kirimkan, barangkali kau akan lebih tahu, bahwa waktu dan bisu adalah ragu, maka cinta yang aku kendarai sepanjang malu, terpaksa aku ambil demi keserasian hidup yang berdenting.

Baca Juga:  Surat untuk Presiden Jokowi: Mimpi Anak Negeri dan Kesadaran Akan Tujuan

II
Zilan; daun-daun yang gugur di akhir petang, dan rindu-rindu yang selalu ramai, seakan-akan menyambut raut cintamu yang mulai pudar, sementara aku bangun dengan mimpi kesiangan, lupa pada arah jalan pulang, tempat segala pesona engkau tuangkan di tepi jalan, tapi aku sangka tak mengapa, kalau rasa yang kau arsir adalah rindu, dan di hatimu segala kemungkinan cepat berlalu, aku akan berkelana mencari pertanyaan-pertanyaan di dasar cahaya, yang dulu kita buang di selat luka. Zilan sahabatku, jika suatu kali, kesedihan kita perkenalkan lagi, akankah kita saling bunuh diri Sebab kelukaan dilahirkan di waktu pagi, aku kira tiada, kita hanya butuh sepasang belati, agar hidup yang kita kendarai selalu berakhir dalam tuntunan Ilahi.

Lubtara, 2019