Saya, Jawa dan Islam

80
Jawa

Judul Buku      : Saya, Jawa dan Islam
Pengarang      : Irfan Afifi
Penerbit         : Tanda Bada
Tahun Terbit   : 2019
Jumlah Hal.    : 221
ISBN              : 978-623-90624-1-5
Peresensi       : Ahmad Dahri

Belajar Mawas Diri untuk Mengenal Diri

Al Insanu Sirri, Wa Ana Sirruhu, manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasia mereka. Begitulah kutipan hadis qudsi yang menjadi penanda bahwa manusia memiliki ruang gerak yang tidak lepas dari jangkauan Tuhan. Istilah mulat sarira adalah pendekatan ruhaniah manusia untuk mengenal lebih jauh lagi diri yang sejati. Dengan demikian pendekatan man arafa nafsahu arafa rabbahu adalah wujud dari mawas diri tersebut (mulat sarira).

Buku “Saya, Jawa dan Islam” karya Irfan Afifi adalah manifestasi pemikiran yang kaya dan syarat akan laku suluk menuju proses pengolahan diri. Pada akhirnya akan menjadi serumpun gagasan untuk mengenali diri, dan memahami proses keberlangsungan kehidupan, serta menumbuhkan kembali kesadaran bahwa keberadaan ontis manusia serta tujuan teleologis akhirnya selama ia hidup atau berada di dunia ini (hal. 43).

Ajaran Jawa yang—oleh kebanyakan orang dianggap memiliki unsur Hinduistik terbantahkan. Ketika temuan Doktor Cornel dalam 500 naskah di keraton Surakarta ternyata hanya 17 naskah yang berbau Hinduisme dan—bahkan terdapat 30 teks yang justru jelas-jelas Islam dalam isinya (hal. 23). Pergulatan penulis dalam menemukan atau mengulik keislaman dan kejawaannya adalah proses yang memakan waktu tidak sebentar. Apalagi dengan berbagai pergulatan hati dan pikiran yang kadang terkesan bertolak belakang. Lalu bagaimana seseorang yang telah kelewat jauh dan sentimental menjelaskan Islam Jawa ke dalam tiga varian seperti Santri, Abangan dan Priyayi diktat dari Clifford Geertz, atau ketika menjelaskan warisan Islam Jawa setelah terpisahnya Jawa ke dalam dua kerajaan besar, Kasunanan dan Kasultanan. Atau bagaimana menjelaskan Jawa yang dulu sebagai aksioma kebudayaan kemudian mengerut menjadi kejawen? Tubuh saya benar-benar semakin bertambah berat (hal. 28).

Baca Juga:  Mencapai Indonesia Merdeka

Konsep mawas diri atau mulat sarira bukan hanya semacam teori yang disampaikan oleh penulis, dalam hal ini Irfan Afifi menyampaikan apa yang ia ketahui kemudian ia elaborasikan ke dalam sebuah makalah dengan bahasa yang santun dan—tanpa menggurui. Dengan kata lain, buku ini kaya akan sikap mulat sarira seperti pengamalan dari ngelmu rasa. Sehingga segala sesuatu pasti memiliki kesejatian rasa atau rahsa terdalamnya. Karena laku olah diri mengenali “ra(h)sa” terdalamnya adalah sebuah pertaruhan yang berujung pada pertemuan dengan “diri (se)jati”-Nya (hal. 85). Kedalaman laku seseorang mempengaruhi terhadap sikap seseorang tersebut. Dalam hal ini secara meterialistik yang tampak adalah pola sikap terhadap sesama. Secara khusus—personal yang merasakan perjalanannya, dalam hal ini sankan paraning dumadi.

Tidak banyak yang mengapresiasi warisan pemikiran bangsa Jawa, dan tidak sedikit yang bangga dengan pemahaman intelektual barat dan timur tengahnya. Dalam buku ini Yasadipura, Ranggawarsita, Suryamentaraman, Empu Supa, menempati posisi sebagai filosof Jawa. Jika warisan intelektual bangsa Jawa dianggap sebagai bentuk mistik oleh kebanyakan orang, bagi Irfan Afifi tidak serta merta menyimpulkan demikian. Ia benar-benar menempatkan posisi pengetahuan yang bersifat intelektualitas dan spiritualitas. Lebih jauh lagi yang bersifat transenden.

Kumpulan tulisan ilmiah ini dalam buku ini memiliki segudang eksemplar pengetahuan tentang kesejatian. Dan yang paling penting untuk digali dalam setiap bab di buku ini adalah proses mawas diri itu sendiri. Karena untuk mengenal Yang Sejati perlu pengenalan yang detail terhadap diri, maka mawas diri adalah bentuk sirkulasi dari kepekaan-kepekaan yang muncul dalam logika dan hati setiap manusia. Sehingga bukan hanya kepada setiap manusia di jadad cilik (mikrokosmos) tetapi juga alam raya atau jagad gedde (makrokosmos). Sikap kita kepada alam merupakan bentuk universal sikap welas asih kita untuk menjaga alam sekitar kita atau ibu pertiwi. Sehingga degradasi moral bukanlah permasalahan yang pelik ketika kesadaran setiap personal untuk menjaga sikap. Barangkali sikap agresif terhadap alam dan prinsip serta pemahaman yang berbeda-beda (dalam hal ini ngeyel merasa paling benar sendiri) telah menjauhkan kita (manusia) dari rasa welas asih, seperti yang diajarkan oleh ibu kita saat membesarkan kita dengan penuh cinta (hal. 189).

Baca Juga:  Menuntaskan Kekerasan antara Agama dengan Manusia

Maka dari itu, buku ini menyajikan berbagai tesis-tesis untuk mengenal diri lebih dekat dan mendetail. Karena prinsip hubungan manusia dengan Tuhan dan alam adalah prinsip mulat sarira atau mawas diri itu sendiri.