Milenial, Jangan Golput

573
golput
Ilustrasi (Net)

Lelah dengan kegaduhan panggung politik? Rasanya sebagian masyarakat Indonesia dibuat lelah dengan situasi politik yang memanas sejak dimulainya masa kampanye pada September 2018. Perbedaan pilihan politik, seringkali menimbulkan argumentasi yang berujung perpecahan, baik di dunia nyata mau pun dunia maya. Teman tidak lagi berteman, tetangga tidak lagi bertegur sapa, bahkan hubungan suami istri pun menjadi tidak lagi harmonis, hanya karena perbedaan pilihan politik. Media online, media sosial, website dan jejaring sosial, tidak ada habisnya memberitakan berita-berita politik, mulai dari yang bersumber dan bisa dibuktikan kebenarannya, sampai berita bohong atau hoax.

Seorang teman mengatakan “mau 1 atau  2, yang penting pemilu cepat berlalu. Bosan dengan hoax dan hingar bingar politik”.

Sabar… Pesta demokrasi, memang akan segera berlalu. Hanya tinggal hitungan hari saja, dan tiba saatnya kita memilih Presiden yang akan memimpin Indonesia periode  2019-2024. Sudah siap dengan pilihanmu? Pilih nomor 01 atau nomor 02? yang penting jangan golput ya?

Dampak Golput

Masih ingat dengan Pilpres di Amerika Serikat tahun 2016? Perhelatan politik menegangkan yang akhirnya menghantarkan Donald Trump menjadi Presiden terpilih setelah mengalahkan pesaingnya, capres dari partai Demokrat, Hillary Clinton. Banyak kejutan terjadi dalam proses pemilu di Amerika Serikat saat itu.  Menurut beberapa lembaga survei, Clinton unggul di atas Trump. Dan melihat latar belakang Trump yang seorang pengusaha dan tidak memiliki pengalaman di bidang politik, banyak warga AS dan pengamat politik pesimis bahwa Trump bisa memenangkan pertarungan politik tersebut.

Pada saat itu, Clinton dan pendukungnya memiliki tingkat percaya diri yang tinggi, Clinton pasti menang. Namun, sikap optimisme berlebihan ini yang menjadi batu sandungan, sehingga banyak warga pendukung Clinton, justru memilih untuk menjadi golput, karena keyakinan yang berlebihan, bahwa pilihannya pasti menang. Di sisi lain, warga AS lain yang tidak mau terjun dalam urusan politik dan memilih abstain, justru merasa menyesal atas keputusan golput setelah Trump memimpin. Banyak pihak memprediksi bahwa salah satu faktor kemenangan Trump didukung oleh besarnya persentase pemilih golput yang sebagian besar adalah pendukung Clinton.

Baca Juga:  Monarchomacha, Kaum Pembangkang Sang Raja

Belajar dari pengalaman ini, kita harus bijaksana menentukan sikap dalam pemilu sekarang. Terutama untuk generasi milenial yang pemahaman politiknya masih terbatas, namun terdistraksi oleh perkembangan teknologi yang terlihat jauh lebih menggiurkan ketimbang terjun ke urusan politik. Padahal generasi milenial punya peranan penting loh!

Generasi Milenial, Sasaran Empuk Para Kandidat Capres

Istilah Milenial, tentu tidak lagi asing di telinga kita. Generasi yang tumbuh dewasa berdampingan dengan pertumbuhan teknologi secara besar-besaran ini dianggap sebagai generasi yang memiliki dampak signifikan di kancah politik. Jumlahnya yang cukup besar menjadikan generasi ini terus digoda oleh masing-masing kandidat calon Presiden untuk mendulang suara mereka dalam pemilihan umum.

Menurut data terbaru yang dirilis KPU pertanggal 15 Desember 2018, jumlah pemilih pemilu 2019 adalah 192.866.254. Dari total jumlah ini, hampir 40% adalah pemilih milenial yang berada direntang usia 17-34 tahun. Besarnya jumlah pemilih milenial ini memang banyak mengubah gaya kampanye para kandidat dengan harapan mampu menarik minat para milenial untuk berpihak. Sebut saja pasangan Jokowi-Ma’ruf, di mana Jokowi selalu tampil dengan pakaian yang bergaya milenial, membuat vlog yang berisi keseharian Jokowi yang dibuat dengan gaya ringan, sederhana, namun sesuai dengan selera milenial. Tidak kalah dengan kandidat 01, pasangan Prabowo-Sandi juga dianggap cukup milenial dengan kehadiran Sandi yang secara usia memang paling muda diantara para Capres dan Cawapres, serta dipandang mampu memberikan ide-ide yang inovatif dan kreatif bagi kaum milenial.

Tantangan Menghadapi Generasi Milenial

Namun, gayung kurang bersambut. Generasi yang diharapkan bisa memberi banyak dukungan ini, justru memberi pekerjaan rumah yang cukup berat. Karakteristik unik generasi milenial yang cuek, narsis serta lebih peduli kepada eksistensi pribadi menjadi tantangan karena kebanyakan dari mereka memilih tidak mau terjun dan terlibat dengan urusan politik.

Baca Juga:  Aksi Membela Palestina Menuju Negara Merdeka

Berbagai usaha yang dilakukan para kandidat untuk menarik perhatian kaum milenial ini ternyata masih ditanggapi dingin oleh generasi ini. Kisruh politik yang terjadi di dunia maya serta munculnya badai hoax, ujaran-ujaran kebencian dan perang argumentasi yang seringkali menimbulkan perpecahan, membuat generasi ini menjadi bingung dan kehilangan arah, sehingga banyak dari mereka memilih untuk tidak memilih alias golput.

Saatnya Generasi Milenial Unjuk Gigi

Memberikan suara dalam pesta demokrasi adalah hak dan kewajiban setiap warga negara yang telah memenuhi syarat administrasi. Sebagai warga negara yang baik dan peduli dengan masa depan bangsa, jelas tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memilih. Generasi milenial adalah generasi masa depan yang akan menjadi penggerak bangsa dan dalam 10-15 tahun ke depan. Generasi inilah yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan negara di masa depan. Suara milenial yang jumlahnya cukup besar, tentu saja akan membawa dampak yang juga besar dalam pemilu.

Kita memiliki dua kandidat yang masing-masing memiliki keunggulan yang patut diperhitungkan. Perbedaan pilihan dalam politik adalah hal wajar, namun jangan sampai perbedaan pilihan ini memecah belah persatuan dan kesatuan. Sebagai generasi cerdas dan punya kepedulian yang tinggi, generasi milenial wajib menggunakan hak suara untuk membawa perubahan bagi masa depan bangsa yang lebih baik. Golput bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah tindakan ketidakpedulian. Ayo gunakan suaramu, dan kita kawal proses pemilu aman dan jujur. Siapa pun yang terpilih nanti, semoga bisa membawa Indonesia lebih baik dan rakyat lebih sejahtera. Milenial, saatnya unjuk gigi.