Obesitas Pada Anak, Kenali Gejala dan Cara Menghindarinya

7
obesitas
Ilustrasi: Liputan6

SERIKATNEWS.COM – Ditemukannya kasus terakhir obesitas pada anak di Karawang menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan bangsa ini. Sebagaimana diketahui bahwa kondisi obesitas pada anak akan mempermudah terjadinya penyakit-penyakit pada anak-anak tersebut, seperti resistensi insulin dan DM tipe 2, hipertensi, hiperlipidemia, gangguan jantung, gangguan pada hati dan ginjal, gangguan pada sendi.

Keluhan-keluhan yang sering muncul pada mereka yang mengalami obesitas adalah gangguan bernafas, sleep apnue (sesak nafas saat tidur), gangguan konsentrasi, mudah lelah yang tentunya akan menurunkan kemampuan belajar dan ketidakmampuan untuk memobilisasi diri sendiri. Keadaan ini mendesak semua kalangan untuk memberikan perhatian lebih pada kasus ini karena masa depan bangsa bergantung pada tingkat kesehatan mereka saat ini.

Menurut Dr. Michael Triangto, spesialis kedokteran olahraga di RS Mitra Kemayoran dan Direktur Slim and Health Sport Centre Jakarta, jika obesitas anak ini terabaikan, maka pada akhirnya akan menurunkan kualitas angkatan kerja di masa mendatang dan menurunkan kemampuan negara dalam berkompetisi di tingkat dunia.

“Secara klasik mengatasi obesitas pada pasien dewasa adalah dengan mengurangi asupan kalori melalui program diet yang sehat dan meningkatkan aktivitas fisik, namun hal ini tidak dapat langsung di aplikasikan pada anak karena mereka bukanlah miniatur orang dewasa. Oleh sebab itu perlu disiapkan strategi khusus dalam mengatasi kasus ini dan bukan hanya diselesaikan dengan jalan operasi bariatrik,” jelas Dr. Michael Triangto melalui keterangan tertulisnya yang diterima serikatnews.com, Rabu (11/9/2019).

Dr. Michael Triangto menjelaskan bahwa ada lima strategi untuk mengatasi kasus ini, di antaranya: Pertama, mengubah pola makan yang ada dan bukan dengan diet ketat semata karena pasiennya adalah anak yang masih membutuhkan pertumbuhan tubuh yang optimal. Kedua, meningkatkan aktivitas fisik dalam bentuk permainan dan bukan latihan beban yang nantinya meningkatkan risiko cedera (perlu diingat bahwa mereka meski bertubuh “bongsor” namun sebenarnya pertumbuhannya masih belum selesai), menjaga motivasi anak untuk mau tetap melakukan aktivitas fisik karena latihan yang dilakukan dirasakan sebagai bagian dari permainan dan bukan keharusan melakukan “olahraga”.

Baca Juga:  Banser Pamekasan Siap Jaga Madura dari Serangan ISIS

Ketiga, meningkatkan motivasi melalui pendidikan yang mampu dipahami oleh sang anak agar ia tetap mau melakukan diet juga aktivitas fisik secara teratur. Keempat, mendidik orang tua anak agar tidak selalu mengizinkan apa yang diminta atau oleh anaknya.  Hal ini penting untuk disadari oleh orang tua karena salah satu faktor terjadinya obesitas pada anak mereka adalah karena sering kali para orang tua membebaskan anaknya untuk mengonsumsi makanan dengan memberikan uang jajan tanpa mempertimbangkan faktor gizi yang perlu dan tidak perlu dikonsumsi oleh sang anak. Kelima, Untuk menunjang keberhasilan program ini tentunya harus dibentuk tim yang terdiri dari berbagai bidang keilmuan baik kedokteran maupun yang di luar kedokteran.

Dr. Michael juga menambahkan bahwa berbagai tahapan pengobatan yang harus dijalani oleh pasien obesitas tidak hanya memakan waktu, tenaga dan kesabaran, namun juga dana yang besar. Oleh sebab itu, pencegahan terjadinya obesitas menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan baik bilamana negara turut serta dalam mengatasinya dengan mendorong terlaksananya edukasi pada masyarakat dan kerja sama lintas sektoral karena masalah obesitas dan kesehatan ini erat kaitannya dengan bidang industri, ekonomi, hukum, iptek, telekomunikasi dan bidang-bidang lainnya.