Connect with us

Sosial

Peneliti LBM Nilai RI Belum Siap New Normal

Published

on

© Gesuri

SERIKATNEWS.COM – Peneliti Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Pradiptajati Kusuma menanggapi rencana pemerintah yang akan menerapkan kehidupan normal baru (a new normal) di tengah pandemi Covid-19.

Pradiptajati mengatakan bahwa negara-negara yang melakukan pelonggaran restriksi sosial karena jumlah kasus di negara tersebut sudah menunjukkan angka penurunan kasus setiap harinya sebelum new normal dijalankan.

Dikabarkan bahwa beberapa negara seperti Korea Selatan, Jerman, dan Singapura akan menerapkan new normal pada 1 Juni 2020 mendatang.

“Singapura saat ini kasus komunitas sudah di bawah 10 atau maksimal belasan per harinya. Ini mungkin karena sangat dibantu dengan kedisiplinan masyarakatnya dan ketegasan sanksi dari pemerintahnya,” kata Pradiptajati seperti dilansir dari CNBC Indonesia, Rabu (27/5/2020).

Di Indonesia, penyebaran kasus positif Covid-19 masih terbilang cukup tinggi. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat hingga Selasa (26/5/2020), jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 mencapai 23.165 orang. Jumlah tersebut bertambah 415 orang dibandingkan dengan sehari sebelumnya.

Menurut Pradiptajati, Indonesia bisa mencontoh Jerman yang melakukan secara bertahap pelonggaran lockdown. Jerman mulai melakukan pelonggaran lockdown saat jumlah kasus positif di negaranya mencapai 400 orang per hari. Setelah melewati peak yang mencapai 6.000 kasus per harinya.

“Jadi memang sudah menurun, meski ekornya belum ketahuan di mana. Sedangkan di Indonesia karena angka pemeriksaan sedikit, jadi peak-nya belum ketahuan. Jadi mereka melonggarkan restriksi sosial, setelah angka kasus jauh di bawah. Apakah Indonesia sudah siap untuk melonggarkan restriksi sosial? Kalau dibandingkan dengan standar dari negara lain sih, belum ya. Tapi juga restriksi sosial di Indonesia juga tidak seketat negara lain,” jelas Prapditajati.

Menurut Pradiptajati, apabila ada masyarakat yang ingin melakukan suatu hal yang mendesak di luar rumah, memang harus dilakukan phsycial dan social distancing, juga hygiene yang baik seperti menggunakan masker dan sering cuci tangan.

Baca Juga:  Kapolda Sumbar Dorong Masyarakat Patuhi Protokol New Normal

Pradiptajati mengatakan yang dimaksud a new normal di tengah pandemi ini adalah hal-hal yang sebelumnya jarang dilakukan, namun saat ini harus dilakukan, seperti kultur hygiene dan social distancing.

“Apabila ingin berdamai dengan virus korona pun, butuh skenario mitigasi untuk kemungkinan terburuk. Misal, skenario containment jika ada penyebaran masif lokal, ketersediaan fasilitas rumah sakit kesehatan, sarana pengobatan yang baik, dan seterusnya. Jadi tetap butuh data dan pemantauan. Gak bisa berdamai gitu aja. Apalagi untuk citizen dengan risk factor yang tinggi,” katanya.

Advertisement

Popular