SERIKATNEWS.COM – Rasa percaya diri dapat mendorong seseorang untuk mewujudkan tujuan yang dicapai. Karena itu, rasa percaya diri penting untuk dibangun sejak dini.
Tak jarang anak mengalami rasa minder. Faktor pemicunya banyak, salah satunya dari pola asuh orang tua di rumah yang tanpa disadari ada beberapa kebiasaan yang justru membuat anak menjadi minder.
Dikutip dari CNBC Indonesia, Selasa, 28 Februari 2023, berikut sejumlah faktor penyebabnya menurut para ahli:
Pertama, kurang dorongan dari orang tua. Berdasarkan studi yang dilakukan para peneliti di McGill University di Montreal, Kanada, sifat dan kepribadian seorang anak lebih dipengaruhi perilaku orang tuanya ketimbang genetika. Para ilmuwan juga meyakini peran warisan genetika lebih sedikit menentukan perilaku anak ketimbang faktor lingkungan.
Raksha mengutip pernyataan psikolog Dr Sushma Mehrotra, bahwa apabila orang tua memberikan rangsangan yang benar, maka anak yang biasa-biasa pun bisa menjadi cemerlang. Namun, apabila kurang dirangsang, anak yang cerdas juga tidak akan mencapai potensinya secara maksimal.
“Kita tidak bisa mengendalikan gen yang kita turunkan. Namun, kita bisa memengaruhi lingkungan tempat anak-anak kita dibesarkan,” katanya. Menurut Raksha, orang tua merupakan pengaruh terkuat untuk membentuk nilai dan harga diri anak.
Kedua, kurang mendapatkan perhatian. Rasa percaya diri anak dipengaruhi oleh dukungan yang didapatkan dari kedua orang tuanya. Orang tua yang terlalu sibuk dan kurang memperhatikan anak bisa membuat anak merasa dilupakan, tidak diinginkan, atau kehadirannya tidak penting. Dampaknya pada rendahnya rasa percaya diri anak.
Ketiga, terlalu dikekang. Orang tua yang terlalu protective seperti banyak melarang anak, terlalu ikut campur dalam keputusan yang anak buat, pada akhirnya membuat anak tidak percaya diri. Jika anak tidak pernah diberi kesempatan untuk membuat keputusannya sendiri, maka dampaknya anak merasa tidak bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan dan kehadiran orang tua.
Keempat, faktor lingkungan. Pola hubungan dengan lingkungan seperti dengan teman sebaya, keberhasilan dan kegagalan di sekolah, pengalaman positif atau negatif juga memengaruhi perkembangan psikologis anak.
Kelima, orang tua menilai kemampuan anak berdasarkan nilai akademiknya. Hal ini sering terjadi, orang tua hanya menilai kemampuan anak berdasarkan nilai dan prestasi akademik yang diperolehnya. Ketika anak mendapatkan nilai yang kurang baik, banyak orang tua langsung melabeli anak kurang pintar. Bahkan, memarahi anaknya karena mendapat nilai buruk. Jika terjadi terus-menerus, hal ini berdampak pada rendahnya rasa percaya diri anak.
Jadi, orang tua memang seharusnya bertindak bijak. Kebiasaan yang dilakukan bersama anak harus bersifat yang bisa menjaga dan meningkatkan rasa percaya diri anak. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...