SERIKATNEWS.COM – Koordinator Nasional (Koornas) Himpunan Aktivis Milenial (HAM) Indonesia, Asep Irama menyambut baik rencana Gibran Rakabuming untuk maju dalam Pemilihan Wali Kota (Pilwakot) Solo yang akan dilaksanakan tahun 2020 mendatang.
Menurut Asep, pilihan politik Gibran harus diapresiasi. Pasalnya, konstitusi memberikan kebebasan kepada setiap warga negara untuk dipilih dan memilih. Asep menjelaskan bahwa anak presiden, anak petani dan anak nelayan memiliki kedudukan dan derajat yang sama di mata hukum.
“Secara konstitusional tidak perlu ada yang perlu dipersoalkan tentang rencana Gibran yang berniat maju dalam Pilwakot Solo. Karena dalam konstitusi, semua memiliki kedudukan sama di mata hukum. Demikian juga dari sisi politik, pilihan Gibran harus disambut baik sebagai bagian dari upaya untuk ikut serta dalam membangun Solo,” kata Asep dalam keterangan resminya, Senin (28/10/2019).
Apalagi, kata Asep, berdasarkan hasil survei yang digalang Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo, Jawa Tengah, popularitas Gibran mencapai 90 persen. Bahkan dari sisi akseptabilitas, Gibran mengantongi angka 61 persen berdasarkan survei tersebut.
“Munculnya nama Gibran dalam survei menunjukkan bahwa ada harapan dari masyarakat, yang selanjutnya perlu dikontekstualisasikan dalam bentuk rencana program yang akan dikerjakan misalnya jika menjadi Wali Kota Solo,” imbuh Asep.
“Secara moral dan politik, Gibran punya tanggung jawab untuk mendengarkan suara dan harapan masyarakat jika mengacu kepada hasil survei,” sambung alumnus Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta tersebut.
Soal tudingan bahwa Gibran berpotensi menjadi pemicu munculnya politik dinasti dalam keluarga Presiden Jokowi, Asep meminta publik jangan tergesa-gesa membuat kesimpulan.
“Presiden Jokowi sangat demokratis. Bahkan soal rencana pencalonan Gibran, ia menyerahkan pilihan kepada yang bersangkutan. Jadi publik tidak perlu berspekulasi secara berlebihan bahwa munculnya nama Gibran dalam Pilwakot Solo akan mengakibatkan munculnya dinasti politik. Presiden Jokowi tidak pernah saya kira ikut campur soal pilihan politik Gibran,” jelas Asep.
Menurut Asep, tidak elok jika menghakimi Gibran hanya karena anak Presiden Jokowi. Kata dia, yang jauh lebih penting sebetulnya apa yang bisa ditawarkan Gibran untuk Kota Solo. “Jika memang Gibran memiliki visi yang berorientasi pada peningkatan pembangunan Kota Solo dalam sejumlah aspek, menurut saya tidak ada alasan untuk menolak Gibran,” imbuh Asep.
Apalagi saat ini, sebut Asep, pemimpin milenial sedang menjadi tren di sejumlah daerah. “Lazimnya energi anak-anak muda, termasuk Gibran memiliki kecenderungan karakter kepemimpinan yang fleksibel dan tidak menoton. Sehingga itu dibutuhkan dalam rangka menjawab perkembangan yang semakin cepat,” kata Asep.
Asep menegaskan dirinya tidak hendak membela Gibran dalam kapasitas sebagai anak Presiden, melainkan sebagai upaya menyadarkan publik untuk memberikan ruang yang sama kepada milenial guna menjadi pemimpin.
“Sekarang respons publik terhadap anak-anak muda yang sedang berusaha membangun karier politiknya sangat jauh dari ekspektasi. Ini menjadi mimpi buruk dan tantangan yang harus dihadapi milenial, termasuk Gibran. Karena memang sudah selayaknya pemimpin bangsa ke depan diwariskan kepada anak-anak muda,” tandasnya.
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...