Tangkap Prabowo, Dan Keyakinan Jokowi Ketika Yang Lain Meragukan

178
prabowo
Ilustrasi (Net)

Berita heboh. Prabowo dikenai pasal makar. Banyak yang tak paham. Namun, jika melihat tanda-tanda yang disampaikan Jokowi, publik mestinya paham siapa Jokowi. Siapa Jokowi? Kenapa baru sekarang Prabowo akan ditangkap? Karena pasal tentang makar sudah terpenuhi. Namun, di balik itu publik juga musti paham karakter Jokowi.

Bagi yang pernah bersentuhan kerja dengan Jokowi, pasti paham. Jokowi orang yang tegas. Kadang tidak bisa diatur. Tidak bisa diintervensi. Sikap ini adalah bawaan Jokowi. Urusan pekerjaan dia tidak pernah diskusi dengan Iriana. Iriana memiliki tanggung jawab sendiri sebagai Ibu Negara.

Petarung Cerdas dan Tegas

Kasus keras kepalanya Jokowi salah satunya disebut oleh orang terkuat Indonesia saat itu: Setya Novanto. Setya berusaha mencari peluang, dengan menjual nama Jokowi. Lewat orang-orang terdekatnya. Bahkan Jokowi disebut. Luhut Binsar Pandjaitan dicatut. Darmo disebut juga. Semua disebut sebagai bagian untuk menghancurkan Jokowi.

(Faktanya. Kasus Freeport Papa Minta Saham adalah kasus operasi paling keren dalam sejarah perang mafia. Sudirman Said dipasang untuk berteriak. Dia menjadi pion yang dikerjai. Padahal dia adalah orang JK. Dia dipasang sebagai proxy untuk menghantam orang sekeliling Jokowi. Padahal targetnya adalah menghancurkan mafia. Reza Chalid dan Setya termakan. Begitu Sudirman Said – dan didukung Said Didu – selesai dipakai, SS dibuang ke tong sampah politik. Dia menjadi paria. Anak yatim. Bahkan JK sendiri menjauhinya. Kegagalan operasi SS di Jateng adalah hiburan tipuan buat SS.) Dan, Jokowi tahu semua itu.

Tentang Prabowo? Banyak yang meragukan tentang kemenangan Jokowi. Namun, Jokowi yakin dia akan menang. Sebagaimana yang dia sering sampaikan.

“Saya adalah petarung. Kalau saya sudah maju, saya tidak pernah kalah!” papar Jokowi di hadapan saya, pada jelang Pilgub DKI 2012. Hebat ini orang. Dan itu selalu dibuktikannya.

Baca Juga:  Tidak Ada Skenario Politik Dalam Negeri dan Rekayasa Dalam Kasus Terorisme

Banyak Pembelot

Pada Pilpres 2019 kejadian berulang. Jokowi diragukan akan menang. Buktinya? Kenapa Prabowo bisa mendapat dukungan BUMN? Kenapa pada Pilpres 2019 Jokowi hanya mampu meraup Rp 600 milyar sebagai incumbent? Ada apa dengan Jokowi? Padahal petahana. Di samping berita fitnah tentang Jokowi, juga karena hoaks yang disebar oleh kubu Prabowo.

Ketidakyakinan Jokowi menang ini merembet ke mana-mana. TKN tidak berjalan. Kiai Ma’ruf Amin berjalan sendiri dalam kampanye. Sak karepe ra iso diatur. (Namun, instink politik KMA terbukti bermanfaat untuk Jawa Timur dan Jawa Tengah. Meski rontok habis di Banten. Ya karena sejak muda dia berkarya di Koja bukan di Serang sana.)

Bahkan banyak menteri Jokowi tidak yakin Jokowi menang. Ada perbedaan sikap hati-hati dengan tidak yakin. (Saya termasuk yang sangat hati-hati melihat fenomena.) We prepare for the worst by striving to achieve the best. Itu motto Jokowi.

Tim Kecil Jokowi

Ketika posisi Jokowi stagnan dalam posisi 54% dan bahkan 52%, semua panik. Akibatnya, pendanaan kampanye seret. Semua diam. Pengusaha memainkan dua kaki. Nyumbang ke Prabowo dan Jokowi.Itu khas tabiat pengusaha. Akibat propaganda ala Trump, Prabowo mengeruk dukungan grass-roots juga.

Nah, di tengah pesimisme tersebut ada beberapa orang lingkaran Jokowi yang brilian. Politikus A memiliki keyakinan hebat. “Jawa Tengah 70%. Jatim 60%. Aman,” ungkap A, tiga bulan menjelang pencoblosan.(Dia yang menyorongkan Ma’ruf Amin bersama politikus B untuk menjadi cawapres Jokowi.)

Di tengah hiruk-pikuk itu, keprihatinan akan ritme kampanye yang lesu, akibat ketidakyakinan, muncullah tim kecil. Aktivitas kampanye yang terpecah-belah membuat kampanye tidak efektif. Tim banyangan TKN bekerja – dan setengah terkait dengan TKN. TKN hampir terdiskoneksi dengan Istana. Istana menunggu. Akhirnya, Tim kecil bekerja.

Baca Juga:  Membaca Indonesia dari Pojok Sekolah

Micro-targeting Politik, dan ini hanya diketahui oleh Jokowi dan tim kecil. Ternyata micro-targeting menjadi senjata pemetaan elektoral yang hebat. Tim ini dipimpin oleh A dan D. Didukung oleh orang Istana bernama E, tentu dengan restu B.

Tim ini mampu mengidentifikasi kebutuhan paling kecil sekali pun. Termasuk orang-orang dan tokoh lokal yang bisa menentukan kemenangan. Termasuk jadwal kampanye di Jatim, Jateng, Jabar, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan sebagainya. Tim ini pun bisa mengidentifiikasi potensi ‘pengecut, penipu, pembohong, penyusup’.

Timing Hantam Prabowo

Perhitungan orang awam berbeda dengan Jokowi. Dia panjang pikiran. Untuk bertindak tegas dan keras, dia punya strategi. Untuk urusan Prabowo, dia mengumpulkan para ahli. Pemetaan dilakukan. TNI/Polri harus jelas dan solid, baru bertindak. Caranya?

Jokowi memastikan Prabowo melanggar hukum. Itu tugas Polri. Tentang ritme arah bahaya, Jokowi mengandalkan BIN dan Bais TNI tentu. Perhitungan dimulai.

Dalam politik, siapa yang kuat dan cepat, dia akan menang. Skenario Prabowo untuk membuat chaos, dengan HTI dan khilafah bermain bersama teroris, sudah mengancam NKRI. Himbauan baik-baik sopan tidak digubris Prabowo. Timbul kekhawatiran TNI pecah dan menyeberang ke Prabowo – dengan berbagai alasan, korsa termasuk kepentingan ekonomi.

Begitu bukti-bukti inkonstitusional menghasut bersama Amien Rais, yang tidak mengakui KPU, menuduh curang tanpa bukti, menggerakkan people power. Itu saatnya Prabowo, Kivlan Zen, dan semua yang terlibat ditangkap. Bahkan Fadli Zon pun akan ditangkap, jika terus memrovokasi.

Omongan demonstrasi dijamin oleh undang-undang dan HAM, itu retorika busuk Fadli Zon. Faktanya pendukung Prabowo seperti HTI dan khilafah menolak demokrasi. Kegilaan untuk berbuat makar yang dibungkus mulut culas.

Nah, daripada terus berkembang ke arah chaos, maka Jokowi pun bertindak tegas. Kapolri mengirimkan surat penangkapan. Di benak Jokowi tentu terlintas. Jokowi adalah Panglima Tertinggi TNI. Dia saat ini adalah Presiden RI yang sah, sampai 20 Oktober 2019.

Baca Juga:  Monster dan Pemberontak Keluarga

Amerika pun menarik dukungan untuk Prabowo. Travel warning yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat mengindikasikan AS tidak mendukung Prabowo. Itu indikasi bahwa Prabowo akan mendorong chaos melalui narasi yang dibangun pemilu curang – bahkan sejak sebelum kampanye Pilpres.

Momentum yang pas ini menghantam Prabowo, khilafah, HTI sekaligus. Ini awal ketegasan. Ketegasan Jokowi membuat PKS diam karena di situlah kini bersemayam khilafah, HTI, Wahabi dan Ikhwanul Muslimin. Perkumpulan yang kasat mata.

Nah, dari rangkaian cerita itu, betapa Jokowi memanfaatkan orang, tokoh dan kesempatan dengan optimisme tinggi – dengan didukung orang dan pada saat yang tepat. Termasuk menghabisi Prabowo tanpa sisa.