Seorang anak melihat makhluk kecil terkurung di dalam botol. Dia bergegas untuk melepaskannya. Setelah berhasil keluar dari botol, makhluk kecil tersebut berubah menjadi raksasa dan ingin memakan si anak, penyelamatnya. Anak itu merasa tak adil, lalu berlari menuju lembah, menemui angin, sungai, dan gunung.
Anak itu bercerita tentang peristiwa yang menimpanya. “Bukankah tidak adil membalas kebaikan dengan kejahatan?” tanyanya. Angin menjawab,”Ah… aku memberi manusia udara yang bersih untuk mereka bernafas, tetapi manusia membalas aku dengan udara yang kotor.”
“Limbah!”
“Polusi!” sahut peserta yang terdiri dari anak-anak dalam acara Parade Dongeng Nasional di Taman Depan Museum Benteng Vredeburg, Minggu (26/02/2023). Parade ini merupakan rangkaian acara sarasehan yang dihadiri 90-an pendongeng dari berbagai daerah di Indonesia dan baru pertama kali dilaksanakan sejak dibentuknya Forum Pendongeng Nasional pada tahun 2015.
“Aku pikir benar sekali, kebaikan selalu dibalas kejahatan,” lanjut angin.
“Enggak adil!”
“Enggak adil!” sahut mereka lagi. Kak Ojan, meneruskan dongengnya.
Anak tersebut kemudian bertanya juga pada sungai dan gunung. Keduanya pun setuju dengan pendapat angin. Pasalnya, sungai telah memberikan air bersih untuk manusia, tetapi manusia mengotorinya. Pun gunung yang memberi pohon, kini manusia merusaknya.
Peserta yang mendengarkan dongeng itu tetap tidak setuju kebaikan dibalas dengan kejahatan.
Dongeng berakhir dengan tepukan meriah anak-anak dan tanpa kesimpulan. Kak Ojan, salah satu pendongeng bernama asli Ahmad Fauzan, memaparkan dongeng yang dibacakannya merupakan cerita folktale zaman dulu. Setiap dongeng berisi pesan yang beragam.
Menurut Kak Ojan, dongeng yang dibacakannya tadi memuat tentang nilai kehidupan, yaitu perbuatan baik harus dibalas dengan kebaikan pula. Namun, dalam teknik penyampaian dongeng, pendongeng tidak menggunakan bahasa yang menasihati supaya anak-anak mencari maknanya sendiri.
“’Jadi anak-anak, cerita ini tentang….’ Enggak gitu. Biarkan mereka menangkap pemahaman baru yang mungkin pendongeng tidak tahu,” papar Kak Ojan ketika dalam sesi wawancara (26/02/2023). Selain memuat nilai kehidupan tersebut, Kak Ojan tidak memungkiri adanya pemaknaan lain terkait pesan dari dongeng yang dibacakannya, seperti pesan untuk berbuat baik terhadap alam.
Dalam proses pemilihan tema dongeng, Kak Ojan menyebut beberapa tema yang sering dibawakan, yakni literasi dan edukasi, contohnya edukasi seks. Tema yang dipilih tergantung acara atau permintaan. Pun tak semua dongeng yang diceritakan merupakan karya pendongeng sendiri.
Kak Ojan menjelaskan bahwa profesi pendongeng berbeda dengan penulis cerita anak. Pendongeng belum tentu bisa menulis cerita. “Kalau pendongeng nerbitin buku, berarti profesinya dua, yaitu penulis dan pendongeng”. Pendongeng berkarya dengan lisan, bukan tulisan.
Kontributor Serikat News Daerah Istimewa Yogyakarta
Menyukai ini:
Suka Memuat...