PUISI-PUISI RUDI SANTOSO

854

Oleh: Rudi Santoso

PUISI YANG GELISAH SETELAH PERTEMUAN SINGKAT

Aku tidak pernah membayangkan tentang kesakitan lagi
Setidaknya pertemuan singkat denganmu
Telah merambat dalam ingatan
Puisi merobek hati
Menyeretku kedalam bayangan wajah manismu

Dari balik wajah mahasiswa-mahsiswa yang kebingungan dengan skripsinya
Kutelah menyukaimu

Lagi-lagi puisiku mulai gelisah
Menyuruhku untuk menuliskanmu
Menjadi doa-doa yang diminta kepada Tuhan
Untuk menjadi sepasang kekasih

Demi Tuhan aku menurutinya dengan sepenuh hati
Karena, aku pun mencintaimu
Dan rindu tumbuh dengan perlahan
Jogja, 2017

TUHAN ADALAH TEMPAT MENGADU SEGALA TENTANG CINTA, SETELAH PUISI MENULISNYA

Puisiku menulisnya seperti ini:
Pikiranku penuh dengan kata
Segala tentangmu telah tertulis untuk menjadi ingatan
Dimanapun kau berada aku akan mencarimu
Sebagai kekasih yang menemami dingin
Dari hujan yang selalu berganti musim

Lebih jauh puisku ingin mengenalmu lebih dekat
Ia menyampaikan pesan yang isinya demikian:
Kejar dan kecup keningnya
Bisikkan kepadanya
Bahwa kau bukan lelaki
Yang di pikirannya penuh dengan kata
Kata yang menjadi candu dari rindu

Kepada Tuhan aku berdoa
berikut isinya:
Tuhan aku jantuh cinta
Rindu telah menyala
Izinkanlah aku tumbuh di hatinya
Seperti dirinya yang mulai membuat akar di hatiku
Jogja, 2017

JANGAN PERNAH BERHENTI BERLARI MENUJU HATIKU, SEBELUM KAU BENAR-BENAR MENGATAHUI TENTANG SORGO YANG KUBUAT UNTUKMU, ADA BUNGA-BUNGA INDAH YANG TUNAMAM YANG BAUNYA SEPERTI AROMA PARFUMMU

Oh wanita yang cantik rupawan
Aku ingin membuat kisah hujan denganmu
Yang kerap meminta pelukan dengan nyala rindu yang tak berkesudahan

Cucuran keringatmu
Menggetarkan hatiku
Dan tak salah jika aku meng-amini
Bahwa cinta adalah perjuangan
Yang harus dikejar sebelum ia menyampaikan
“selamat tinggal, hapuslah dia dalam ingatanmu
Sebelum hujan, dia telah dimiliki orang
Tuhan lambat selangkah dalam mengabulkan doamu”
Jika kau tidak ditakdirkan menjadi milikku
Taman sorgo di hatiku akan terus kurawat
Dengan siapapun dirimu mapirlah sesukamu
Karena cinta juga sebagaian dari doa
bila tak bisa digenggam maka harus mengikhlaskannya
jogja, 2017

Baca Juga:  Tiga Ibu: Ibu Indonesia, Ibu Pertiwi, Ibu Bumi. Apa yang Bisa Kita Pelajari Dari Mereka?

SEEKOR KUPU-KUPU YANG LEBIH BERANI DARI CINTA

Seekor kupu-kupu telah berani menelanjangi matamu
Hinggap semaunya
Sebelum kata “mampir” kau persilahkan

Aku yang mencintai tak berani berlabuh disana
Atau cintaku takut terpanah oleh tajam matamu .?

Kau ambil kupu-kupu itu
Mengelusnya
Bibirmu sambil mengumbar senyum
Jika aku berani sepertinya
Mungkinkah kau juga mengambilku menjadi bagian dari hidupmu, juwitaku.?
Jogja, 2017

HUJAN DAN NOVEMBER

Tahun ini
Hujan dan November seperti sepasang kekasih yang tak bisa berpisah
Selalu ingin berjumpa
Ada cemas dan rindu
Dimana aku ingin memukmu
Sebab pelukan bukan candu dari dingin

Pertemuan adalah cara menghapus gelisah
Sebab rindu selalu meminta kecup kening
Dengan bibir kering, kemudian basah

Hujan dan November
Bukan milik kita
Dimana jarak membuat cemas
Dengan wajah yang beringas
Jogja, 2017

PERTEMUAN

Kita selalu meminta pertemuan sebagai nahkoda cinta
Kita selalu memperbincangkan dimana pertemuan mejadi hidangan makanan yang enak
Kita berharap pertemuan bukan perkara yang sakral dalam cinta dan rindu
Namun tetap saja ia tak mudah dikalahkan oleh ketulusan dan kesabaran
Pertemuan adalah misteri yang tak kunjung kita mengerti
Pertemuan adalah pertanyaan-pertanyaan yang kita miliki
Jogja, 2017

NASIBKU DI RIMBUN HATIMU

Aku tak tau apa yang terjadi
Tiba-tiba kau seperti singa yang ganas
Melihatku saperti mangsa

Hatiku bergetar mempertanyakan
Sudahkah hatimu membeku
Keras bagaikan batu karang
Sedangkan aku di hatimu
Menyelinap menjadi bunga-bunga
Untuk mengindahkan tamanmu

Aku terluka
Kau tiada
Hatiku penuh siksa
Jogja, 2017

BUKAN SUMPAH ATAU SAMPAH

Bukan sumpah atau sampah
Aku mecintai benar adanya

Bukan sumpah atau sampah
Untuk memiliku adalah keinginan yang nyata

Bukan sumpah dan sampah
Kau perempuan sudah memikat hatiku
Jogja, 2017

Baca Juga:  Aku dan Tuhan

API KENANGAN, API MANTAN

November datang menyalakan dingin
Ingatan kenangan kembali meledak seketika
Tantang pertemuan dengan mantan
-di taman
-di pinggir rel
Banyangannya menjadi api
Menyalalah rindu yang sudah lama kusiram
-agar padam

November datang membawa ingatan
tentang pantai yang mengisahkan
-cinta

November aku tak menyukaimu
Untuk mengembalikan ingatan yang sudah menemukan jalan pulang
Jalan pulang melupakan
-mantan
Jogja, 2017

SEPI LEBIH PUITIS DARI PUISI

Jika kau menganggap sepi adalah kutukan
Maka kau telah berbuat salah besar dalam hidupmu
Sepi adalah nyala api rindu
Menyelamatakanya bila tidak ada pertemuan
Sepi obat pengganti mantan yang tidak cepat hilang dari ingatan
Sepi lebih puitis dari puisi
Karena sepi adalah puisi
Puisi menjadi bagian dari sepi dan hati
Jogja, 2017

*Penulis Lahir di Sumenep Madura. Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga. Pendiri Kominitas Gerakan Gemar Membaca dan Menulis (K-G2M2) Nurul Hidayah. 100 Nominiasi Puisi Terbaik Tingkat Asia Tenggara (UNS 2017), Buku Puisi Tunggalnya “Kecamuk Kota” (Halaman Indonesia 2016).