Connect with us

Cerpen

21 Mei

Published

on

“Aku tak mau bikin rusuh, aku hanya mau menyampaikan pendapat.”

“Banyak penumpang gelap, kamu bisa celaka.”

“Jangan khawatir. Kita pernah mengalami yang lebih parah.”

“Kasus 98 tak bisa kamu samakan dengan pilpres kali ini.”

“Aku harus pergi.”

“Sayang …”

“Maaf.”

 

Sepekan berlalu. Tangan, kaki, dan dagunya masih biru-biru, sesekali terasa nyeri. Masih jelas di ingatan ketika aparat memukulnya bertubi-tubi, menariknya turun dari atap mobil saat berorasi. Jatuh tersungkur terantuk aspal terkena pecahan botol kaca masih membuat keningnya nyut-nyutan. Kain kasa menggantikan poni yang biasanya tampak lucu membungkus wajahnya yang bulat.

Obat terakhir dari dokter telah habis diminumnya. Batuknya masih mengganggu. Tetapi tak separah sebelumnya, tak lagi mengeluarkan darah. Ia jauh lebih beruntung, bukan termasuk satu dari sembilan korban meninggal. Dan bukan termasuk ratusan yang ditangkap, diinterogasi dan ditahan polisi tanpa kejelasan perkara.

“Apa yang dilakukan Prabowo adalah delegitimasi proses demokrasi kita. Seandainya 17 April, setelah keputusan KPU ia mengakui kekalahan, banyak orang akan terinspirasi dan memandangnya sebagai sosok negarawan yang besar hatinya. Bukan malah menggerakkan masa tak karuan seperti kemarin.” Di ujung telepon, ayahnya masih saja menyesalkan keputusan putri semata wayangnya mengikuti unjuk rasa di Jalan Thamrin yang berakhir ricuh itu. “Sekarang kamu tak mau Ayah jemput, keselamatan kamu nomor satu, Dila.”

Sudah satu minggu ini, Nadila dan beberapa aktivis perempuan yang berhasil menyelamatkan diri dari demo menolak hasil penghitungan suara Pemilu Presiden 21 Mei lalu menginap di sebuah rumah kontrakan di Jalan Mughni di kawasan Kuningan, Jakarta. Sembunyi, lebih tepatnya. Mereka sepakat sementara waktu ini tidak kembali ke dunianya masing-masing. Semakin banyak aktivis yang ditangkap.

 

“Aku harus pulang,” kata Dila kepada teman-temannya yang sedang memantau berita online di ruang tengah.

“Sembarangan kamu, itu sama saja membahayakan kita semua,” Dyah, aktivis yang juga anggota AJI menjawab dengan garang.

Baca Juga:  Berburu Senja

“Ayahku bisa nekat ke Jakarta kalau aku tetap di sini. Dan itu sama saja bahayanya,” sahut Dila tak kalah garang.

“Aku temani kamu ke Jogja. Segera setelah aku dan Dila pergi, kalian semua pindah lokasi, bagaimana?” Annisa, mencoba menengahi. Keaktifannya di Kontras membuatnya sigap menghadapi hal-hal seperti ini.

Setelah semua aktivis perempuan itu buka suara, keputusan diambil berdasar suara terbanyak. Dila lega, meski campur waswas. Ia sampaikan berita ini melalui e-mail kepada Tora, kekasihnya yang tengah menyelesaikan kuliah di Amerika.

 

***

Keesokan harinya, di dalam kereta Gajayana yang membawa Dila dan Annisa ke Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Pukul 8 pagi waktu Jakarta. Notifikasi Gmail mengetuk pintu cemas Dila. E-mail balasan dari Tora.

 

Dear Dila,

Bukan maksudku melawan kehendakmu. Aku sependapat dengan ayahmu.  Apa yang dilakukan Prabowo ini sangat delusional. Kamu tahu, aku pun memilih dia ketika pilpres kemarin, dan pilpres kemarinnya lagi, 2014.

 

Dila melemparkan pandangan ke bangku sebelahnya. Kosong. Annisa belum kembali dari gerbong restorasi. Ia pun bergeser, duduk di dekat jendela, merasakan hangatnya mentari pagi yang menembus lewat kaca akrilik. KAI mengganti kaca jenis ini agar tahan terhadap lemparan batu yang sedang marak terjadi.

 

Sayang,

Hillary Clinton betapa pun sakitnya mengakui kekalahan dan mengucapkan selamat kepada Trump malam itu juga. Dan esok paginya, dengan mengenakan blazer warna ungu di depan pendukungnya ia katakan, “Saya sudah menelepon Trump tadi malam.” Seluruh pendukungnya menyambut dengan tepuk tangan yang meriah dan uraian air mata.

 

Sayang,

Kamu tak boleh lupa. Jauh hari sebelum pemilihan presiden AS, berbagai lembaga survei memprediksi Hillary yang akan menang. Bahkan, Reuters menyebut peluang Hillary menang 90 persen, lebih tinggi dari prediksi New York Times yang notabene media pendukung Hillary yang menyatakan peluang kemenangannya 85 persen. Data-data statistik juga menunjukkan Hillary akan menang besar baik popular vote maupun electoral vote. Tetapi semua prediksi itu meleset. Hillary kalah. Ini berbeda dengan survei-survei di Indonesia. Enam bulan sebelum pemilu, semua lembaga survei kredibel memenangkan Jokowi dengan selisih angka jauh di atas margin of error. Tidak berbeda dengan hasil KPU saat ini.

 

Baca Juga:  Cah Ayu, Cah Kae

“Hei, serius amat. Baca apaan?” Annisa kembali dengan black coffee pesanan Dila.

“Ah aku hampir mau nyusul kamu. Ngantuk,” jawab Dila tanpa menutup e-mail Tora dari iPhone-nya.

Oh, sorry. Tiba-tiba tadi kepengin Indomie, jadi aku makan sekalian,” jawab Annisa terkekeh.

“Pantesan. Ya sudah aku makan juga deh,” jawab Dila seraya bangkit dari duduknya. Annisa tak menjawab, memasang bantal lehernya, siap tidur.

 

***

Di gerbong restorasi kereta Gajayana, setelah memesan makanan, Ia teruskan membaca e-mail balasan kekasihnya.

 

Sayang,

Mohon renungkan baik-baik suratku ini. Untuk menjadi besar, pertama sekali kita harus punya hati yang besar. Tidak hanya untuk pasangan calon, tetapi juga para pendukungnya. Siap menang, tetapi juga mesti sanggup menerima kekalahan, seperti seorang kesatria. Pilpres tahun 2000 di Amerika, George W Bush melawan Al Gore. Karena perbedaan 537 suara di Florida membuat Bush memenangkan pemilu. Al Gore tak terima. Setelah berjalan satu bulan lamanya, Supreme Court menghentikan semua upaya penghitungan ulang. Florida jatuh ke tangan Bush. Ia menang tipis, dengan perolehan 271 suara elektoral, sementara Al Gore 266 suara elektoral.

 

“Silakan nasi gorengnya,” petugas restorasi berseragam layaknya seorang chef di restoran Michelin mengantarkan pesanan Dila. Kulitnya bersih, perawakannya tinggi besar, sepatunya hitam mengilat, jam tangan GPS di tangan kanan, earphone menempel di telinga kirinya.

“Terima kasih,” sahut Dila langsung menyantap nasi goreng yang masih mengepulkan uap. Tak lagi menggubris penampilan yang terkesan agak tak wajar untuk seorang koki di restoran kereta api. Ouch panas! Baru beberapa sendok, tenggorokannya seperti tercekik. Kaku. Buru-buru ia tenggak kopi pahitnya. Menjauhkan piring nasi gorengnya, dan lanjut membaca ….

Baca Juga:  Pergi

 

Sayang,

Al Gore yang waktu itu wakil presiden berpidato “Don’t get me wrong. Saya tidak setuju dengan keputusan pengadilan, tetapi saya menerimanya. Saya ucapkan selamat kepada George W Bush, kita dukung dan kita mau dia sukses memimpin Amerika.” Tujuh tahun kemudian, Al Gore mendapat anugerah Nobel Perdamaian karena usahanya menyebarluaskan pengetahuan dan kesadaran tentang perubahan iklim dan merintis upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk melawan perubahan tersebut. (Sekadar mengingatkanmu, link “an inconvenient truth” attached di bawah).

 

Sayang,

Kalah dalam pemilu bukan berarti kalah segalanya. Dalam contoh kasus ini, Al Gore adalah seorang kesatria. Kembali aku katakan padamu, aku menyesal dengan tindakan Prabowo, tetapi aku lebih menyesal kenapa kamu ke Jakarta dan berakhir dengan luka yang aku tak tahan untuk membayangkannya. Jaga selalu dirimu, Sayang. Pernikahan kita semakin dekat ….

 

Tiba-tiba Dila merasa kepalanya berat. Kerongkongannya kering. Napasnya sesak. Jantungnya berdegup kencang. Ingin teriak minta tolong, tetapi lidahnya kelu. Seketika pandangannya gelap. Sayup-sayup ia dengar Annisa meneriakkan namanya. Ia menjawab lirih. Tetapi, suaranya kalah dengan deru roda Gajayana.

Advertisement

Terkini

Olahraga3 jam ago

PSG Siap Naikkan Gaji Kylian Mbappe

SERIKATNEWS.COM – PSG terus berupaya meyakinkan Kylian Mbappe agar tidak pindah klub. Agar sang pemain bertahan, klub Ligue 1 siap memberikan...

News3 jam ago

Makin Mudah dan Cepat, Pengaduan Layanan Kelistrikan Lewat PLN Mobile

SERIKATNEWS.COM- PT PLN (Persero) memberikan kemudahan akses bagi pelanggan untuk menyampaikan pengaduan layanan kelistrikan melalui aplikasi PLN Mobile ataupun Contact...

Olahraga3 jam ago

Penyebab Jadon Sancho Kurang Gacor di MU Menurut Ralf Rangnick

SERIKATNEWS.COM – Manchester United melakukan sebuah transfer besar musim panas kemarin. Klub yang bermarkas di Old Trafford itu membayar sekitar...

News3 jam ago

Operasikan SPKLU Kedua di Palembang, PLN Dukung Pemprov Sumsel Wujudkan Program KBLBB

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) menambah satu unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik (SPKLU) Demang Lebar Daun di Palembang. Ini merupakan...

News4 jam ago

Kader Gerindra Lombok Utara Tersangka Korupsi, PP Lokra Tagih Komitmen Prabowo Berantas Korupsi

SERIKATNEWS.COM – Koordinator Nasional Persatuan Pemuda Lombok-Jakarta (Koornas PP Lokra) tagih komitmen Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo...

News6 jam ago

Komitmen Pemerintah Tingkatkan Kesetaraan Gender di Dunia Kerja

SERIKATNEWS.COM – Pemerintah kembali memastikan bahwa ke depan akan terus berkomitmen untuk meningkatkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di dunia...

News8 jam ago

Lukisan NFT Karya Ridwan Kamil Laku Rp45,5 Juta

SERIKATNEWS.COM – Lukisan NFT (Non-Fungible Token) karya Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil laku Rp45,5 juta dalam marketplace NFT, Open Sea....

Populer

%d blogger menyukai ini: