21 Mei

173

“Aku tak mau bikin rusuh, aku hanya mau menyampaikan pendapat”
“Banyak penumpang gelap, kamu bisa celaka”
“Jangan khawatir. Kita pernah mengalami yang lebih parah”
“Kasus 98 tak bisa kamu samakan dengan pilpres kali ini”
“Aku harus pergi”
“Sayang…”
“Maaf”

Sepekan berlalu. Tangan, kaki dan dagunya masih biru-biru, sesekali terasa nyeri. Masih jelas di ingatannya ketika aparat memukul dengan tongkat, memaksanya turun dari atap mobil ketika berorasi. Ia meringis membayangkan ketika jatuh dan terinjak demonstran lain saat gas air mata ditembakkan polisi untuk memukul mundur massa yang berubah liar. Ia jauh lebih beruntung, bukan termasuk satu dari sepuluh korban meninggal.

“Apa yang dilakukan Prabowo adalah delegitimasi proses demokrasi kita. Seandainya 17 April ia mengakui kekalahannya, banyak orang akan terinspirasi dan memandangnya sebagai sosok negarawan yang besar hatinya. Bukan malah menggerakkan massa tak karuan seperti kemarin”. Di ujung telepon, ayahnya masih saja menyesalkan keputusan putri semata wayangnya mengikuti unjuk rasa di jalan Thamrin yang berakhir ricuh itu. “Sekarang kamu tak mau Ayah jemput, keselamatan kamu nomer satu, Dila”.

Sudah satu minggu ini, Dila dan beberapa aktivis perempuan menginap di sebuah kos eksekutif di jalan Mughni, di kawasan Kuningan, Jakarta. Sembunyi, lebih tepatnya. Mereka sepakat sementara waktu ini tidak kembali ke dunianya masing-masing. Semakin banyak aktivis yang ditangkap.

“Aku harus pulang”, kata Dila kepada teman-temannya yang sedang memantau berita online di ruang tengah.
“Sembarangan kamu, itu sama saja membahayakan kita semua”, Dyah menjawab dengan garang.
“Ayahku bisa nekat ke Jakarta kalau aku tetap seperti ini. Dan itu sama saja bahayanya”, sahut Dila tak kalah garang.
“Aku temani kamu ke Jogja. Segera setelah aku dan Dila pergi, kalian semua pindah lokasi”, Annisa mencoba menengahi.

Baca Juga:  1 Suro

Setelah semuanya buka suara, akhirnya keputusan diambil berdasar suara terbanyak. Dila lega, meski campur was-was. Tak sabar ia sampaikan berita itu kepada Tora, kekasihnya yang masih menyelesaikan kuliah di Amerika.

Di dalam kereta Gajayana yang membawanya ke stasiun Lempuyangan, Jogja, Dila membaca email balasan Tora.

Dila, bukan maksudku melawan kehendakmu. Aku sependapat dengan ayahmu. Apa yang dilakukan Prabowo ini sangat delusional. Kamu tahu akupun memilih dia ketika Pilpres kemarin, dan Pilpres kemarinnya lagi, 2014. Dila melemparkan pandangan ke bangku sebelahnya. Kosong. Annisa belum kembali juga dari restorasi. Ia pun bergeser, duduk di dekat jendela, merasakan hangatnya mentari pagi itu yang menembus lewat kaca.

Sayang, Hillary Clinton betapa pun sakitnya mengakui kekalahan dan mengucapkan selamat kepada Trump malam itu juga. Besok paginya, dengan mengenakan blazer warna ungu di depan pendukungnya dia katakan, saya sudah menelpon Trump tadi malam. Pidatonya disambut tepuk tangan dan uraian air mata.

Sayang, kamu tak boleh lupa. Jauh hari sebelum pemilihan presiden AS, berbagai lembaga survei memprediksi Hillary yang akan menang. Bahkan, Reuters menyebut peluangnya menang 90 persen, lebih tinggi dari prediksi New York Times yang notabene media pendukung Hillary yang menyatakan peluang kemenangannya 85 persen. Data-data statistik juga menunjukkan Hillary akan menang besar baik popular vote maupun dalam elektoral vote. Tetapi semua prediksi itu meleset. Hillary kalah.

Ini berbeda dengan survey-survey di Indonesia. Enam bulan sebelum pemilihan, semua lembaga survey yang kredible memenangkan Jokowi dengan selisih angka jauh di atas margin of error. Tidak berbeda dengan hasil KPU saat ini.

“Hey, baca apaan?”, Annisa akhirnya kembali dengan black coffee pesanan Dila.
“Lama amat, aku hampir mau nyusul. Ngantuk”, jawab Dila tanpa menutup email Tora dari iphone-nya.
“Oh, sorry. Tiba-tiba tadi kepengen Indomie, jadi aku makan sekalian”, jawab Annisa terkekeh.
“Ahh pantes. Ya sudah aku makan juga deh”, jawab Dila kemudian. Annisa tak menjawab, memasang bantal lehernya, siap tidur.

Baca Juga:  Cah Ayu, Cah Kae

Sayang, mohon renungkan baik-baik suratku ini. Untuk menjadi besar, pertama sekali kita harus punya hati yang besar. Siap menang tetapi juga musti sanggup menerima kekalahan, seperti seorang ksatria. Tahun 2000 di Amerika, George W Bush melawan Al Gore. Karena perbedaan 537 suara di Florida membuat Bush memenangkan pemilu. Al Gore tak terima. Setelah berjalan satu bulan lamanya, Supreme Court menghentikan semua upaya penghitungan ulang. Florida jatuh ke tangan Bush. Ia menang tipis, dengan perolehan 271 suara elektoral, sementara Al Gore 266 suara elektoral.

“Silakan nasi gorengnya, kak”, petugas restorasi berseragam layaknya seorang chef di restoran Michelin mengantarkan pesanannya.
“Terima kasih”, sahut Dila langsung menyantap nasi goreng yang masih mengepulkan uap. Panas. Baru beberapa sendok, tenggorokannya seperti tercekik. Kaku. Buru-buru ia tenggak kopi pahitnya. Menjauhkan piring nasi gorengnya, dan lanjut membaca….

Sayang, Al Gore yang waktu itu Wakil Presiden berpidato “Don’t get me wrong. Saya tidak setuju dengan keputusan pengadilan tetapi saya menerimanya. Saya ucapkan selamat kepada George W Bush, kita dukung dan kita mau dia sukses memimpin Amerika”. Tujuh tahun kemudian, Al Gore mendapat anugerah Nobel Perdamaian karena usahanya menyebarluaskan awareness tentang perubahan iklim dan merintis upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk melawan perubahan tersebut. Itulah ksatria. Kalah dalam pemilu bukan berarti kalah segalanya, bukan?

Tiba-tiba Dila merasa kepalanya berat. Kerongkongannya kering. Napasnya sesak. Jantungnya berdegup kencang. Ingin teriak minta tolong tetapi lidahnya terasa kelu. Seketika pandangannya gelap. Sayup-sayup ia dengar Annisa meneriakkan namanya. Ia menjawab lirih. Tetapi suaranya kalah dengan deru roda Gajayana.

Sayang,
I wish you’re always here,
next to me…

Love
T