Proyeksi Bank Dunia tersebut berdasarkan pada sebagian besar negara di Kawasan Asia Timur dan Pasifik mengalami penurunan pendapatan. Sehingga jumlah orang miskin diperkirakan meningkat.
Ditambah lagi adanya jumlah masyarakat miskin sebelum merebaknya Covid-19. Akibatnya, jumlah orang miskin pada 2021 diproyeksikan mencapai 19 juta orang dengan pendapatan per kapita US$ 3,2 per hari. Sebanyak 29 juta orang dengan pendapatan per kapita US$ 5,5 per hari.
Memang sulit menentukan berapa besar ketimpangan yang terjadi. Sebab, survei yang diadakan sering kali tidak menjabarkan secara lengkap berapa penghasilan dan pengeluaran yang dilakukan orang-orang dalam kelompok teratas dan terbawah.
Oleh karena itu, Bank Dunia mengklaim ada tiga bukti secara tidak langsung menunjukkan terjadinya ketimpangan di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Pertama, kemampuan masyarakat dalam menghadapi kerawanan pangan dan kehilangan kesempatan belajar.
Ketika dihadapkan dengan masalah kehilangan penghasilan, rumah tangga yang lebih miskin kemungkinan besar akan mengurangi konsumsi pangan, berhenti bersekolah, menambah utang, dan menjual aset. Semuanya melemahkan kemampuan mereka untuk pulih dari krisis ekonomi.
Kedua, perempuan lebih menderita daripada laki-laki. Akibat pandemi, sebanyak 25% responden di Laos dan 83% di Indonesia mengatakan kekerasan dalam rumah tangga mengalami peningkatan. Kerawanan pangan membuat perempuan lebih rentan terhadap kekerasan.
Ketiga, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengalami penurunan penjualan yang secara proporsional lebih besar daripada perusahaan-perusahaan besar. Hasil penjualan yang dicapai usaha mikro menyusut sepertiga. Sedangkan hasil penjualan perusahaan-perusahaan besar hanya menyusut seperempat. “Perusahaan-perusahaan yang lebih kecil juga lebih sedikit dalam memanfaatkan peluang dari digitalisasi,” tulis Bank Dunia. (*)