Penulis: Serikat News
Rabu, 8 November 2017 - 20:01 WIB
Ilustrasi (favim.com)
Ilustrasi (favim.com)
Oleh: Rohmatul Izad
Aku kira Tuhan telah mati
Ternyata aku yang menyaksikan kematianku dihadapannya
Aku kira Tuhan punya selera buruk
Tapi betapa indahnya aku diciptakan
Aku dan aku aku yang lain betapa nistanya
Betapa aku sangat buruk dihadapannya
Tuhan, maafkan aku
Kau sering mengunjungiku
Tapi aku jarang ada di rumah
Yang baru selalu tergantikan
Yang lama akan lenyap dimakan waktu
Aku di sini menolak untuk lenyap
Aku di sini akan hidup abadi
Bagai kata yang tak lekang oleh zaman
Seperti malam, siang pun punya kesunyian
Aku dihamparan keramaian
Menyaksikan kekeruhan batin yang begitu dalam
Kehampaan ini tidakkah kau sadari
Ketika mata terpejam dunia seakan terdiam
Maut, terlalu cepat kau menjemputku
Malam itu aku sendiri
Malam itu aku dimakan kesunyian
Diamku bukan kata-kata
Mataku bukan segalanya
Sudahlah aku tak tahan lagi
Aku hanya ingin kau di sini
Menemani malamku
Mengikatku dikehampaan spritual
Tuhan, dengarkan aku kali ini saja
Insan Pilihan Tanda-tanda kerasulan Terlahir tanpa sandaran Cinta yang dipisahkan Hadirmu cahaya penuh keyakinan Diuji dan ditempa penuh cabaran Ikhlas