Anna Karenina dan Tolstoy yang Anarkis

46

Dia menjatuhkan diri ke gerbong, dengan gerakan tangkas ia berlutut, seakan bersiap untuk langsung bangkit. “Tuhan, ampunilah aku!”

Tubuh Anna yang membentur bawah gerbong di antara sekrup dan rantai kereta adalah bagian paling brutal dari Anna Karenina, novel klasik karya Sastrawan Rusia, Leo Tolstoy.

Karya dua jilid, tebalnya 1.064 halaman. Diterbitkan secara berseri pada 1873-1877, novel ini menyita perhatian dunia karena kisahnya yang kompleks dan kekuatan setiap karakter tokohnya.

Tolstoy seorang yang anarkis, menelanjangi kehidupan bangsawan Rusia. Kisah tiga keluarga borjuis yang penuh intrik: perselingkuhan, cinta romantik, dan kehidupan para ningrat. Tolstoy membuka novel berlatar kehidupan sosial Rusia itu dengan kekacauan sebuah keluarga Oblonskii. Sang isteri memergoki suaminya (Oblonskii) punya hubungan asmara dengan bekas guru bahasa Perancis di rumah mereka.

Oblonskii biasa dipanggil Stiva di kalangan bangsawan digambarkan tak punya pendirian yang kuat. Dia ikut-ikut saja pandangan yang dianut kebanyakan orang. Ia mengubah pandangannya bila kebanyakan orang mengubah pandangannya.

Suatu hari ia membaca tajuk rencana koran yang menjelaskan bahwa sia-sia saja meneriakkan jeritan radikalisme bakal menelan semua unsur konservatif dan pemerintah wajib mengambil langkah-langkah untuk menindas ular revolusi. Sebaliknya, bahaya bukan terletak pada ular revolusi yang hanya khayalan, melainkan pada bercokolnya tradisionalitas yang menghambat kemajuan.

Tolstoy kemudian terasa mengolok kehidupan pribadi kalangan bangsawan yang hipokrit. Mereka memuja martabat kebangsawanan. Tapi, mereka juga gemar melakukan hal-hal yang amoral, misalnya perselingkuhan.

Tokoh Anna dan Aleksei Aleksandrovich Karenin (suami Anna) menarik. Suami Anna seorang pejabat tinggi Rusia yang punya selisih umur 20 tahun lebih tua dibanding Anna. Kehidupan rumah tangganya terasa hambar buat Anna. Dia menganggap Karenin tak punya jiwa.

Baca Juga:  Cara Efektif Membatasi Makanan Karbohidrat

Suatu hari Anna bertemu dengan Vronskii di kereta api. Mereka saling jatuh hati: cinta romantik yang memabukkan. Drama percintaan pun terdengar di kalangan bangsawan. Anna disingkirkan kalangan bangsawan. Mereka melihat Anna seperti sundal yang mencoreng kehormatan keluarga ningrat.

Karenin kecewa berupaya untuk menceraikan Anna. Dia pun melarang Anna untuk bertemu anak mereka Seryozha. Pukulan yang amat keras buat Anna. Dalam kehidupan bangsawan Rusia perceraian tak mudah. Perceraian atau perpisahan dianggap borok alias kegagalan rumah tangga yang memalukan kelas atas. Sesuai aturan Kristen ortodoks Rusia, perceraian dipandang sebagai aib.

Dalam situasi yang rumit, Anna mengalami tekanan yang amat hebat. Suatu hari Anna sakit keras. Ia merasa bersalah dan ingin meminta maaf. Karenin pun datang untuk menemui Anna yang sakit keras.

Anna ditemani dokter dan Vronskii dalam kondisi kesehatannya yang buruk. Kepada Anna, Karenin yang malang menyatakan memaafkan perbuatan Anna. Karenin pun meminta Vronskii untuk meninggalkan Anna karena Karenin mau menerima kembali Anna. Vronskii merasa hina atas sikap yang Karenin tunjukkan.

Anna menderita dalam konflik yang tak berkesudahan. Hingga suatu hari, dia mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya di antara roda-roda kereta. Sebelum menghempaskan tubuhnya ke kereta yang bergerak, Anna teringat orang yang tergilas kereta pada hari pertama ia berjumpa dengan Vronskii. Saat menghadap gerbong kereta, ia membayangkan masa kecilnya dan menceburkan diri ke sungai.

Tolstoy berhasil menyodorkan suasana yang mencekam di bagian akhir kisah Anna. Kematian dan pergolakan batin yang menyiksa, Tolstoy gambarkan di situ.

Ahli Sastra Indonesia yang tinggal di Moskwa, Willen V. Sikorsky menyebutkan Tolstoy lahir di tengah-tengah keluarga ningrat. Ayahnya, Nikolai Ilyich Tolstoy berpangkat letnan kolonel ambil bagian dalam perang melawan Napoleon pada 1812-1814.

Baca Juga:  Menyuburkan Dakwah Islam di Amerika Melalui Novel

Rusia pada 1861 membawa harapan datangnya kedamaian dan kesejahteraan sosial setelah dihapuskannya perbudakan terhadap petani. Tapi, satu dasawarsa kemudian harapan kesejahteraan petani tidak terpenuhi. Situasi kacau balau. Petani tak mendapatkan pembagian tanah yang adil.

Tolstoy juga kecewa. Dia melihat kapitalisme (mesin-mesin pabrik) menyingkirkan manusia dari tanah dan moral. Dia menginginkan suatu lembaga petani di mana hutan dan air merupakan milik bersama. Sebagian tanah dibagikan tiap tahun kepada setiap keluarga dan menggunakan prinsip gotong royong.

Tolstoy merasakan kemerosotan rohani dan jasmani bangsawan. Mereka menjual tanahnya kepada orang kaya baru dan berfoya-foya menghabiskan uang yang mereka peroleh.

Tolstoy malu dengan melimpahnya kekayaan di Rusia yang ia bandingkan dengan kemiskinan petani di sekelilingnya. Ia mencita-citakan kebahagiaan bersama untuk seluruh rakyat melalui revolusi yang tak berdarah atau tanpa kekerasan melalui kekuatan moral. Gagasan perlawanan tanpa kekerasan ini menginspirasi Mahatma Gandhi yang melawan kolonialisme melalui demonstrasi damai. Aktivis gerakan hak sipil Amerika Serikat, Martin Luther King yang menutut hak sipil melalui aksi non-kekerasan sesuai ajaran Kristen pun terinspirasi Tolstoy.

Anna Karenina tentu saja tak lepas dari kondisi sosial Rusia. Tolstoy, seorang anarkis mengingatkan saya pada gerakan Anarko Sindikalis yang dijadikan musuh kepolisian Republik Indonesia belum lama ini. Mereka dicap sebagai kelompok perusuh yang berhak digunduli dan dilucuti pakaiannya di Bandung saat peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2019.

Anarko mendapat label tukang onar yang berhak negara basmi. Padahal, sejatinya ruh anarko jauh dari label pengacau. Seperti yang diidamkan Tolstoy: persamaan dan keadilan sosial.

Seorang aktivis Anarko Sindikalis yang saya temui risau karena gerakan mereka diburu. Di Yogyakarta, dia mengungkapkan kekagumannya pada Tolstoy. “Dia sangat anarkis, menginginkan masyarakat tanpa kelas nir kekerasan. Sungguh mulia,” kata aktivis ini.