Judul : Ahed Tamimi; Gadis Palestina yang Melawan Tirani Israel
Penulis : Manal Tamimi, dkk
Penerjemah : Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Cetakan : Oktober 2018
Tebal : 248 halaman
ISBN : 978-602-441-084-1
Pada tahun 2017, sebuah video perlawanan terhadap tentara Israel menjadi viral karena perlawanan itu dilakukan oleh seorang gadis berusia 16 tahun bernama Ahed Tamimi. Ahed mendorong dan menampar tentara Israel karena telah menembak saudara sepupunya. Berkat aksinya ini, ia pun dipuji oleh masyarakat Palestina sebagai pahlawan yang berani menentang pendudukan Israel di Tepi Barat.
Aktivis Palestina berambut pirang ini ditangkap oleh tentara Israel karena berani menampar dua tentara Israel pada 19 Desember 2017. Tak hanya Ahed, sepupu dan ibunya juga ikut ditangkap pasukan Israel. Vonis terhadap Ahed Tamimi dijatuhkan pada 21 Maret 2018, setelah melalui sidang beberapa kali dan masa penahanan selama tiga bulan.
Keberanian Ahed diabadikan oleh Manal Tamimi dalam sebuah buku bertajuk Ahed Tamimi: Gadis Palestina yang Melawan Tirani Israel. Buku yang ditulis bersama Paul Heron, Paul Morris, dan Peter Lahti ini, merekam dengan jelas perlawanan Ahed menentang pendudukan Israel.
Ahed Tamimi lahir pada tanggal 31 Januari 2001 dari pasangan Baseem (ayah) dan Nariman (ibu) Tamimi di Nabi , Pesisir Barat Palestina. Nabi Saleh yang letaknya dua puluh kilometer di utara Yerusalem. Segala aktivitas para penduduknya selalu diawasi bahkan ditangkap dan dijebloskan ke penjara tanpa alasan yang jelas. Karena perlakuan tidak adil inilah Ahed memberanikan diri untuk melawan. Aksinya yang menampar tentara Israel telah membuat rakyat dan pejabat Israel marah dan menuntut Ahed harus diberi pelajaran.
Beberapa politisi Israel, dan sebagian media, menjadi histeris soal Ahed. Menteri Kebudayaan, Miri Regev, merasa “hancur” ketika melihat klip itu. Menteri Pendidikan Israel, Naftali Benneth, ingin agar Ahed dan perempuan-perempuan lain dalam video itu (di akhir klip, ini termasuk Nariman) “menghabiskan seumur hidup mereka di penjara” (halaman 34).
Tidak hanya Ahed, anak-anak Palestina di Tepi Barat juga menghadapi penangkapan, pendakwaan, dan pemenjaraan di bawah penahanan militer Israel yang tidak memberi mereka hak-hak dasar. Bahkan, secara memalukan Israel mendakwa hingga 700 anak di pengadilan militer setiap tahun.
Pada 2017, lima belas (15) anak Palestina tewas sebagai akibat tindakan pasukan Israel, termasuk seorang anak yang tewas karena cedera yang didapatnya pada saat drone Israel menyerang Jalur Gaza pada 2014. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan setidaknya 961 anak cedera di tangan militer Israel pada 2017 (halaman 172).
Menurut hukum internasional, penangkapan dan penahanan seharusnya hanya digunakan sebagai upaya terakhir. Oleh sebab itu, tidak dibenarkan melakukan penangkapan anak-anak pada malam hari. Apalagi anak-anak yang ditangkap kemudian sering ditinggalkan begitu saja dalam keadaan terikat dan mata tertutup. Sebuah tindakan biadab dan tidak manusiawi yang harus dilawan dan mendapatkan perhatian dunia.
Kini Ahed telah bebas. Semoga aksinya menginspirasi anak-anak Palestina yang lain untuk melawan tirani Israel. Kisah seorang Ahed Tamimi sangat mengesankan. Semenjak pembebasannya, saat ini dia menjadi juru bicara untuk Palestina. Akhirnya, selamat membaca buku ini dan semoga kita bisa mengambil hikmah dari perlawanan Ahed Tamimi.
Penulis Lepas, Alumnus Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan
Menyukai ini:
Suka Memuat...