Buku-Buku Sejarah Lebih Penting Dari Sebungkus Nasi

61
Razia

Perjalanan sejarah bangsa Indonesia merupakan sejarah yang kita tidak bisa dilupakan, karena sejarah itu yang menjadi kita kaya dengan kejadian-kejadian di masa lampau. Salah satu sejarah pada tahun 1965, sejarah yang tidak bisa dilupakan oleh segenap generasi penerus bangsa. Sejarah pada tahun 1965 itu dikenal dengan gelombang isu tentang komunisme.

Komunisme dikenal dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah salah satu organisasi yang banyak mengakibatkan pembantaian manusia. Tahun 1965, Indonesia masih dipimpin oleh Presiden Soekarno yang mempunyai konsep Nasionalis-Komunis (Nasakom).

Pada tahun 1965 itu pula dikenal dengan istilah krisis ekonomi dan krisis sosial. Masyarakat Indonesia pada tahun itu masih memakan tiwul atau sego jagung setiap hari. Sedangkan krisis sosial ini menjadi cikal bakal terjadinya krisis keamanan, keadilan dan ketertiban. Dari situlah masyarakat Indonesia diberi doktrin oleh oknum-oknum yang ingin merusak nilai-nilai Pancasila.

Kepentingan dan tujuan oleh segenap individu yang ingin mengambil alih kekuasaan negara menjadi gerakan PKI semakin agresif di bawah akar rumpun, karena yang menjadi tujuan utama dalam pola pikir Partai Komunis hanya ingin mengambil alih kekuasaan negara. Pada tahun 1965, organisasi PKI sangat diperhitungkan oleh segenap elemen masyarakat sehingga literatur-literatur sejarah PKI sampai sekarang masih menjadi sejarah bangsa Indonesia yang selalu kita kenang.

Banyak literatur-literatur buku yang mengupas tentang tragedi 1965, dan banyak pula buku-buku yang mencatat tentang perjalanan DN Aidit yang merupakan tokoh komunisme. Literatur-literatur itu adalah khazanah sejarah bangsa Indonesia bukan malah dimusnahkan oleh segenap kelompok orang. Banyak yang salah mengartikan tentang sejarah PKI pada kepemimpinan Jokowi, salah satunya adalah razia buku-buku yang mengupas tentang tragedi 1965.

Baca Juga:  Tan Malaka, Tintin dan Pacar Merah: Berebut Pengaruh dalam Fiksi

Membaca merupakan tindakan yang sangat riil bagi wawasan anak generasi muda. Kalau tidak membaca buku-buku sejarah pasti kita selalu digiring oleh opini-opini yang melenceng dari fakta sejarah. Dengan membaca buku-buku, kita bisa melihat fakta sejarah ke belakang dengan mengambil nilai-nilai positif itu untuk diterapkan di masa sekarang.

Kesederhanaan Presiden yang ke-4 Republik Indonesia, yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur), lebih mengedepankan urusan kemanusiaan ketimbang kepentingan individu. Gus Dur juga pernah berencana mencabut ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (TAP MPRS) nomor XXV Tahun 1966, khususnya tentang larangan penyebaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme. Artinya bapak bangsa saja mengajari kita untuk selalu mengedepankan urusan kemanusian yang ingin memperkaya ilmu pengetahuan, salah satunya dengan membaca literatur-litaratur sejarah.

Gus Dur adalah salah satu tokoh yang mencintai kedamaian Indonesia. Sehingga sifat toleransi yang ada di benak pikirnya Gus Dur sudah sangat keras. Gus Dur juga pernah mengundang Pramoedya Ananta Toer ke Wisma Negara, 27 Oktober 1999, dalam forum Bedah Buku Karya Abdul Mun’im DZ, Benturan NU dan PKI: 1965 (2014). Hasil pertemuan dengan Pram membahas terkait masalah omongan orang lain yang berbicara tentang hubungan Gus Dur dengan Pram terkait masalah Tragedi 1965.

Dari kedua tokoh itu kita bisa meniru pola pikirnya yang selalu menjunjung sifat toleransi sesama manusia. Karena toleransi itulah yang akan menjadi landasan kita ketika ada perbedaan di bumi putra ini. Maka sangat perlu ketika kita membaca buku-buku sejarah agar kita tidak mudah diprovokasi oleh oknum-oknum yang ingin merusak nilai-nilai Pancasila. Apakah segenap generasi bangsa Indonesia sudah pintar dalam berimajinasi tentang Nasionalisme? Dan seberapa penting literatur buku-buku sejarah bagi segenap kalangan penerus bangsa?

Baca Juga:  Survei SMRC: Mayoritas Warga Indonesia Setujui HTI Bubar Jalan

Bangunlah wawasan generasi muda untuk selalu mengingat sejarah-sejarah bangsa Indonesia. Agar bisa menjawab persoalan-persoalan bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Indonesia membutuhkan penerus bangsa yang selalu berpegang teguh dengan nilai-nilai Pancasila. Oleh sebab itu, tanamkan di benak pikir bahwa sejarah itu penting bagi kita semua.