Connect with us

News

Buku-Buku Sejarah Lebih Penting Dari Sebungkus Nasi

Published

on

Razia

Perjalanan sejarah bangsa Indonesia merupakan sejarah yang kita tidak bisa dilupakan, karena sejarah itu yang menjadi kita kaya dengan kejadian-kejadian di masa lampau. Salah satu sejarah pada tahun 1965, sejarah yang tidak bisa dilupakan oleh segenap generasi penerus bangsa. Sejarah pada tahun 1965 itu dikenal dengan gelombang isu tentang komunisme.

Komunisme dikenal dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah salah satu organisasi yang banyak mengakibatkan pembantaian manusia. Tahun 1965, Indonesia masih dipimpin oleh Presiden Soekarno yang mempunyai konsep Nasionalis-Komunis (Nasakom).

Pada tahun 1965 itu pula dikenal dengan istilah krisis ekonomi dan krisis sosial. Masyarakat Indonesia pada tahun itu masih memakan tiwul atau sego jagung setiap hari. Sedangkan krisis sosial ini menjadi cikal bakal terjadinya krisis keamanan, keadilan dan ketertiban. Dari situlah masyarakat Indonesia diberi doktrin oleh oknum-oknum yang ingin merusak nilai-nilai Pancasila.

Kepentingan dan tujuan oleh segenap individu yang ingin mengambil alih kekuasaan negara menjadi gerakan PKI semakin agresif di bawah akar rumpun, karena yang menjadi tujuan utama dalam pola pikir Partai Komunis hanya ingin mengambil alih kekuasaan negara. Pada tahun 1965, organisasi PKI sangat diperhitungkan oleh segenap elemen masyarakat sehingga literatur-literatur sejarah PKI sampai sekarang masih menjadi sejarah bangsa Indonesia yang selalu kita kenang.

Banyak literatur-literatur buku yang mengupas tentang tragedi 1965, dan banyak pula buku-buku yang mencatat tentang perjalanan DN Aidit yang merupakan tokoh komunisme. Literatur-literatur itu adalah khazanah sejarah bangsa Indonesia bukan malah dimusnahkan oleh segenap kelompok orang. Banyak yang salah mengartikan tentang sejarah PKI pada kepemimpinan Jokowi, salah satunya adalah razia buku-buku yang mengupas tentang tragedi 1965.

Baca Juga:  PKB: Ulama Seharusnya Tak Menghujat

Membaca merupakan tindakan yang sangat riil bagi wawasan anak generasi muda. Kalau tidak membaca buku-buku sejarah pasti kita selalu digiring oleh opini-opini yang melenceng dari fakta sejarah. Dengan membaca buku-buku, kita bisa melihat fakta sejarah ke belakang dengan mengambil nilai-nilai positif itu untuk diterapkan di masa sekarang.

Kesederhanaan Presiden yang ke-4 Republik Indonesia, yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur), lebih mengedepankan urusan kemanusiaan ketimbang kepentingan individu. Gus Dur juga pernah berencana mencabut ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (TAP MPRS) nomor XXV Tahun 1966, khususnya tentang larangan penyebaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme. Artinya bapak bangsa saja mengajari kita untuk selalu mengedepankan urusan kemanusian yang ingin memperkaya ilmu pengetahuan, salah satunya dengan membaca literatur-litaratur sejarah.

Gus Dur adalah salah satu tokoh yang mencintai kedamaian Indonesia. Sehingga sifat toleransi yang ada di benak pikirnya Gus Dur sudah sangat keras. Gus Dur juga pernah mengundang Pramoedya Ananta Toer ke Wisma Negara, 27 Oktober 1999, dalam forum Bedah Buku Karya Abdul Mun’im DZ, Benturan NU dan PKI: 1965 (2014). Hasil pertemuan dengan Pram membahas terkait masalah omongan orang lain yang berbicara tentang hubungan Gus Dur dengan Pram terkait masalah Tragedi 1965.

Dari kedua tokoh itu kita bisa meniru pola pikirnya yang selalu menjunjung sifat toleransi sesama manusia. Karena toleransi itulah yang akan menjadi landasan kita ketika ada perbedaan di bumi putra ini. Maka sangat perlu ketika kita membaca buku-buku sejarah agar kita tidak mudah diprovokasi oleh oknum-oknum yang ingin merusak nilai-nilai Pancasila. Apakah segenap generasi bangsa Indonesia sudah pintar dalam berimajinasi tentang Nasionalisme? Dan seberapa penting literatur buku-buku sejarah bagi segenap kalangan penerus bangsa?

Baca Juga:  APBNP 2017 Harus Lebih Bermanfaat Bagi Masyarakat

Bangunlah wawasan generasi muda untuk selalu mengingat sejarah-sejarah bangsa Indonesia. Agar bisa menjawab persoalan-persoalan bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Indonesia membutuhkan penerus bangsa yang selalu berpegang teguh dengan nilai-nilai Pancasila. Oleh sebab itu, tanamkan di benak pikir bahwa sejarah itu penting bagi kita semua.

Advertisement

Terkini

News31 menit ago

Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik, PLN Bakal Tambah 2 SPKLU di Lampung

SERIKATNEWS.COM- Guna mendukung terbentuknya ekosistem kendaraan listrik, PT PLN (Persero) bakal menambah dua Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di...

News2 jam ago

Rusia, AS dan Nato Semakin Memanas

SERIKATNEWS.COM – Hubungan antara Rusia dengan AS dan NATO semakin memanas. Apalagi ditambah Rusia yang mengumumkan akan menggelar Latihan militer...

News14 jam ago

Langkah-Langkah PLN Jelang Implementasi Regulasi Nilai Ekonomi Karbon

SERIKATNEWS.COM- PT PLN (Persero) siap memberikan kontribusi dan telah memantapkan langkah-langkah strategis terkait rencana implementasi regulasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK)...

News15 jam ago

HMI Badko Jatim Tegas Kawal Pembangunan Ekonomi Jatim Secara Masif

SERIKATNEWS.COM – Wajah baru HMI Jawa Timur telah hadir dengan agenda, terobosan baru dan berbagai tawaran ide untuk HMI Jawa...

Daerah16 jam ago

Seorang Warga Bunuh Diri di Sungai Tangsi Salaman, Diduga Karena Terlilit Hutang

SERIKATNEWS.COM – Seorang warga ditemukan di Sungai Tangsi, Salaman dalam keadaan meninggal dunia. Diduga korban bunuh diri karena stres terhimpit...

News16 jam ago

Sitaan Satgas BLBI Tembus Rp15 Triliun

SERIKATNEWS.COM – Menkopolhukam Mahfud MD menyampaikan update informasi tentang perkembangan pelaksanaan tugas Satgas BLBI selama 7 bulan bekerja. “Sekarang ini...

News18 jam ago

Selenggarakan Wisuda, Unusia Bertekad Jadi Pusat Pengembangan SDM Indonesia

SERIKATNEWS.COM – Jakarta – Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) menyelenggarakan wisuda ke-VIII yang diikuti oleh 313 wisudawan. Dengan menerapkan protokol...

Populer

%d blogger menyukai ini: