Connect with us

Opini

Kartini, Islam, dan Kolonialisme

Published

on

© Tirto

Selama ini narasi tentang Kartini lekat dengan perjuangan emansipasi. Hal ini bisa dibaca lewat surat-suratnya kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda yang menunjukkan gagasan tentang kebebasan, kesetaraan, anti-feodalisme, kemajuan dan keadilan. Tidak heran jika kemudian Kartini menjadi ikon emansipasi yang pemikirannya dianggap melampaui zamannya.

Namun narasi emansipasi ini telah menutup peran lain dari seorang Kartini dalam lapangan kemajuan lainnya. Khususnya pandangannya tentang Islam sebagai agama yang dianutnya. Hal ini bukan tanpa sebab, karena Kartini sendiri jarang mengungkap persoalan agamanya dalam surat-suratnya.

Manarik di sini kenapa pandangan Kartini tentang Islam tidak banyak ditulis para sejarawan dan peneliti lainnya. Bisa jadi, sumber-sumber sejarahnya terbatas. Tapi bisa juga karena kedudukan sosialnya sebagai anak seorang Bupati Jepara yang dianggap mewakili dunia kehidupan priyayi yang “sinkretik” dan pra-Islam seperti dikemukakan Pramoedya A. Toer dalam bukunya, “Pangggil Aku Kartini Saja” (1997).

Dengan demikian lingkungan sosial Kartini dianggap jauh dari kehidupan dunia santri. Meski dalam faktanya, Kartini pernah menjadi santri seorang ulama terkenal di Jawa dan memintanya menerjemahkan Alquran dalam bahasa Jawa. Karena masyarakat awam dan dirinya hanya bisa membaca Alquran tapi tidak memahami isi yang terkandung di dalamnya.

Dalam konteks tersebut, pandangan Kartini jelas sangat maju, semaju pandangannya tentang “zaman baru” yang membentuk kehidupan sosialnya. Sebuah zaman produk Politik Etis yang digambarkan Takashi Shiraishi, “Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926” (1997), dengan semboyan “kemajuan” dan “modernisasi” dalam kerangka “bervoedering van welvaart” atau memajukan kesejahteraan.

Simbol Politik Etis

Sebagai manusia yang dilahirkan dari rahim pencerahan dan modernitas, Kartini tumbuh dalam semangat baru yang mewarnai zamannya. Zaman yang ditandai dengan kebijakan pembaharuan politik kolonial melalui pendidikan, irigasi dan transmigrasi. Dalam kerangka ini, pemerintah kolonial Belanda membuka sekolah-sekolah bagi anak-anak dari keluarga bangsawan Jawa dan “Pangreh Praja” (pegawai negeri).

Baca Juga:  Anarkisme Dan Proyeksi Gagasannya

Kartini lahir dari keluarga bangsawan yang maju dan terpelajar. Ayahnya berpandangan maju yang meyakini pendidikan formal sebagai jalan kemajuan bagi anak-anaknya. Semua kakak lelakinya mencapai jenjang sekolah HBS (Hollandsche Burgerscholen), jenjang pendidikan tertinggi di Hindia Belanda. Bahkan kakak tertuanya, R.M. Sosrokartono, melanjutkan studinya ke Belanda.

Kartini sendiri, bersama dua adik perempuannya, Roekmini dan Kardinah, juga disekolahkan sampai jenjang Sekolah Rendah (ELS, Europeesche Lagereschoolen). Namun, sebagai anak perempuan, Kartini tidak dibolehkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sebagaimana semua saudara laki-lakinya. Pada usia 12 tahun ia harus dipingit, tidak boleh keluar rumah, sebelum bersuami yang dijodohkan orang tuanya.

Namun hal tersebut tidak menghalangi Kartini untuk maju. Bacaan koran dan buku-buku Belanda, dijadikannya pintu berinteraksi dan berkorespondensi dengan orang-orang Belanda yang menjadi sahabatnya. Saling tukar pikiran tentang budaya, kondisi masyarakat, dan agama masing-masing. Juga soal sistem feodalisme dan adat istiadat yang membelenggu kemajuan masyarakatnya.

Kartini meninggal pada usia muda, 25 tahun. Lahir tanggal 21 April 1879 dan meninggal pada 17 September 1904, empat hari setelah anak pertamanya lahir pada 13 September 1904. Dengan demikian, Kartini hidup di era fajar Politik Etis. Sebuah kebijakan politik kolonial yang dilandasi panggilan moral dan hutang budi untuk menyejahterakan penduduk jajahan pada 1901.

Namun dalam praktiknya Politik Etis untuk menopang kebijakan liberalisme ekonomi yang sudah berlangsung sejak 1870. Terutama kebutuhan akan tenaga-tenaga terdidik bumiputera untuk menjalankan mesin kapitalisme di tanah Hindia. Di samping untuk menjauhkan pikiran rakyat jajahan dari perjuangan “jihad fisabilillah” seperti dalam Perang Diponegoro (1825-1830) yang melelahkan dan hampir membuat bangkrut kas pemerintah Belanda.

Baca Juga:  Urgensi Lockdown dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Maka kemunculan Kartini sebagai perempuan priyayi yang terdidik menjadi pembuktian kepada masyarakat Belanda dan Eropa bahwa Belanda “berhasil” mendidik negeri jajahanya. Karena Kartini sendiri mulai dikenal di Belanda sekitar 7 tahun setelah meninggal, tepatnya tahun 1911. Tahun di mana buku yang memuat surat-suratnya kepada para sahabat penanya di Belanda, “Door Duisternis Tot Licht” atau “Habis Gelap Terbitlah Terang” diterbitkan dan disunting oleh tokoh Politik Etis, H.J. Abendanon.

Terjemahan Alquran

Kecerdasannya serta kehausannya akan pengetahuan menjadikan Kartini sebagai perempuan pribumi yang kaya wawasan. Hal ini terkadang menyebabkan pikirannya dipenuhi kegelisahan, frustasi, dan marah, ketika melihat sistem budaya dan agama, menjadi penghalang kemajuan. Misalnya, pandangannya awal tentang Islam, ada kesan Kartini kurang bisa menerima karena tidak adanya pengetahuan untuk mengetahui makna Alquran.

Meski belajar mengaji pada guru ngaji, tapi karena tidak menguasai bahasa Arab, Kartini hanya bisa membaca Alquran tanpa pernah mengetahui mutiara hikmah yang terkandung dalam Kitab Suci tersebut. Kegelisahan ini pernah ia sampaikan dalam korespondensinya dengan sahabatnya Stella, tertanggal 6 November 1899.

Dalam kata-katanya, “Quran terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa manapun jua. Di sini tiada orang yang tahu bahasa Arab. Orang diajar di sini membaca Quran, tetapi yang dibacanya tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah semacam itu. Orang diajar di sini membaca, tetapi tidak diajarkan makna yang dibacanya itu”.

Kartini lantas membandingkan dengan seseorang yang diajar membaca buku bahasa Inggris, tanpa diterangkan artinya. Di sini kegelisahan eksistensialismenya sekaligus menjadi sikap kritisnya terhadap sistem pendidikan agama Islam di zamannya. Kegelisahan dan sikap kritisnya ini sebenarnya menunjukkan dirinya sebagai muslimah yang memiliki minat besar untuk memahami agama Islam melalui Alquran.

Baca Juga:  Guru Spiritual; Kiprah Moralitas

Kegelisahan ini akhirnya mendapat pencerahan ketika dalam sebuah pengajian di pendopo rumah pamannya, Bupati Demak, Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh Darat yang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah menggunakan bahasa Jawa yang bisa dimengerti Kartini dan jemaah lainnya. Sejak saat itu Kartini merasa tertarik dan mengikuti beberapa pengajian ulama kharismatik dari Semarang ini.

Seperti ditulis Taufiq Hakim, “Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX-XX M” (2016), atas permohonan Kartini, Kiai Sholeh Darat lantas menerjemahkan Alquran dalam bahasa Jawa. Hasil terjemahan inilah yang kemudian menjadi kado istimewa Kiai Sholeh Darat kepada Kartini saat melangsungkan akad nikah, sebuah kitab tafsir “Faidh al-Rahman”.

Dalam konteks ini, pandangan Kartini terhadap Islam dan Alquran agar lebih dipahami masyarakat awam telah menabrak kebijakan kolonial yang melarang penerjemahan Alquran dalam bahasa Jawa dan latin. Larangan ini adalah upaya untuk menjauhkan masyarakat jajahan dari Islam. Maka tidak heran jika Snouck Hugrogonje, seorang orientalis dan Penasihat Urusan Pribumi pemerintah kolonial, memandang pemikiran Kartini perlu didekati karena bisa berbahaya bagi sistem kolonial Belanda.

*Tulisan ini dimuat di Suara Pembaruan, 21 April 2020 dan dimuat secara online di Beritasatu.com

Advertisement

Popular