Connect with us

Cerpen

Jam Tangan

Published

on

Ilustrasi: 4nspiration

Suatu sore, di taman kota, seorang kakek yang sudah berumur 65 tahun duduk sendiri. Ia menghadap sungai kecil yang jernih, hasil rekayasa pembangunan kota. Serta melihat jam tangan raksasa yang dipasang tepat di persimpangan jalan, sebuah monumen untuk mengingat pentingnya waktu, atau tepatnya mengingat kematian menurut dia.

Sudah 42 tahun berlalu sejak kejadian nahas itu, ia masih teringat jelas, waktu tidak bisa merenggut ingatan tentang kesempatan hidup untuk kali kedua. Meski hanya terbayang teriakan, letupan pistol dan bau darah, tetapi itu merupakan kenangan terakhir dirinya bersama seorang sahabat yang sangat dekat dengannya, Ivan.

Namaku Jhon Ibrahim, bukan nama sebenarnya. Saat umurku 20 tahun aku sedang menempuh studi di perguruan tinggi. Saat itu aku mulai mengenal buku-buku, organisasi mahasiswa, aktivis jalanan, dan pacaran. Aku punya seorang sahabat, Ivan Amin, juga bukan nama sebenarnya. Kami memiliki nama panggilan sendiri, setidaknya begitulah seorang aktivis. Ia lebih suka dipanggil julukan atau nama samaran daripada namanya sendiri.

Jhon dan Ivan bukankah nama itu terdengar keren. Tapi apa arti sebenarnya sebuah nama bagi kami? Ya setidaknya dengan nama sederhana itu, polisi dan intel mudah mengingat.

Jhon, aku ambil nama itu karena terinspirasi dari Jhon Petrucci, gitaris legendaris dari band Dream Theater, yang membuatku kagum padanya karena harmonisasi petikan dan sinkron dengan alat musik yang lain. Selain itu Jhon Petrucci merupakan salah satu gitaris rock terbaik di dunia, aku mengambil nama depannya “Jhon”, berharap suatu saat aku bisa main gitar, meskipun tidak pernah berminat untuk belajar.

Sedangkan nama Ivan, kalau tidak salah dulu dia pernah mengungkapkan alasan kenapa dia memilih nama Ivan. Kurang lebih begini, Ivan diambil dari salah satu penulis Rusia, yakni Ivan Turgenev. Menurut dia, nama Ivan Turgenev memang tidak sepopuler Tolstoy atau Doestoevsky, meskipun sama-sama penulis besar di abad-19, tapi karya-karyanya sangat beda. Tema nihilis dan emansipasi yang diangkat Turgenev mampu menginspirasi gerakan wanita. Setidaknya meskipun tidak populer di mata dunia, dia punya kontribusi pemikiran yang penting.

Baca Juga:  Biografi Pejuang

Persahabatan kami dimulai ketika bertemu di gerakan jalanan. Kami sering aksi dan memboikot jalan. Sejak saat itu, aku dan Ivan sering bertemu dan mengobrol panjang lebar tentang masalah negara. Apalagi kami bertambah dekat ketika sama-sama menjadi ketua organisasi yang kami ikuti. Aku di organisasi Bintang dan dia di organisasi Lentera.

Pernah suatu ketika, Ivan berbicara tentang filsafat waktu. Sebenarnya tema waktu masuk dalam kategori apa dalam filsafat. Apakah termasuk metafisik, fisika, astronomi, filsafat alam, antroposentris, atau apa? Tapi benar-benar tiada satu pun filsuf yang yakin akan pendapatnya akan waktu. Ia mencoba mengira-ngira, seperti Augustinus ketika ditanya tentang waktu, malah ia berkata “ketika aku akan menjelaskan, aku tidak tahu lagi”. Atau menurut Gibran “waktu itu cinta, sama-sama tidak bisa dibagi”, padahal waktu dan cinta sama-sama absurd menurut Ivan.

Lalu aku ikut berbicara soal waktu. Waktu itu tidak bisa dilihat tapi bisa menebas, seperti sebuah kata “waktu itu seperti pedang”, kita harus pandai-pandai menggunakannya.

“Tapi orang-orang sering mengejar waktu, atau sebaliknya, mengapa mereka jarang bersama?” imbuh Ivan

“Ada yang bisa bersama, biasanya mereka akan disiplin atau teratur,” kataku

“Mengatur atau diatur waktu, siapa yang memberi waktu untuk kita, hidup begitu absurd.”

“Ya memang absurd, tapi setidaknya kita harus punya harapan.”

“Lalu apa harapanmu Jhon?”

“Memiliki keluarga kecil, rumah perpustakaan dan beberapa tanaman hias, menikmati itu sampai tua, lalu harapanmu?”

“Menghabiskan waktu,” jawab Ivan

“Itu jawaban absurd Va.n”

“Bukankah hidup ini memang absurd, aku hidup untuk hari ini saja, kalau orang bilang kita hidup di tiga masa, yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa depan, tapi aku hanya hidup untuk hari ini, masa lalu hanya kenangan dan pelajaran, masa depan adalah kematian.”

Cukup sering kita mengobrol dari hal-hal serius sampai bercanda. Begitulah karakter Ivan yang selalu bertanya dan ingin mencari tahu, pemikirannya yang kritis dan lahap dalam membaca buku, membuatnya jadi teman yang asyik untuk diajak bicara. Apalagi ketika dia berdiskusi menuntun untuk berdialog bukan memenangkan argumennya sendiri.

Baca Juga:  Inferior

Meskipun berbeda ideologi dalam organisasi, pemikiran Ivan sangat terbuka dengan ideologi lain yang ia temui. Organisasi Lentera yang diketuai Ivan mempunyai ciri khas sudut pandang dari Islam progresif. Jadi, secara ideologi sering berbenturan dengan penganut Islam konservatif. Sedangkan organisasiku mentok kiri, dari sudut pandang organisasi Bintang, semua permasalahan yang ada di masyarakat berasal dari kapitalisme global. Jadi, kita harus melawan dan memberikan solusi alternatif.

Kenangan aku bersama Ivan sangat banyak, tapi ada satu kejadian yang sampai saat ini menjadi trauma mendalam saat aku mengingatnya. Saat itu 17 April 2028, terjadi kekacauan masal di seluruh negeri, mahasiswa dan rakyat turun ke jalan untuk memprotes RUU perpanjangan masa jabatan presiden, yang semula 5 tahun atau 10 tahun untuk dua periode, kini mau diubah menjadi masa jabatan sampai tidak terbatas. Artinya boleh melakukan pencalonan berapa kali pun. Menurut kami itu tidak logis dan justru akan mengantarkan kembali pada masa orde baru, meski berkedok demokrasi. Tapi yang memenangkan pemilu tetap orang yang sama, dan menggunakan otoritarian dalam pemerintahannya.

Kekhawatiran itu justru datang lebih awal. Setelah beberapa kali melakukan aksi damai, pihak aparat keamanan negara bertambah represif. Para demonstran dipukuli bahkan sampai berdarah-darah. Di beberapa daerah ada laporan bahwa beberapa demonstran hilang, tapi tidak dimuat di media nasional.

Aku dan Ivan selaku ketua organisasi dan sebagai penggerak aksi juga terlibat dalam demonstrasi itu di kota kami, dengan menghimpun seluruh elemen mahasiswa intra dan ekstra kampus dan rakyat. Kami mencoba bergerak menuju gedung DPRD. Pada mulanya aksi tersebut berlangsung damai, orasi politik dari mahasiswa juga disampaikan. Tetapi keadaan berubah ketika pihak aparat keamanan kemudian memukul mundur dan menyuruh membubarkan massa. Gas air mata dan beberapa tembakan peringatan sudah diletuskan ke udara.

Aku yang saat itu sebagai koordinator umum aksi kewalahan dan tidak bisa mengatur massa. Aku meminta pihak keamanan negara untuk berhenti memukul massa aksi. Namun, semua itu sia-sia, mereka tambah membabi buta bahkan memburu demonstran sampai jalan-jalan kecil. Ketika aku ingin mendekati salah satu pihak keamanan untuk berhenti merepresi demonstran. Aku dikejutkan dengan suara letupan senjata, entah dari mana datangnya. Ivan yang saat itu bertugas menjadi koordinator lapangan berlari ke arahku. Ketika Ivan dekat dan ingin mendekap aku tiba-tiba suara letupan senjata itu terdengar lagi, dan Ivan terpental ke arahku.

Baca Juga:  Sarung Berkibar diatas Liur Anjing dan Perut Babi

Aku tidak bisa mengucapkan satu kata pun, melihat Ivan yang sekarat tepat di pelukanku.

“Ivan, Ivan, sadar, bertahanlah,” kataku.

“Medis, medis, tolong!!!” tapi di tengah kericuhan itu tidak ada satu pun yang mendengar.

Lalu Ivan berkata “Aku sudah menemukan waktuku, tetaplah hidup dan capai harapanmu.”

“Tidak, kamu harus tetap hidup, medis cepat tolong.”

Karena tidak kunjung datang, aku mengangkat tubuh Ivan yang sudah berlumur darah. Saat itu aku tidak lagi punya kekuatan, semua terasa gelap. Sampai di tepi jalan aku kembali menepuk muka Ivan supaya tetap sadar, tetapi terlambat Ivan kini sudah tiada.

Aku berteriak kencang sampai tenggorokanku serasa hampir putus. Air mata terus mengalir di pipiku, terbayang betapa baiknya Ivan. Senyumnya ketika kita berdiskusi, dan semua akan sirna. Setelah itu aku tidak sadarkan diri dan tergeletak di samping Ivan.

Saat itu umur kita 23 tahun, masih menempuh studi di perguruan tinggi, Ivan menjadi korban akan keserakahan negara, keserakahan untuk berkuasa. Sosok yang cerdas, pemimpin yang tegas dan lembut, teman yang baik.

“Aku sudah menemukan waktuku,” kata terakhir itu yang membuatku terasa tercabik-cabik. Aku gagal melindungi sahabatku.

Sebelum peristiwa itu, beberapa kali aku melihat Ivan menelepon pacarnya yang tinggal di luar kota, tapi hanya sebentar. Ia selalu bilang, “kamu ada waktu gak? Apa kamu sibuk?” dan tidak lama setelah itu Ivan menutup telefon.

Kini umurku sudah 65 tahun, semua harapanku tercapai, dan sekarang aku ingat apa yang pernah kau ucapkan Van, masa depan adalah kematian.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement

Terkini

Lifestyle57 menit ago

Marandang, Tradisi Sambut Ramadan di Ranah Minang

SERIKATNEWS.COM – Marandang merupakan salah satu tradisi yang ada di Ranah Minang dalam menyambut bulan suci Ramadhan. “Alah masak Randang?”...

Lifestyle10 jam ago

Menjaga Alam dengan Sodasan, Pembersih yang Ramah Lingkungan

SERIKATNEWS.COM – Di masa pandemi ini, kita harus lebih sering mencuci tangan. Tentunya selain menyebabkan tangan menjadi kering, limbah sabun...

Hukum10 jam ago

Rumah Bos PT Purnama Karya Digeledah KPK terkait Kasus Nurdin Abdullah

SERIKATNEWS.COM – Sejumlah barang bukti terkait kasus dugaan korupsi proyek pekerjaan infrastruktur yang melibatkan Nurdin Abdullah selaku Gubernur Sulawesi Selatan...

News17 jam ago

Wi-fi Gratis Tersedia di 14 Objek Wisata Bangka Belitung

SERIKATNEWS.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Bangka Belitung (Babel) memasang layanan wi-fi gratis di 14 titik objek wisata. Tujuan utamanya...

News17 jam ago

Menko Polhukam Tekankan Kepala Daerah Hindari Perilaku Koruptif

SERIKATNEWS.COM – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, mengimbau kepada kepala daerah terpilih pada Pilkada 2020 untuk menghindari perilaku...

Ekonomi18 jam ago

Menteri Trenggono Lepas Ekspor Produk Perikanan ke-40 Negara

SERIKATNEWS.COM – Kementerian Kelautan dan Perikanan melepas ekspor produk perikanan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini sebagai penanda...

News18 jam ago

Colong Start Mudik Tak Dilarang, Kemenhub Perketat Pengawasan

SERIKATNEWS.COM – Berhubung adanya larangan mudik yang berlaku pada 6-17 Mei 2021, tak menutup kemungkinan masyarakat akan colong start mudik....

Populer

%d blogger menyukai ini: