Kemalangan William Faulkner

38

Seorang perempuan kesepian, sendiri bersama sisa harga diri, berusaha menyembunyikan kenyataan. Keluarganya hanya bisa memberinya penderitaan, sebab dia belum merasa nyaman berbaring di dalam petinya sampai mereka membawanya pergi empat puluh mil jauhnya hanya demi menguburkannya.

Salah satu kutipan di bagian awal novel klasik “As I Lay Dying” karangan William Faulkner yang merangkum cerita. Karya Nobelis Sastra 1949 diterbitkan pertama kali pada 1930.

Novel setebal 358 halaman yang mengisahkan kehidupan keluarga Bundren. Mereka petani miskin pedesaan di daerah pinggiran Sungai Mississippi. Keluarga Bundren punya lima anak. Sebelum meninggal, Addie Bundren, sang ibu berwasiat agar dimakamkan di tanah leluhurnya di Jefferson sejauh 40 mill dari tempat keluarga itu tinggal.

Anse, suami Addie meninggalkan tanah pertanian dan membawa anak-anaknya: Cash , Darl, Jewel, Dewey Dell dan Vardaman beserta jasad sang istri untuk mewujudkan keinginan terakhir istrinya. Untuk mencapai tanah kelahiran sang ibu tidak mudah. Rintangan menghadang sepanjang perjalanan.

Mereka harus berkuda melewati sungai yang banjir. Cash jatuh dan terluka parah, mengalami peristiwa kebakaran, kekurangan uang, dan kelaparan.

Salah satu daya tarik Faulkner adalah kreativitas dia dalam mendongeng. Dia menggunakan 15 narator yang bermonolog. Faulkner membangun narasi cerita tak linier, melompat-lompat, dan melantur.

Saya berusaha memahami satu per satu karakter tokoh-tokohnya seperti yang diceritakan narator. Rupanya usaha saya gagal. Mungkin memang perlu berkali-kali menikmati karya ini. Saya membuktikan betapa njelimetnya novel ini. Tak bisa mengidentifikasi mana tokoh protagonis dan antagonis.

Apa yang saya alami selama membaca karya ini terbukti. Dalam sebuah wawancara, Faulkner dalam novel ini menyebut baca karyaku empat kali. Dia menjawab pewawancara yang bertanya ke dia tentang beberapa orang mengaku kesulitan untuk mengerti karya-karyanya. Bahkan setelah membaca karya Faulkner dua-tiga kali.

Baca Juga:  Membangun Mindset Bisnis ala Cobaz

Buat saya tokoh yang membekas dalam cerita itu adalah Cash. Dia membuat peti mati untuk Addie Bundren yang sekarat. Addie mengawasi Cash yang sedang membuat peti mati agar tak bermalas-malasan lewat jendela. Cash seorang tukang kayu handal yang mampu membuat apa saja.

Dalam perjalanan menuju tanah kelahiran ibunya, Cash mengalami kecelakaan dan terluka parah. Dalam keadaan yang sangat buruk itu, Cash tetap bertahan mengiringi ayah dan saudara-saudaranya untuk memenuhi keinginan mendiang ibunya.

Selain jalan ceritanya, saya menikmati lanskap alam yang Faulkner ceritakan. Perkebunan kapas, jalan setapak, perbukitan, mata air sungai Mississippi, jerami, dan rumah-rumah petani.

Sepanjang hidupnya Faulkner mengalami kegagalan demi kegagalan. Bahkan ia menyebut dirinya sebagai penyair gagal.

Sewaktu bocah ia pernah dikeluarkan dari sekolahnya karena ia kerap melamun di kelas dan selalu menjawab pertanyaan sederhana dari gurunya : “Saya tidak tahu,”.

Ia pernah ditinggalkan pacarnya karena lebih mapan. Faulkner ditolak saat melamar ke Angkatan Udara Amerika Serikat karena fisiknya. Dia punya tubuh kecil dan pendek sehingga tak lolos. Di kampus University of Mississippi ia keluar setelah tahun pertama. Nilai Bahasa Inggrisnya buruk.

Faulkner pernah bekerja di pembangkit listrik University of Mississippi sebagai penyerok batu bara dalam tungku sepanjang malam ketika para mahasiswa sedang tidur nyenyak. Dia menggunakan waktu istirahatnya antara pukul sebelas malam hingga empat pagi untuk menulis naskahnya di atas gerobak beroda satu yang dibalik.

As I Lay Dying terinspirasi dari satu baris Odyssey. Itu karya epik ciptaan filsuf dan sastrawan Yunani Kuno yang buta, Homer. Berkisah tentang Raja Agamemnon yang telah meninggal dan bertemu dengan Odiseus di kedalaman neraka.

Baca Juga:  Menyuburkan Dakwah Islam di Amerika Melalui Novel

As I Lay Dying telah diadaptasi dalam film berjudul sama dengan sutradara James Franco. Dia sekaligus berperan menjadi Darl dalam film itu.

Faulkner meninggal pada 6 Juli 1962 tak lama setelah terjatuh karena menunggang kuda kesayangannya. Dia sangat menyukai kudanya itu. Suatu hari isterinya melihat kuda kesayangan Faulkner berdiri di tepian pagar tanpa Faulkner, dengan pelana masih terpasang dan tali kekang yang menjuntai. Kuda itu melemparkan tubuh Faulkner dan punggungnya menghantam tanah sekeras-kerasnya.