KPK Periksa Komisaris HTK

14
kpk
Ilustrasi (Net)

SERIKATNEWS.COM – Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan kepada Komisaris PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Theo Lykatompesy, Kamis (16/5/2019). Theo bakal diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap kerja sama pengangkutan distribusi pupuk. Tim penyidik memeriksa Theo untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Asty Winasti, Marketing Manager PT HTK.

“Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi untuk AWI (Asty Winasti),” kata Jubir KPK, Febri Diansyah.

Tak hanya Theo, tim juga menjadwalkan pemeriksaan kepada Manager Keuangan PT HTK, Mashud‎ Masdjono. Anak buah Theo itu juga akan diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Asty.

Peran dan kepentingan Humpuss Transportasi Kimia dalam kasus suap ini tergambar jelas. KPK sejak awal menduga PT Humpuss Transportasi Kimia mendekati dan bahkan menyuap anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso agar kembali mendapat kontrak kerja sama dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) untuk pengangkutan.

Kontrak kerja sama antara HTK dengan PT Pilog menjadi salah satu hal yang didalami penyidik. PT Humpuss Transportasi Kimia merupakan anak usaha dari PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS), salah satu unit bisnis Humpuss Grup milik Tommy Soeharto Ketua Umum Partai Berkarya yang juga putra Presiden ke-2 RI Soeharto.

Diberitakan, KPK menetapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dan anak buahnya, staf PT Inersia bernama Indung sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi pupuk. Selain Bowo dan Indung, KPK juga menjerat Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti sebagai tersangka. Para pihak tersebut ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa intensif usai ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (27/3/2019) hingga Kamis (28/3/2019) dini hari.

Baca Juga:  Pemerintah Harus Dukung KPK Mengungkap Kasus BLBI

Kasus ini bermula saat PT Humpuss Transportasi Kimia berupaya kembali menjalin kerja sama dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) untuk mendistribusikan pupuk PT Pupuk Indonesia menggunakan kapal-kapal PT Humpuss Transportasi Kimia. Untuk merealisasikan hal tersebut, PT Humpuss meminta bantuan Bowo Sidik Pangarso. Pada tanggal 26 Februari 2019 dilakukan MoU antara PT Pilog dengan PT Humpuss Transportasi Kimia. Salah satu materi MoU tersebut adalah pengangkutan kapal milik PT Humpuss Transportasi Kimia yang digunakan oleh PT Pupuk Indonesia.

Dengan bantuannya tersebut, Bowo meminta komitmen fee kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah US$ 2 per metric ton. Untuk merealisasikan komitmen fee ini, Asty memberikan uang sebesar Rp89,4 juta kepada Bowo melalui Indung di kantor PT Humpuss Transportasi Kimia di Gedung Granadi, Jakarta, Rabu (27/3). Setelah proses transaksi, tim KPK membekuk keduanya.

Suap ini bukan yang pertama diterima Bowo dari pihak PT Humpuss Transportasi Kimia. Sebelumnya, Bowo sudah menerima sekitar Rp221 juta dan US$ 85.130 dalam enam kali pemberian di berbagai tempat, seperti di rumah sakit, hotel dan kantor PT Humpuss Transportasi Kimia.

Selain dari Humpuss, KPK menduga Bowo juga menerima suap atau gratifikasi dari sejumlah perusahaan lain. Saat OTT, tim Satgas KPK menyita uang sekitar Rp8 miliar. Uang dalam pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu itu dimasukkan dalam 400 ribu amplop dengan 82 kardus dan dua boks kontainer. Ratusan ribu amplop tersebut diduga disiapkan Bowo untuk serangan fajar pada hari pencoblosan Pemilu 2019.