KPK Periksa Direktur Ritel PT Sarinah

15

SERIKATNEWS.COM – Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memeriksa Direktur Ritel PT Sarinah (Persero) Lies Permana Lestari pada hari ini, Senin (11/11/2019). Petinggi perusahaan BUMN itu bakal diperiksa sebagai saksi kasus dugaan proyek pengadaan Baggage Handling System (BHS) yang melibatkan dua perusahaan BUMN yakni PT Angkasa Pura II dan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI).

Pemeriksaan terhadap Lies Permana Lestari dilakukan penyidik untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka mantan Dirut PT INTI, Darman Mappangara. “Yang bersangkutan (Lies Permana Lestari) diperiksa sebagai saksi untuk tersangka DMP (Darman Mappangara),” kata Plh. Kepala Biro Humas KPK Chrystelina GS, Senin (11/11/2019).

Selain memeriksa Lies Permana Lestari, dalam mengusut kasus ini tim penyidik juga menjadwalkan memeriksa seorang wiraswasta bernama Sujono. Seperti halnya Lies Permana, Sujono juga diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Darman Mappangara.

Diketahui, KPK menetapkan Darman Mappangara sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek BHS di PT Angkasa Pura Propertindo, anak usaha PT Angkasa Pura II (PT AP II). Penetapan tersangka terhadap Darman ini merupakan pengembangan dari kasus yang sama yang telah menjerat Direktur Keuangan PT AP II Andra Y. Agussalam dan staf PT INTI Taswin Nur.

Darman bersama-sama Taswin diduga menyuap Andra sebesar US$ 71.000 dan SGD 96.700 untuk ‘mengawal’ agar proyek BHS dikerjakan oleh PT. INTI. Tak hanya proyek BHS, pada 2019, PT INTI mengerjakan sejumlah proyek di PT Angkasa Pura II (Persero) lainnya, seperti proyek Visual Docking Guidance System (VGDS) dengan nilai proyek Rp106,48 miliar, proyek Bird Strike senilai Rp22,85 miliar serta proyek pengembangan bandara senilai Rp86,44 miliar.

Baca Juga:  Moeldoko: Pemerintah Bersama KPK dan 20 LSM Berjuang Bersama Berantas Korupsi

PT INTI juga memiliki daftar prospek proyek tambahan di PT Angkasa Pura II dan PT Angkasa Pura Propertindo, yakni proyek X-Ray 6 bandara senilai Rp100 miliar Baggage Handling System di enam bandara senilai Rp125 miliar dan proyek VDGS senilai Rp75 miliar serta proyek radar burung senilai Rp60 miliar. PT INTI (Persero) diduga mendapatkan sejumlah proyek tersebut berkat bantuan Andra.