Connect with us

Opini

Listrik dan Peradaban

Published

on

Ilustrasi Pembangkit Listrik (Foto: M News)

Belum lama ini, saya berkesempatan membaca dummy buku PLN 75 Tahun Menerangi Negeri, untuk menyambut hari jadi perusahaan setrum negara pada 27 Oktober tahun ini. Saat membaca, saya memberi perhatian khusus pada bagian yang membahas para petugas lapangan PLN, dengan judul “Mereka yang Menjaga Nyala”. Hal ini menarik bagi saya, karena mereka ibarat juru kunci peradaban.

Berkat mereka terus bersiaga, kita bisa tenang dalam beraktivitas, sejak bangun pagi hingga menjelang rehat malam. Para pekerja lapangan bersiaga praktis 24 jam, agar pelanggan dan kelas menengah perkotaan tetap tenang berkarya, berproduksi, dan mengadakan berbagai pertemuan penting.

Benar, seperti dikatakan Robert Bryce dalam buku terbarunya, A Question of Power: Electricity and The Wealth of Nations, listrik telah memicu zaman baru dalam sejarah peradaban. Sejak dikomersialisasikan, listrik telah membawa cahaya terang modernitas dan kemajuan. Bayangkan, rumah, sekolah, rumah sakit, bisnis, komunitas atau dunia Anda, hidup tanpa energi yang luar biasa ini.

Dengan adanya listrik, pengetahuan dan informasi juga ikut berkembang. Anak-anak di pedalaman Nusantara tetap bisa belajar dengan tenang di tengah pandemi, karena adanya aliran listrik. Keberadaan listrik telah memangkas kesenjangan pengetahuan sehingga siswa-siswa potensial di daerah pedalaman tetap bisa berkembang kecerdasan dan pengetahuannya.

Penanda Zaman

Di negeri kita, listrik mulai hadir pada awal abad ke-20. Dengan adanya listrik, manusia bisa berkreasi secara optimal, dan produk yang dihasilkan menjadi penanda zaman. Dengan kata lain, ada dua predikat pada listrik. Pertama, keberadaannya merupakan penanda zaman, kedua, listrik menjadi faktor penting munculnya penanda zaman lainnya, seperti ekonomi, pendidikan, kesenian, politik, dan lain-lain.

Dengan adanya listrik, kehidupan di kota seperti Jakarta (Batavia) bisa menjadi lebih semarak, dengan durasi lebih panjang. Berkat penerangan di malam hari, pentas kesenian seperti Tonil (Dardanela), klub eksklusif (Societeit Harmonie), gambar hidup (film), pentas kelompok musik (keroncong atau gambus), tetap bisa dilangsungkan.

Baca Juga:  Siapa Wapres Ideal Jokowi pada 2019?

Listrik juga memberi kemudahan bagi The Founding Fathers mengasah gagasan soal kemerdekaan. Menyebut salah satunya, karya Soekarno Di “Bawah Bendera Revolusi”, ditulisnya di malam hening dengan penerangan listrik. Begitu juga yang terjadi di asrama mahasiswa Kramat Raya 106, kini Museum Sumpah Pemuda, para pemuda berdiskusi hingga larut malam, termasuk mempersiapkan kongres pemuda 1928.

Demikian juga yang terjadi di Solo, tempat saya tinggal, kota yang sejak lama dikenal sebagai episentrum tradisi Jawa. Pencapaian itu tidak bisa dilepaskan dari dua faktor, yaitu Paku Buwono X yang memerintah periode 1893-1939 dan aliran listrik. Sebagai raja yang dikenal visioner, PB X menjadikan Solo sebagai kota yang paling awal dialiri listrik di luar Batavia. Solo pada masa PB X, adalah Solo yang “terang” di malam hari.

Pembangkit listrik dengan tenaga diesel mulai menerangi Solo pada 19 April 1902. Dengan adanya listrik, kegiatan perdagangan dan kesenian bisa dilakukan di malam hari, termasuk pertandingan sepak bola dan pentas wayang di Taman Sriwedari. Tembang lawas “Solo di Waktu Malam”, secara tidak langsung adalah pengakuan keberadaan aliran listrik di Solo saat itu.

Melihat peran dan sejarahnya, Kuntoro Mangunsubroto, Dirut PLN periode 2000-2001, pernah mengatakan PLN adalah perusahaan yang paling “merah-putih”. PLN hadir di seluruh pelosok negeri, dari Sabang sampai Merauke. Tidak sebatas masyarakat perkotaan, juga di perdesaan, bahkan masyarakat di daerah terisolasi membutuhkan aliran listrik.

Karenanya PLN harus kita jaga agar terus maju dan semakin berkembang dalam melayani pelanggan. Selain berperan besar dalam kehidupan, PLN memiliki riwayat perjuangan patriotisme yang hampir sama dengan perusahaan kereta api (PT KAI), perkebunan (PTPN), jasa pos (PT Pos Indonesia), pelayaran (PT Pelni), telekomunikasi (PT Telkom Indonesia), dan lainnya. Tidak berlebihan jika PLN layak disebut sebagai cagar budaya.

Baca Juga:  Media Massa Harus Cerdas dalam Pemberitaan Terorisme

Terus Menerangi

Setelah lebih dari satu abad kehadiran listrik di tanah air, kini yang terjadi adalah paralelisme historis. Meski bekerja dalam senyap, listrik tetap berperan signifikan dalam mengawal peradaban bangsa kita hari ini. Listrik sebagai salah satu kekuatan yang mengubah sejarah, tetap memiliki posisi sentral baik dari aspek teknis, ekonomi, dan kelembagaan.

Paralelisme itu bisa kita lihat hari ini, ketika perkembangan pengetahuan dan teknologi berjalan begitu cepat. Dengan dukungan listrik, rekayasa apa pun bisa dilakukan, termasuk artificial intelligence. Tentu yang paling kasat mata adalah soal fenomena aliran informasi, dari beragam sumber yang bergerak dengan cepat dan masif.

Peradaban identik dengan etika, nilai inilah yang bisa dijadikan pegangan, selain standard operating procedure yang diterapkan perusahaan. Dari pengalaman empirik, bisa saja PLN menghadapi problem teknis seperti yang pernah terjadi pada awal Agustus 2019, ketika listrik padam secara masif (Jawa dan Bali), dan dalam durasi relatif lama. Atau ada kalanya, ketika PLN mengadakan giliran pemadaman listrik.

Pada fase ini, etika dan profesionalisme jajaran direksi, komisaris, dan karyawan PLN, perlu terus ditingkatkan untuk mencegah hal serupa terjadi. Masyarakat akan tetap percaya pada dedikasi segenap personel PLN, utamanya mereka yang ada di lapangan yang menyusuri jurang terjal dan daerah yang sulit dijangkau—sebagai para “juru kunci peradaban”.

Berkat mereka negeri kita terus terang-benderang dan terang pula peradabannya. Selamat Hari Listrik Nasional.

Advertisement
Advertisement

Terkini

Pendidikan4 menit ago

TPQLB Susun Modul Pembelajaran untuk Difabel

SERIKATNEWS.COM – Taman Pendidikan Quran Luar Biasa (TPQLB) Yayasan Spirit Dakwah Indonesia cabang Yogyakarta gelar rapat penyusunan modul pembelajaran, Minggu...

Sosial3 jam ago

Sempat Diguyur Hujan, NUsantara Bersholawat Tetap Berlangsung Ramai

SERIKATNEWS.COM – Setelah berhasil mengadakan seminar nasional, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) selanjutnya mengadakan NUsantara Bersholawat. Kedua acara ini merupakan...

Ekonomi4 jam ago

Meski Angka Penjualan Turun Selama Covid-19, Bisnis Properti Tetap Menarik untuk Investasi

SERIKATNEWS.COM – Selama Pandemi Covid-19, bidang property terpukul sangat dalam dan diperkirakan masih akan berlanjut hingga tahun depan. Meski begitu,...

Budaya18 jam ago

PKN 2020: Perhelatan Kebudayaan Ramah Semesta Kebanggaan Indonesia

SERIKATNEWS.COM – Setelah dibuka pada 31 Oktober 2020 lalu oleh Presiden Joko Widodo secara daring, Pekan Kebudayaan Nasional 2020 yang...

Hukum19 jam ago

Wali Kota Cimahi dan Komisaris RSU Kasih Bunda Diduga Terlibat Kasus Suap

SERIKATNEWS.COM – Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna (AJM) beserta Komisaris RSU Kasih Bunda Hutama Yonathan (HY) diduga terlibat dalam...

Pariwisata2 hari ago

Jadi Tuan Rumah Global Tourism Forum 2021, Peluang Indonesia Bangkitkan Pariwisata dan Investasi

SERIKATNEWS.COM – Indonesia telah dipilih sebagai tuan rumah untuk Annual Meeting Indonesia Global Tourism Forum 2021. Dipilihnya Indonesia karena merupakan...

Hukum2 hari ago

Edhy Prabowo Kirim Surat Pengunduran Diri kepada Presiden

SERIKATNEWS.COM – Presiden Joko Widodo telah menerima surat pengunduran diri dari jabatan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia Edhy...

Populer

%d blogger menyukai ini: