Connect with us

Sosial Budaya

Paus Fransiskus: Kita Harus Kembali Ke Akar Keberadaan Kita Sebagai Saudara

Published

on

Dok. PBNU

SERIKATNEWS.COM – Setelah musyawarah seharian pada hari Rabu (15/1/2020), di Gregorian University, Roma, malam harinya delapan belas tokoh agama-agama Ibrahim diterima oleh Sri Paus di kediamannya di kompleks Basilica, Vatikan.

Khatib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf mangatakan bahwa pada kesempatan itu Pastor Bob Roberts menjelaskan kepada Sri Paus tentang hasil-hasil diskusi hari itu, termasuk penegasan dukungan terhadap “Piagam Persaudaraan Kemanusiaan” yang ditandatangani bersama oleh Paus Fransiskus dan Tetua Agung Al Azhar, Syaikh Ahmad Al Tayeb di Abu Dhabi pada Februari tahun lalu (2019).

Gus Yahya (sapaan akrab Yahya Cholil Staquf) mengutip pernyataan Sri Paus bahwa forum Inisiatif Agama-agama Ibrahim (Abrahamic Faiths Initiative) adalah wahana untuk mengedepankan ikhtiar-ikhtiar perdamaian. Menurutnya, setiap masalah apa pun yang dihadapi, hendaknya dikembalikan ke akar keberadaan manusia, yaitu sebagai saudara.

“Diskusi yang digelar sejak pagi hingga sore mengerucutkan sikap dan langkah bersama dalam menghadapi kemelut kemanusiaan dewasa ini, yang sangat kental diwarnai oleh konflik antar kelompok agama,” kata Yahya dalam rilis yang diterima Serikat News, Kamis (16/1/2020).

Gus Yahya mengatakan, Sam Brownback, Duta Besar Keliling Amerika Serikat Untuk Kebebasan Beragama, pada awal diskusi menyampaikan keprihatinan yang mendalam terhadap banyaknya konflik antar agama. Jika konflik antar agama dibiarkan, sudah pasti ujungnya adalah saling bunuh di antara sesama manusia.

“Ungkapan itu persis seperti analisis yang dipaparkan dalam “Deklarasi Gerakan Pemuda Ansor Tentang Islam Untuk Kemanusiaan (Humanitarian Islam)”, pada tahun 2017 yang lalu,” jelas Gus Yahya.

Reverand Thomas Johnson dari World Evangelical Alliance menekankan bahwa deklarasi saja tidak cukup, karena belum tentu banyak orang mau sungguh-sungguh membaca dan mempelajarinya.

Baca Juga:  Eva Sundari: Batik “Panji” Siap Memperkaya Industri Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

Yahya Staquf menimpali bahwa memang siapa pun yang membuat deklarasi harus siap menindaklanjutinya dengan langkah-langkah strategis yang nyata. Ia pun memberi contoh dengan menjelaskan kiprah Nahdlatul Ulama dalam membangun strategi transformatif melalui aktivisme sosial, yaitu melakukan pelayanan bagi masyarakat dalam arti luas, termasuk melindungi hak-hak kelompok minoritas.

Sedangkan Chief Rabbi David Rosen menambahkan mengenai perlunya kalangan politik melihat agama-agama sebagai basis strategi resolusi konflik, bukan hanya pendekatan militer dan ekonomi.

Ambassador Sam Brownback pada kesempatan itu menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas segala yang telah dilakukan oleh Nahdlatul Ilama selama ini dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Musyawarah pada akhirnya mencapai kesepakatan untuk terjun ke wilayah konflik demi mengupayakan jalan keluar. Namun Gus Yahya Staquf pun mengingatkan bahwa hal itu harus dilakukan dengan strategi yang komprehensif dan terkonsolidasi. “Tentu dengan dukungan instrumen-instrumen dan sumber daya-sumber daya yang penuh,” tutupnya.

Advertisement

Popular