Connect with us

Cerpen

Berburu Senja

Published

on

Ilustrasi senja Gunung Merbabu © Net

Orang bilang senja selalu identik dengan keindahan. Bahkan senja selalu disandingkan dengan kata atau sajak romantis. Klise memang, saat membandingkan senja tentang keindahan cinta. Selalu menjadi pertanyaan, apakah orang yang jatuh cinta selalu pandai membuat puisi yang ujung-ujungnya selalu mengibaratkan senja?

Kau tahu di mana senja yang paling indah, Amira. Senja tak ada yang indah, menurutku. Bahkan kau mengatakan bahwa; senja di gunung Merbabu yang ada di belakang rumahku, seperti senja yang ada di surga. Aku pikir saat  mata sipitku melihat pertama mengiyakan, pasti.

Senyummu memudarkan anganku selama ini. Senja di gunung Merbabu sekarang jelek. Raut bayangan-bayangmu selalu menghantui dalam setiap palung mimpiku setiap malam.

“Apa kau mencintaiku, Amira?”

“Iya, Pram. Aku juga mencintaimu.”

Pergunjingan kita saat itu memang ditonton asyik oleh lajur bintang yang mengintip di balik senja puncak gunung Merbabu. Sore itu, mengapa kita tak saling mengikat dalam ciuman bibir. Aku hanya saja ingin lebih menyatu dalam peluk bersamamu, tapi memang kita masih dalam mode malu yang menghadang dalam diri kita masing-masing.

Naasnya senja itu adalah senja yang indah yang terakhir aku lihat. Aku ingin sekali mengulang senja tersebut bersamamu.

***

Aku sekarang terbunuh sepi dalam lamunan. Menerpa dalam setiap kenang. Menghantui dalam bayang-bayang yang merusak dalam akal pikirku. Kita selalu berbicara senja bersama. Bahkan dalam setiap mimpiku kau tak lepas sedetik pun mengatakan senja.

Senja di pantai Losari. Senja pertama yang kita lihat bersama. Saat itu kita saling bercakap berhadapan dengan titik cinta yang masih tersembunyi. Senja saat itu sedang malu, saat kita bergandeng tangan. Malu mungkin, senja bersembunyi dalam awan mendung saat itu. Hanya titik cahaya yang berbentuk cincin yang terlihat dalam sepasang mata kita. Terlintas hanya 30 menit  kita menikmati senja di pantai Losari. Saat hujan tiba-tiba mengguyur baju kita seketika. Basah kuyup tak bisa dihindarkan. Kita ternyata masih belum menemukan senja yang paling indah saat itu.

Baca Juga:  Caleg (2)

***

“Pram, senja di pegunungan Bromo kata orang indah.”

“Iya, aku juga mendengar di sana mempunyai senja nan indah.”

Gunung Bromo, hanya beberapa hari setelah kita dari pantai Losari dan tiba di rumah, kau mengajakku lagi memburu senja. Kau tahu, saat itu dompet dalam kantong sakuku masih tipis. Tak mungkin aku saat itu melakukan perburuan yang kau maksud.

“Tapi, sekarang aku tak punya uang, Almira.”

“Sudahlah, gampang. Aku yang urus semua biayanya.”

Untuk pertama kalinya kita melihat senja dengan utuh. Kau tersenyum saat itu. Awan bergaris pada horizon angkasa. Membentuk lautan awan yang anggun yang ingin diselami oleh burung. Mata kita saat itu menghimpun hias cakrawala senja yang begitu indah. Tak terlepas dalam potret pasang pandangan kita. Saat itu, bukan senja yang kuperhatikan, tapi senyum lesung pipimu yang manis selalu menjadi kenangan oleh-olehku waktu pulang.

***

Setelah kita pulang. Kita sepakat, untuk pergi berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Hanya untuk berburu senja. Seluruh Indonesia kita jelajahi bersama. Hampir 2 tahun lamanya kita mencari senja yang paling indah, tapi menurutku waktu 2 tahun tersebut sangat singkat. Besar harapku saat itu kita bisa keliling ke penjuru dunia bersama.

“Pram, ayo ke gunung Merbabu!”

“Gunung yang ada di belakang rumahku.”

“Iya.”

Merbabu, betul katamu saat itu. Aku pasti akan tak akan melupakan senja di atap sana. Kita berhasil melihat senja tersebut. Lalu kau pergi untuk selamanya.

Kejadian tersebut, tak akan bisa hilang dalam ingatanku. Saat dirimu terjatuh ke dalam jurang saat kita habis melihat senja di puncak. Itu salahku memang, saat kita turun seharusnya aku selalu menggandeng tanganmu. Senter kita mati saat itu. Kau terpeleset jatuh ke jurang, tanpa ada suara sekecil pun yang keluar.

Baca Juga:  Usaha Menjadi Gila

“Almira,” tanyaku dalam hening malam saat itu.

Aku mencari bayanganmu dengan bermodal cahaya bintang. Aku mencari dengan menyusuri kembali jalur ke puncak. Hasilnya nihil. Fajar terlihat di  ufuk timur. Maaf, Almira! Aku kembali ke posko perizinan dengan membawa kabar di tangan hampa tentang hilangnya dirimu.

Tujuh hari tim SAR mencari keberadaanmu. Akhirnya, jasadmu ditemukan dengan naas. Entah, apa yang kupikirkan saat itu. Aku menangis sendu saat dirimu mati terbujur kaku.

Advertisement
Advertisement

Terkini

Olahraga15 menit ago

Link Live Streaming Inter Milan Vs Juventus

SERIKATNEWS.COM – Liga Italia menyajikan laga panas antara Inter Milan lawan Juventus. Laga ini digelar di Stadion Giuseppe Meazza, Senin...

Olahraga33 menit ago

Live Streaming Liverpool Vs Manchester United

SERIKATNEWS.COM – Liverpool vs Manchester United berlangsung di Anfield, pada Minggu (17/1/2021) pukul 23.30 WIB. MU datang ke markas Liverpool...

News54 menit ago

Kota Manado Diterjang Cuaca Ekstrem

SERIKATNEWS.COM – Cuaca ekstrem angin kencang yang terjadi di Kota Manado, Sulawesi Utara, menyebabkan gelombang tinggi di Pantai Manado, Minggu...

Ekonomi3 jam ago

Akademisi Berharap Indonesia Fokus pada Peningkatan Ekspor Komoditi Pertanian

SERIKATNEWS.COM – Pemerintah Indonesia diharapkan dapat fokus pada peningkatan ekspor pertanian. Menurut peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas...

Olahraga11 jam ago

Solskjaer PD MU Bisa Menang di Markas Liverpool

SERIKATNEWS.COM – Pada lanjutan Liga Inggris, Manchester United (MU) akan bertandang ke markas Liverpool, Stadion Anfield, Minggu (17/1/2021) malam WIB....

Hukum12 jam ago

Polres Pati Amankan Oknom PNS yang Sedang Karaokean dan Mabuk Berat

SERIKATNEWS.COM – Polres Pati mengamankan MS yang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada saat melaksanakan operasi yustisi yang dipimpin langsung...

Lifestyle15 jam ago

Fatin Shidqia Dijodohkan dengan Ady Sky, Apa yang Terjadi?

SERIKATNEWS.COM – Musisi muda Fatin Shidqia dikabarkan dijodohkan dengan Ady Sky. Fatin mengaku baru mengenal Ady Sky dan belum mengetahui...

Populer

%d blogger menyukai ini: