Connect with us

Cerpen

Lily

Published

on

Ilusi

Gemericik air dari shower kamar mandi masih terus terdengar. Satu jam lebih, tetapi pengguna kamar mandi itu belum keluar-keluar juga.

“Gosok lagi, Lily, terus, itu belum hilang bekasnya, kurang keras, dasar kamu anak tak tahu diri, ayo gosok terus!”

Suara itu terus lantang terdengar diiringi makian yang panas di telinga Lily.

“Bergaul sama anak-anak berandalan, inilah yang kamu dapat. Belum kapok heh? Mau jadi pelacur? Gosok lebih keras lagi!”

“Argghhh!!!” teriak Lily.

Batu apung untuk menggosok tubuhnya terlepas dari gagangnya. Pletak! Terlempar mengenai kaca wastafel, kena dudukan toilet, jatuh ke lantai kamar mandi.

“Non Lily? Masih lama, Non? Dipanggil Nyonya di bawah, Nyonya mau pergi lagi,” Bi Supi memanggil di pintu kamar mandi.

“Iyaa,” jawab Lily parau.

“Bibi siapin bajunya yaa,” lanjut si bibi. Suara parau itu. Lily menangis?

“Iya, Bi. Taruh saja di situ,” lanjut Lily sambil menyedot ingusnya.

Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Ia tak menyangka Bi Supi masih menunggunya di muka kamar mandi. Ia keluar dengan balutan handuk di badan dan rambutnya.

“Ya ampun, Non. Kok merah-merah begini tangannya? Punggung, kaki juga. Non Lily kenapa? Masyaallah, jatuh di sekolah?”

“Iya, jatuh.”

“Kalau begitu pakai baju yang ini saja, Non. Lengan panjang biar Nyonya nggak lihat, nanti Nyonya marah.”

“Iya, Bi.”

Bi Supi memandangi punggung anak majikannya yang merah-merah, lecet di sana-sini. Ia meringis membayangkan perihnya. Lily, anak yang selalu ceria, yang ia asuh sejak balita, yang ia perlakukan seperti anak sendiri, yang tak kurang perhatian meski ayah dan ibunya sibuk. Namun, sejak duduk di bangku SMP, Lily menjadi anak pendiam. Jika ditanya, jawabannya selalu, “Tidak apa-apa, Bi.”

Di ruang tengah, sang ibu menunggu. Gaun merahnya berkibar mengikuti langkah kakinya yang jenjang.

“Lama amat sih mandinya?”

“Iya, Ma. Tadi Lily …”

“Sekolahmu telepon. Katanya kamu nggak ikut pelajaran lagi habis istirahat kedua. Ngelayap ke mana kamu?”

“Mmm, ngerjain tugas di rumah Dahlia.”

Baca Juga:  Hadiah

“Hhh ada-ada saja. Lain kali izin sama gurumu kalau meninggalkan sekolah. Mama kan jadi repot diteleponin, mana lagi meeting penting.”

“Maaf, Ma. Lily janji …”

“Sudah. Mama nggak mau lagi kamu cabut dari sekolah seperti tadi, ngerti?”

“Ngerti, Ma.”

Ibunya berlalu diiringi bunyi ringtone di handphone yang ia jawab dengan riang. Keriangan yang tak pernah dinikmatinya bersama Lily.

“Halo? Hei, Say, Dior-ku nggak tahu di mana, kayaknya masih di laundry. Jadi ini aku pakai Chanel. Iyalah, warna merah sesuai tema kita malam ini. Eh, aku baru mau jalan yah. Kamu di mana?”

Lily memandangi ibunya dari balik jendela ruang tamu hingga mobil Range Rover putih yang membawanya perlahan keluar dari pekarangan rumah. Pak Jas sopir, membunyikan klakson dan melambaikan tangan. Tahu saja Lily tengah mengamati mereka.

“Non?”

“Ya, Bi?”

“Tadi Nyonya minta dibuatkan sup macaroni kesukaan Non Lily. Tuh, Bibi sudah siapkan di meja.”

“Belum lapar, Bi.”

“Sedikit saja, digado yah sama perkedel.”

Lily mengayuh gontai kakinya ke meja makan. Nonsense, akal-akalan si bibi agar seolah-olah ibunya menaruh perhatian kepadanya. Hal itu dilakukan Bi Supi entah mulai kapan.

Bi Supi mengamati tingkah Lily. Di kamar mandi tadi ia dengar Lily terisak, berteriak, berbicara, seolah ia tak sendirian.

“Non baik-baik saja, kan? Bibi olesin param kocok yah punggungnya biar enakan.”

“Nanti saja, Bi. Habis ini Lily mau mengerjakan PR.”

Usai makan, setengah berlari Lily kembali ke kamar. Menutup rapat pintu, mencari suara yang memakinya di kamar mandi tadi.

“Sssht, Suster McPhee sudah pergi. Dia tak akan kembali lagi sampai besok.”

“Kau tak tahu saja malam-malam dia suka datang, kadang menumpahkan air dingin ke kepalaku.”

“Tidak malam ini, kau bisa tidur dengan nyenyak.”

“Ahh semoga saja. Kapan kita bisa ke Valley.”

“Tak lama lagi. Di Valley para kurcaci sedang menyelesaikan pagar taman Neverland.”

“Ohh bukankah itu tahap terakhir?”

“Ya, para kurcaci kan sakti mereka bisa membuatnya dalam semalam.”

Baca Juga:  Sri Semeleh

“Kalau semalam kenapa belum selesai juga sampai sekarang?”

“Hahaaa iya juga yah?”

Keduanya tertawa. Lily dan Joe, lelaki seumuran dengannya yang selalu datang setiap ia membutuhkan seorang teman. Terkadang, Joe datang bersama Marki, yang usianya lebih muda dari mereka, Julia si kutu buku yang pelit bicara dan Arcee yang terlalu banyak gerak, mondar-mandir, lari-larian, loncat-loncat tak pernah diam. Di kamar mandi, yang memaki dirinya tadi adalah Suster Matilda. Anak-anak itu memanggilnya Suster McPhee karena selalu mengenakan pakaian serba hitam, membawa tongkat, rambut digelung, dan selalu marah. Mengingatkan mereka untuk tidur siang, makan sayur, dan membaca buku. Persis seperti karakter dalam film Nanny McPhee. Lily berteman dengan Joe sejak kelas 4 SD. Suster Matilda datang satu tahun kemudian. Tepatnya sejak para kurcaci mencari lokasi Valley dan membangunnya untuk Lily, Joe, Marki, Julia, dan Arcee. Sebuah taman impian, berisikan semua mainan, tak ada kejahatan, tak ada sedih dan sepi, tak ada Suster Matilda, tak ada ibunya, tak ada Bi Supi?

“Aku sayang sekali dengan bibiku. Andai saja ia bisa ikut bersama kita.”

“Tak ada orang tua di Valley. Dan kita selamanya tak menjadi tua di sana.”

“Bolehkah aku pamit dengan bibiku jika kita sudah siap pergi nanti?”

“Hmm tulis saja lewat surat.”

 

Keesokan harinya.

“Panasnya sampai 38, Nyonya. Tadi malam sudah minum obat panas, tetapi sekarang naik lagi.”

“Ya sudah, nggak usah sekolah dulu. Dokter Kosasih baru bisa datang jam 4 sore. Temani dulu ya, Bi.”

“Iya, Nyonya.”

“Ingat, tidak boleh buka medsos, tidak boleh buka Youtube. Makin nakal saja anak itu.”

“Nanti saya ingatkan, Nyonya.”

Lily yang terbaring sakit, terus menahan rasa ingin buang air kecil. Ia takut, Suster Matilda sedang menunggunya di kamar mandi dengan sikat dan batu apung. Menyuruhnya untuk menggosok kembali tubuhnya keras-keras. Tubuh yang ia sendiri jijik untuk melihatnya di kaca. Yang ia sendiri jijik untuk menyentuhnya. Tubuh yang membawa sial.

Baca Juga:  1 Suro

“Non, mandinya Bibi usap saja pakai wash lap ya,” Lily pun menurut.

 

Sore harinya.

Dokter Kosasih hanya memberikan obat penurun panas dan obat untuk tenggorokan Lily yang radang.

“Sepertinya Lily sedang banyak pikiran. Benar, Bi?”

“Belakangan ini saja, Pak Dokter. Makannya juga susah.”

“Bu Marlina masih sering pergi?”

“Masih, Pak Dokter.”

“Sering-seringlah ajak Lily bicara, Bi. Anak seumuran dia butuh banyak didengar. Mama papanya kerja. Bibi yang selalu bersama Lily, bukan?”

Bi Supi mengangguk. Ragu untuk bercerita lebih.

“Kabarkan ke saya perkembangan Lily, ya, Bi.”

“Iya, Pak Dokter. Terima kasih.”

Kembali ke kamar Lily hendak memberikan obat, betapa terkejutnya Bi Supi mendapati Lily di kamar mandi dengan seuntai kain merah. Seketika pandangannya buram, kepalanya berputar, gelap, tubuhnya ringan, pingsan.

 

***

Sirine ambulance meraung-raung memekikkan telinga. Semakin lama semakin menjauh dan akhirnya hilang. Sunyi. Bi Supi masih berdiam di kamar Lily, terpaku seorang diri. Kertas warna kuning menyembul di bawah bantal. Ia tarik, dan ia baca. Tulisan tangan Lily.

 

Dear Bi Supi,

Maafkan Lily. Bibi jangan sedih.

Lily sekarang bahagia bersama teman-teman yang semuanya baik.

Tidak seperti teman-teman di sekolah.

Mereka jahat.

Megatron yang suka kasih perintah. Brawl, Bonecrusher awalnya tak mau tetapi dibujuk Megatron, katanya bukti setia kawan. Sementara Frenzy, Shockwave, Shatter, dan Dropkick hanya ikut-ikutan saja.

Hihiii, Bibi lihat film Transformer yaa supaya tahu bentuk Decepticons yang jahat-jahat itu.

Oya, Bibi dapat salam dari Joe, Marki, Julia, dan Arcee.

Mereka bilang Bibi orangnya baik meski tidak percaya kalau mereka ada.

I love you, Bibi …

Lily

 

Keesokan harinya di headline hampir semua media, “Siswi SMP Korban Pelecehan Seksual Tewas Gantung Diri”.

Advertisement
Advertisement

Terkini

Politik6 jam ago

RUU Pemilu Ciptakan Elektoral Sehat dan Murah

SERIKATNEWS.COM – Komisi II DPR RI menargetkan Rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum (RUU Pemilu) bisa diselesaikan pada pertengahan 2021. Harapannya RUU...

Politik12 jam ago

Edhy Prabowo Ditangkap, Luhut Pengganti Sementara Jabatannya

SERIKATNEWS.COM – Luhut Binsar Panjaitan ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi ad interim Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP). Hal...

News19 jam ago

Sayangkan Demo Vandal, Ketua PP Jaktim: UU Ciptaker Penting Demi Majukan Iklim Investasi

SERIKATNEWS– Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Jakarta Timur menggelar kegiatan seminar online bertajuk “Undang-Undang Cipta Kerja dan Polemik Demonstrasi...

News19 jam ago

Generasi Muda Ka’bah Yogyakarta Deklarasi Dukung Suharso Munoarfa Jadi Ketum PPP

SERIKATNEWS– Keluarga besar Generasi Muda Ka’bah Wilayah D.I Yogyakarta mendeklarasikan dukungan kepada H. Suharso Monoarfa menjadi Ketua Umum PPP periode...

Hukum1 hari ago

KPK Resmi Tetapkan Edhy Prabowo sebagai Tersangka Suap

SERIKATNEWS.COM – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo sebagai tersangka kasus suap. KPK menyita...

Hukum1 hari ago

Diduga Korupsi Ekspor Benur, Edhy Prabowo Ditangkap

SERIKATNEWS.COM – Penyidik senior KPK Novel Baswedan turun tangan dalam aksi penangkapan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Edhy Prabowo. Dalam...

News2 hari ago

Projo: Jangan Takut Memilih di Pilkada 2020, Taati Protokol Covid-19

SERIKATNEWS.COM – DPP Projo menyerukan kepada masyarakat agar menyambut Pilkada 2020 dengan bersemangat. Sekretaris Jenderal DPP Projo Handoko mengatakan masyarakat...

Populer

%d blogger menyukai ini: