Manokwari

122
manokwari

Aku suka warna kulitmu
Aku suka rambutmu
Aku suka gaya bicaramu
Kamu juga berkata yang sama tentangku
Aku senyum saja, karena aku tahu sesungguhnya kita ini sama, kita ini satu.

***

“Kulit kakak putih sekali,” katamu.

“Kayak es krim vanilla,” kata Steve.

Ha ha.. yang lain ketawa. “Kalau es krim enak bisa dimakan,” kata Reno.

Ucapan adalah Doa. Tiba-tiba penjual es krim Campina lewat dengan musiknya yang nyaring. Semua teriak “Es kriiiiiim….!” Tiba-tiba juga semua berbalik melihat ke arahku yang masih kaget dengan kebetulan itu. “Eh iya, es krim, serbuuuuuu…..,” jawabku tergagap.

Kita belasan orang dengan adik-adik bayi yang tak ikut-ikutan makan es krim berebut mengambil varian favorit masing-masing. “Yesss aku dapat cokelat”, teriakmu. Kita semua membentuk lingkaran dan menikmati es krim bersama. “Ugghhh jorok siapa yang buang bungkus es krim sembarangan?” teriakku. Mama Yohana melirik dari jauh. “Reno, kau buang itu ke sampah!” Ha ha.. kita semua menyoraki Reno yang setengah terpaksa mengambil bungkus es krim dan membuangnya ke tempat sampah. Tertawamu paling keras, jangan-jangan kamu dan Reno…? Eaaaaa kamu tersipu ketika aku sikut lenganmu. Senyummu membentuk garis lengkung yang ditopang sempurna oleh rahangmu yang tinggi. Cantik.

Mama Yohana menyodorkan roti abon yang aku bawa dari kota. “Ah tidak, itu untuk Mama.” “Makanlah, biar gemuk sedikit.” Baiklah, langsung aku lahap. Lezat.

“Kakak Islam bukan?” tanyamu.

“Iya, kenapa?” jawabku.

Kamu menoleh ke arah teman-teman. Steve menangkap sinyal itu, dia melanjutkan pertanyaanmu yang belum terlontarkan. Gokil, enak sekali roti ini. Aku tetap asyik mengunyah.

“Kakak, roti abon itu kan ada babinya”, kata Steve setengah berbisik. “Orang Islam tak boleh makan babi, kan?”

Baca Juga:  Surat Cinta untuk Kemendikbud

Kini semua mata memandangku. Lebih tepatnya, melotot ke arahku. Menunggu reaksiku. Muntahkah? Aku tempel ibu jariku ke bibir, dan aku jawab, “shhhht, don’t tell…!”

Semua tertawa terpingkal-pingkal. Tak menyangka jawabanku akan seperti itu? Dasar kalian jahil.

Angin Manokwari sore itu dingin sepoi-sepoi. Rudy, kameramenku yang baru selesai memindahkan gambar dari kamera ke laptopnya sambil ditemani mama-mama mengajakku kembali. Hotel Mansinam sekitar 15 menit dari sini. “Yuk kita group shot dulu”, kata Rudy menutup kebersamaan kita sore itu. Dan inilah fotonya, foto 6 tahun lalu. Maria, di mana pun kamu berada, pasti kamu sudah tumbuh dewasa dan semakin cantik saat ini. Aku masih ingat tingkahmu yang lucu.