Connect with us

Cerpen

Time

Published

on

Ilustrasi: (Dok, Istimewa)

Time, flowing like a river

Time, beckoning me

Who knows when we shall meet again

~Alan Parsons

***

Sudah dua hari Riani terkapar di RS Moewardi, Solo, karena sakit DBD selepas pulang dari NTT. Ia menolak dirawat di Jakarta. Ia sedang menghindari seseorang. Ia matikan TV yang membuat resah itu.

“Kenapa dimatikan?” protes pasien di sebelahnya yang dirawat juga karena DBD. Ia tak bisa dapatkan ruangan VIP karena rumah sakit penuh. Rumah sakit di mana-mana penuh, menempati kamar kelas 1 yang berisi 2 tempat tidur sudah amat sangat beruntung, kata petugas administrasi dengan wajah tanpa ekspresi ketika Riani daftarkan diri.

“Kita tidur saja, Oma, istirahat. Nanti sore suster datang untuk mandikan kita, kan?” jawab Riani. Tak terdengar balasan dari pasien sebelah yang usianya 60 tahunan itu.

Riani kembali cek percakapan WA Group kantornya. Yuke, yang pulang sama-sama dari Kupang belum jelas juga nasibnya. Di pesawat pulang menuju Jakarta, Yuke sudah mengeluhkan sakit. Badannya demam, kakinya gemetar, wajahnya pucat. Setelah istirahat sehari di rumah indekos dan minum Panadol sakitnya tak mereda. Pergi ke RSUD Bekasi, dokter bilang bukan DBD. Trombositnya normal, leukosit tinggi. Kemungkinan leukemia atau ada virus. Tetapi virus apa? Dokter belum bisa memastikan. Hanya menuliskan resep Ibuprofen. Yuke diminta kembali dalam tiga hari jika masih sakit.

“Rasanya lemas banget, Ri. Batuk kering terus menerus, dada sesak, sempat diare juga semalam,” cerita Yuke kepada Riani melalui telepon pagi tadi.

“Ke, tanda-tanda sakitmu mirip gejala Corona. Sebelum kita ke Kupang kan kamu dari Bali. Di Bali sudah ada pasien positif,” jawab Riani. Tanpa bermaksud menakut-nakuti.

Akhirnya siang itu juga dari hasil diskusi WAG, beberapa teman kantor menjemput Yuke di rumah indekosnya, lengkap dengan berbagai alat pelindung diri. Masker, sarung tangan, goggles, dan jas hujan!

Baca Juga:  Delia

“Ini demi kebaikan bersama, Ke,” kata salah satu teman yang menjemput. Ibu indekos melihat dari balik jendela ruang tamu, bersiap menyemprotkan cairan disinfektan di kamar Yuke dan menyiramkan Porstex sampai pagar.

 

Keesokan harinya.

Yuke menceritakan semua yang dialaminya pada Riani. Bertemu kembali dengan dokter di RSUD Bekasi, ia dirujuk ke RS Persahabatan, rumah sakit untuk pasien yang menunjukkan gejala Covid-19. Sesampainya di IGD rumah sakit, petugas memintanya mengantre belakangan karena protokol penanganannya beda. Setelah antrean habis, petugas menanyakan keluhannya, mengukur suhu tubuhnya, dan menyodorkan kertas yang berisi daftar gejala Covid-19 yang kemungkinan dialami. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Yuke mencentang semuanya.

Setelah menunggu lagi, tanpa memeriksa terlebih dulu, seorang petugas berpakaian tertutup dan masker memberikan resep obat dan memintanya pulang. Menurut petugas, ini bukan Covid-19 melainkan virus biasa, dan memang efek kena virus seperti yang dialami Yuke. Ia diresepkan obat batuk, generik. Apakah benar ia hanya batuk? Dan negatif dari Coronavirus Disease?

“Syukur deh, mudah-mudahan kamu beneran negatif.”

“Semoga. Tetapi bagaimana aku bisa yakin kalau tidak melewati test, Ri?”

“Yang penting kamu karantina mandiri dua minggu. Makan yang sehat, jangan mikir yang tidak-tidak. Reaksi anak-anak indekos bagaimana?”

“Sepi, sepertinya pada pulang kampung. Sebagian memang diliburkan dari kantornya, yang lain mungkin menghindari aku.”

“Ya sudah, kamu sabar yaa.”

“Kamu juga ya, Ri, cepat keluar dari rumah sakit. Menuh-menuhin saja. Hahaaa.”

Keduanya menutup telepon dengan senyum lebar.

Sebuah hiburan antar dua anak manusia yang sedang menghadapi sakit seorang diri. Dua anak manusia yang selama ini mendedikasikan dirinya untuk mengajar anak-anak dari keluarga tak mampu di seluruh Indonesia melalui gerakan Mengajar Anak Negeri yang mereka inisiasi. Biaya operasional mereka dapatkan dari kerja sama CSR perusahaan-perusahaan BUMD. Riani memilih dirawat di Solo, lokasi kantor cabang Mengajar Anak Negeri setelah Jakarta.

Baca Juga:  Merdeka?

Riani kembali menyalakan TV untuk melihat perkembangan terkini Covid-19. Rush bahan-bahan pokok di sejumlah supermarket di Jakarta masih menjadi tajuk utama pemberitaan. Masker, hand sanitizer, dan cairan-cairan disinfektan dilaporkan langka. Kalaupun ada, harganya selangit. Begitu juga di toko-toko online. Jika pemerintah menggelar operasi pasar untuk mengendalikan harga atau bahkan sweeping penimbun barang-barang yang sekarang dianggap pokok itu, kenapa tidak dilakukan juga di toko-toko online, pikir Riani.

Suster memasuki kamarnya. Mengecek suhu tubuhnya dan mengganti cairan infus. “Sebentar lagi dokter datang untuk visit ya, Bu,” ujarnya seraya merapikan tirai pembatas, kemudian berpindah ke pasien sebelah. Terdengar komunikasi suster dan Oma dalam bahasa Jawa. Riani tak mengerti maksud mereka. Ia mulai asyik membaca artikel lawas sejarawan Colin Brown tentang Flu Spanyol. Jangan salah, meski namanya Flu Spanyol sesungguhnya virus ini berasal dari Cina. Awal mula Flu Spanyol muncul dan menjadi pandemi mirip dengan peristiwa saat ini. Pemerintah lambat merespons. Padahal Flu Spanyol telah menelan jutaan korban di Eropa dan Amerika. Bahkan, karena disangka sebagai penyakit kolera, semua orang dengan gejala Flu Spanyol diberikan obat kolera. Tak menyembuhkan, justru merenggut nyawa. Hanya dalam kurun waktu 4 bulan, terjadi 900.000 kematian. Seorang dokter harus menangani 800 pasien pada masa-masa mencekam itu. Alhasil, dokter dan tenaga medis berjatuhan, menjadi korban. Setidaknya 1,5 juta orang meninggal dunia.

Beberapa perawat tergopoh memasuki kamar Riani. Heh, ada apa ini? Kenapa mereka berpakaian astronaut lengkap begini? Mereka memindahkan Oma?

“Sus, maaf mau dibawa ke mana? Sus?” pekik Riani. Tak ada yang menjawab. Ia hanya melihat dari celah tirai hijau muda yang memisahkan tempat tidurnya dengan tempat tidur Oma. Pikirannya berkecamuk. Apakah Oma pasien Covid-19? Bagaimana dengan aku? Apakah aku tertular? Oh tidak, Dokter Agus Dwi Susanto, Ketua Perhimpunan Dokter Paru dalam dialog TV mengatakan penyakit itu hanya menular melalui droplet, bukan udara. Tetapi tetap, Riani khawatir akan dirinya. Benarkah ia hanya sakit demam berdarah? Dan Yuke, apa kabar anak itu?

Baca Juga:  Kyai Sanusi

***

Tiga minggu berlalu, Riani kini berpindah ruang perawatan, ke ruang isolasi. Sakitnya terus memburuk. Cek darah, cek paru, cek cairan dari tenggorok, cek cairan dari batang hidung hingga berulang kali. Lehernya sakit, susah menelan untuk minum sekalipun. Ia juga merasa aneh dengan indra penciumannya. Lotion perawat yang merawatnya, seprai yang baru diganti, cairan-cairan obat, semprotan disinfektan, apa pun itu ia tak lagi dapat membaui.

Hari-hari seolah terlewati dengan cepatnya. Ia selalu mengantuk dan bermimpi. Yuke, ia terus memikirkan sahabatnya itu. Sudah lama ia tak mendengar kabar dari Yuke. Apakah ia positif Covid-19? Bagaimana pemilik indekos dan teman-teman indekosnya? Bagaimana jika ia dikucilkan atau bahkan diusir karena stigma? Kembali ia teringat akan tulisan Colin Brown. Apakah dunia tengah kembali ke tahun 1918? Saat di mana semua negara berlomba dengan kecepatan virus dengan kebrutalannya yang destruktif itu? Dan nyawa manusia satu persatu menjelma menjadi deretan angka-angka statistik?

Advertisement
Advertisement

Terkini

News29 menit ago

Program Kartu Prakerja Sudah Jalani Audit Inspektorat Kementerian, BPK, BPKP, hingga Taati Saran KPK

SERIKATNEWS.COM – Pelaksanaan Program Kartu Prakerja telah menjalani audit, reviu dan evaluasi oleh Inspektorat Jenderal Kemenko Perekonomian, Inspektorat Jenderal Kementerian...

Ekonomi39 menit ago

Program Kartu Prakerja Atasi Tiga Masalah Utama Ketenagakerjaan Indonesia

SERIKATNEWS.COM – Kondisi ketenagakerjaan Indonesia sebelum masa pandemi Covid-19 ditandai dengan tiga hal yang sangat menonjol. Yakni, rendahnya produktivitas kerja,...

News59 menit ago

Kesiapan UGM Sambut Peserta CBT UM

SERIKATNEWS.COM – Sebanyak 36.470 peserta mengikuti Computer Based Test Ujian Masuk Univeritas Gadjah Mada (CBT-UM UGM) 2021 hari pertama yang...

News21 jam ago

Brigjen Pol Sukawinaya Jabat Sestama BNN, JARRAK: Sosok Penuh Prestasi

SERIKATNEWS- Sebanyak 12 pejabat Badan NarkotikaNasional (BNN) RI yang terdiri dari pimpinan tinggipratama, administrator, dan penyidik madya dilantiksekaligus melakukan sumpah...

News22 jam ago

PLN Apresiasi Ditjen Minerba dan 48 Pemasok Batu Bara Jaga Keandalan Listrik 

SERIKATNEWS.COM- PLN mengapresiasi dukungan pemerintah dan 48 mitra pemasok batu bara dalam penyediaan bahan bakar pembangkit demi menjaga keandalan pasokan...

News1 hari ago

Sanggar Belajar: Tingkatkan Semangat Literasi Desa melalui Edukasi Alternatif

SERIKATNEWS.COM- Pemuda Jatiurip menyelenggarakan edukasi Alternatif dunia literasi. Program Dunia literasi yang dijalankan ini sesuai dengan program Karang Taruna Desa...

Olahraga1 hari ago

Dukung Ajang PON XX di Papua, PLN Siapkan Perkuatan Keandalan Listrik 

SERIKATNEWS.COM- PLN siap menyukseskan gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua yang akan digelar Oktober mendatang. Progres pekerjaan kelistrikan untuk...

Populer

%d blogger menyukai ini: