Tragedi Lennie

17

George menarik pelatuk pistol tepat di belakang kepala sahabat paling setianya, Lennie. Tangan George gemetaran hebat, tapi wajahnya tenang. Lennie rubuh perlahan-lahan dan tergeletak tanpa menggigil.

Nobelis John Steinbeck kelahiran Salinas, California, Amerika Serikat mengakhiri novel klasik ” Of Mice and Men” dengan sangat tragis. Karya paling brutal, memotret kehidupan petani migran di kawasan pertanian Salinas. Novel yang menikam tepat di jantung.

George dan Lennie bersahabat sangat dekat. Keduanya sangat kontras, bagaikan bumi dan langit. George bertubuh kecil, berperawakan kuat, bergerak sigap, bermuka gelap, matanya gelisah, dan menatap tajam. Lennie berbadan besar, bermata besar, pucat, pundaknya lebar, dan gampang lupa apa saja.

Si lelaki bertubuh besar ini berjalan dengan langkah berat, menyeret kaki seperti cara beruang menyeret cakar-cakarnya. Dia selalu membunuh tikus yang ia temui di sungai dan jalanan.

George suka memuntir kepala tikus dan menyimpan tikus mati dalam gengaman tangan. “Tikus-tikus itu sangat mungil. Aku mengelus-elusnya dan langsung saja tikus-tikus itu menggigitku. Jadi kucubit kepalanya sedikit,” kata Lennie.

Kawan karib itu bertahan dalam kerasnya hidup sebagai buruh pertanian dan peternakan. Cita-cita mereka sederhana punya sepetak tanah yang bisa mereka tanami dan beternak. Lennie selalu bercita-cita bisa memelihara kelinci.

Ke mana pun George pergi, Lennie selalu mengikutinya. George senantiasa melindungi sahabatnya dari berbagai marabahaya. Misalnya ketika George diancam Curley, anak seorang bos tanah pertanian.

Lennie suka mendengar cerita George. Kepada Lennie, George bilang “Orang-orang seperti kita, yang kerja di pertanian adalah manusia paling kesepian di dunia. Mereka nggak punya keluarga. Mereka nggak punya tempat tinggal di mana pun. Mereka kerja di pertanian untuk mencari nafkah. Lalu pergi ke kota dan membelanjakan seluruh uang mereka. Tahu-tahu yang kita lihat mereka lagi di pertanian lain. Mereka nggak punya apa-apa untuk masa depan.”

Baca Juga:  Amazon dan Orang-orang yang Kalah

Lennie senang dengan cerita itu. George meneruskan ceritanya. “Kita nggak seperti itu. Kita punya masa depan. Kita punya seseorang yang bisa diajak bicara, yang sayang setengah mati pada kita. Kita nggak perlu duduk-duduk di bar bermain kartu karena nggak punya tempat tujuan lain. Kalau mereka dijebloskan ke penjara mereka membusuk di sana karena nggak ada seorang pun yang sayang setengah mati pada mereka.”

Lennie menyela. ” Tapi kita nggak seperti itu! Kenapa? Karena aku punya dirimu untuk menjagaku, dan kau punya diriku untuk menjagamu.”

Persahabatan tulus yang terus terjaga. George selalu mewanti-wanti Lennie untuk berhati-hati dan tidak membuat masalah saat mereka bekerja sebagai buruh pertanian.

Tapi, Lennie kembali terjerat masalah. Suatu hari isteri anak bos, Curley mendekati Lennie. Dia ingat pesan George untuk tidak dekat-dekat isteri Curley yang kesepian. Tapi, isteri Curley tetap memaksa Lennie.

Dalam suasana panik, Lennie dipaksa memegang kepala isteri Curley. Perempuan itu menjerit histeris dan Lennie kalut. Dia mematahkan leher perempuan. Lennie lalu menutupi jasad isteri Curley dengan jerami.

Curley dan orang-orang pertanian mengejar Lennie. Membawa senapan dan menunggang kuda Curley dan rombongan mengejar Lennie. Curley bersumpah akan mengeluarkan seluruh isi perut melalui senapannya.

Bayang-bayang lembah biru Salinas dan malam datang secara cepat. George meminta Lennie melihat ke seberang sungai. “Kita akan punya sebuah tempat kecil. Kita akan punya sapi. Dan kita mungkin akan punya babi dan ayam.”

George mengambil pistol luger dari sakunya, mengarahkan ke belakang kepala Lennie. Georgw mematung di tepi sungai dan menatap tangan kanannya yang barusan melemparkan senjata itu.

John Steinbeck merupakan pengarang yang mempengaruhi pikiran-pikiran saya. Dari Steinbeck saya mengenal nestapa manusia yang hidup dalam kemiskinan, frustasi, depresi, dan pilihan-pilihan yang sulit.

Baca Juga:  Sarjana sebagai Agen Perubahan

Steinbeck juga mengajarkan persahabatan orang-orang yang lemah atau tak berdaya.
Suatu hari dalam sebuah kesempatan wawancara pekerjaan, seorang pewawancara bertanya kepada saya. Siapa penulis yang paling berpengaruh terhadap kamu?

Kepada dia, saya menjawab: Steinbeck. Saya sedang membaca The Grapes of Wrath saat itu. Suatu ketika, saya memasukkan sebuah kutipan karya Steinbeck yang relevan dengan cerita yang saya tulis dalam pekerjaan saya.

Waktu itu sempat berpikir keras sebelum memasukkan kutipan Steinbeck. Jangan-jangan kutipannya terlalu berlebihan dan tidak begitu pas dengan tulisan. Akhirnya saya memasukkannya. Agak malu, tak usahlah kutipannya disebut di resensi ini.

Novel klasiknya, The Grapes Of Wrath, menggambarkan penderitaan buruh pertanian Amerika selama The Great Deppresion. Dari novel inilah saya mengerti kapitalisme yang amat mengerikan.

Steinbeck yang lahir pada 1902 banyak menggunakan tanah kelahirannya sebagai latar karya-karyanya. Dia menghabiskan waktunya sebagai buruh kontrak di peternakan saat dia remaja. Karyanya banyak berkisah tentang buruh miskin yang berkelana dengan latar ekonomi Amerika Serikat yang terpuruk setelah Perang Dunia I.

Pengangguran terus meningkat. Ratusan ribu petani bermigrasi ke California yang tampak sebagai tanah impian. Para petani migran kerap dihina. Penduduk asli California menganggap mereka menambah kemiskinan. John Steinbeck memenangkan Hadiah Nobel Sastra pada 1962.